13 November 2017

Lagi, Kekerasan dalam Rumah Tangga Berakibat Fatal

Beberapa waktu belakangan mata dan telinga kita dijejali dengan pemberitaan yang sangat tragis. Tentang bagaimana kekerasan dalam rumah tangga seakan menjadi tontonan gratis dari seluruh pasang mata orang di berbagai belahan dunia.

Tragedi yang melibatkan pasangan suami istri ini berawal dari cekcok dan berakhir dengan penembakan pada tubuh sang istri oleh sang suami. 

Innalillahi...

Menurut beberapa sumber menyebutkan si isteri yang berprofesi sebagai dokter, meminta cerai kepada suaminya lantaran tidak kuasa menanggung kekerasan yang acap kali diterimanya. Rumah tangga yang telah dibina selama 5 tahun itu berakhir dengan 6 buah peluru yang menembus tubuh dokter Letty Sultri (46).

Sungguh miris...

Bahwa apapun permasalahannya yang terjadi di dalam rumah tangga, kekerasan bukanlah sebuah solusi cerdas. Alih-alih berniat menyelesaikan, namun yang terjadi adalah petaka.

Fenomena kekerasan dalam rumah tangga hampir setiap hari terbit di hadapan kita. Yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan klasik adalah mengapa hal tersebut bisa begitu mudah terjadi?

Tentu ada faktor-faktor yang melatari adanya unsur kekerasan dalam keluarga.

Mari kita lihat apa saja faktor-faktor yang menjadi landasan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga tersebut;

Berbicara keras dan menyakitkan. Perilaku seperti ini sungguh tidak ada yang norma apapun yang memperbolehkan dan mendukungnya. Terlebih dalam hubungan kasih sayang antara pasangan suami dan isteri. Intonasi yang keras serta makna yang terkandung dalam pembicaraan yang menyakiti tentu saja akan menimbulkan reaksi negatif terhadap lawan bicara. Tak jarang berujung pada percekcokan dan memancing pertengkaran.  

Kurangnya kontrol kesabaran antara kedua belah pihak. Rumah tangga adalah gudangnya masalah. Tidak ada sebuah rumah tangga yang adem ayem tanpa masalah. Sebab proses penyatuan dua orang yang berbeda latar belakang mengarungi bahtera pernikahan pasti akan memiliki kendala. Namun, kesalahan yang terjadi dalam rumahtangga sebaiknya bisa di minimalisir dengan memberi luasnya kesabaran. Sabar dalam arti kata, tidak terburu-buru memutuskan suatu perkara. Menjadi pribadi yang semakin bijaksana dalam berpikir dan bertindak adalah sebagai bukti kedewasaan menempa diri dalam hidup berumah tangga.

Faktor ekonomi yang terkadang turun naik. Ekonomi sering menjadi kambing hitam pertengkaran yang pada akhirnya melibatkan kekerasan dalam rumahtangga. Ketika perekonomian dirasa belum mapan, sementara tuntutan hidup sangat tinggi maka timbullah masalah.

Kurangnya terjalin komunikasi yang terbuka. Tolok ukur keberhasilan pasangan dalam memecahkan masalah rumah tangga ialah komunikasi yang terbuka. Suami dan istri adalah partner hidup yang akan bersama sepanjang hayat di kandung badan. Maka sudah selayaknya komunikasi harus menjadi tali pengikat kedua ego yang disahkan oleh Tuhan. Apapun permasalahan yang timbul dalam rumah tangga, mesti di komunikasikan secara terbuka agar lebih saling memahami satu sama lainnya.

Dalam banyak kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), pelakunya kebanyakan berasal dari pihak laki-laki. Seperti halnya kasus yang dialami oleh dokter Letty diatas. Dan berakibat fatal, yakni menimbulkan korban jiwa.  

Tentu semua kita akan mengecam tindakan yang telah diambil oleh pelaku KDRT, apapun bentuknya baik kekerasan fisik maupun verbal. KDRT merupakan permasalahan yang sering terjadi didalam rumah tangga. Oleh sebab itu harus dilakukan pencegahan sejak dini. Salah  satunya dengan pengamalan ajaran agama di rumah tangga yang juga menjadi kunci sukses untuk mencegah terjadinya mencegah terjadinya KDRT.

Marilah wahai para perempuan, kita saling menasehati untuk menjadikan “Rumahku Istanaku”. Karena betapa pun keadaan sebuah rumah, rumah harus menjadi tempat yang memberi kehangatan, ketenangan, kedamaian, perlindungan dan kebahagiaan kepada seluruh anggota keluarga.





No comments: