05 July 2017

SAYA TERSINGGUNG, BUN (Melatih komunikasi dua arah Ibu dan Anak)



"Saya tersinggung, Bun"
Demikian ucapan Nanit suatu malam. Dia bercerita bahwa dia tersinggung pada saya karena mengangkat guru baru dan mengabaikannya.

"Nit, Bunda tidak mengabaikan Nanit justru membantu Nanit menemukan guru yang akan membuat Sekolah Gratis semakin ramai dengan ilmu. Guru baru kita udah kelas 2 SMP, sudah hafal 1 juz, dan sangat energik. Anak-anak akan belajar banyak darinya." ujar saya menjelaskan pada Nanit.

Nanit terdiam...
Lalu dia mendekati saya, "Oooh aku paham, aku salah sangka, aku kita Bunda mau menggantikan peranku sebagai guru dengan guru baru itu." sahutnya sambil memeluk saya
"Maafkan Nanit ya, Bun, sudah salah sangka sama Bunda." 

Kejadian tadi malam membuat saya terharu luar biasa, Nanit sudah semakin mampu menjabarkan perasaannya tanpa sungkan.

KOMUNIKASI DUA ARAH memang sengaja saya terapkan di rumah. Senang, marah, tersinggung, atau perasaan apapun wajib untuk dishare langsung pada orangnya.

Bagaimana komunikasi dua arah ini saya latih pada anak-anak? 

Pertama, Saya mulai dari diri sendiri dulu dengan selalu mengatakan perasaan saya pada anak
"Bunda sedih karena hari ini Nanit tidak menuruti Bunda..."
"Bunda lagi kecewa sama Ammar karena Ammar tidak tepat waktu sholatnya"
Perasaan seperti ini saya share pada anak-anak dan mereka akan berusaha menyelami perasaan saya

Kedua, Mengakhiri curhat saya dengan pelukan
"Boleh nggak Bunda dapat pelukan untuk mengurangi kesedihan?"
Bagian pelukan ini paling saya dan mereka sukai, perasaan menjadi lebih plong

Ketiga, Memberikan masukan pada setiap langkah anak
"Menurut Bunda, boleh saja sih Nanit melakukannya asal Nanit tahu alasannya dan kebaikan lebih besar daripada negatifnya. Kalau menurut Nanit bagaimana, langkah yang akan diambil sudah pas nggak?"
Memberikan masukan dan memberikan pertanyaan langkah yang diambil anak artinya mengajak anak berpikir.

Keempat, Menerima saran dan kritik anak pada saya
Seperti kemarin, dalam perjalanan ke sebuah lokasi saya mengajak anak-anak bernyanyi sekolah gratis, Nanit berkata, "Bunda please, jangan nyanyi terus." Hahahahaha
Dan saya sepakat ini adalah kritik Nanit pada Bundanya yang ekspresif

Kelima, Mengatakan pada anak bahwa ibu dan ayahnya siap mendengarkan apapun curhatnya sebagai sahabat baik
"Kalau Nanit dan Ammar mau ngomong apapun boleeeeh banget, kasih Bunda dan Ayah kritik dan saran juga yaaaa.."

Keenam, Setiap ada kesempatan, saya selalu bertanya pada anak-anak
"Apakah hari ini bahagia?"
"Apakah hari ini sedih?"
"Apa yang membuatmu bahagia?"
"Apa yang membuatmu sedih?"

JIKA TADI MALAM si sulung Nanit berani mengatakan bahwa dia tersinggung, artinya dia sudah semakin terbuka dan percaya pada Bundanya...

Selamat membangun komunikasi dua arah ya, Bun....

No comments: