21 August 2017

PAPA, MAMA, TOLONG DENGARKAN PENDAPATKU... (Ketika Anak Ingin Dunianya Dipahami Orangtua)



Banyak kasus yang beredar tentang bagaimana orangtua "GAGAL" memahami keinginan anak-anaknya. Akhirnya mereka harus melakukan berbagai hal sampai kita, sebagai orangtuanya paham sianak ternyata menginginkan sesuatu. 

Separah itukah peran kita sekarang sebagai orangtua yang dititipkan Allah amanah yang luar biasa pertanggungjawabannya?

ANAK JUGA MEMILIKI HAK YANG SAMA DENGAN ORANG DEWASA.
Yaitu : Hak untuk didengarkan pendapatnya...
didengarkan suara hatinya... keinginannya...
apa yang dia mau...

Sudah berapa lama kita sebagai orang tua mengacuhkan suara anak?
Adakah tidak terpikir oleh kita betapa ter-kebiri haknya oleh kita orang tuanya?
HAK AZASI yang kita gaungkan nyatanya, kita abaikan. Bahkan pada anak sendiri!

Menurut psikolog, berpendapat dan didengarkan bagi anak sangat penting. Karena seringkali orangtua tidak mampu menerjemahkan bahasa anak dan malah bahkan bersikeras menggunakan bahasa sendiri dalam mendidik anak. Padahal bahasa anak jauh berbeda dengan bahasa orangtua.

BAHASA ANAK, IALAH DUNIA ANAK. Disinilah dituntut “kecerdasan dan kepekaan” orangtua untuk berkomunikasi dan pandai-pandai "mengambil" hatinya. Misalnya, ia perlu diminta pendapatnya acara akhir minggu keluarga mau pergi kemana walaupun usianya baru 7 tahun.

Yang terpenting, tidak terus-menerus mengikuti maunya si anak. TETAP HARUS ADA FILTER, mana yang berdampak positif dan negatif bagi diri si anak.

Memahami bahasa anak, berarti MENJALIN KOMUNIKASI DUA ARAH. Dimana anak berpendapat dan orangtua mendengarkan begitu pun sebaliknya.

Ketika kita mendengarkan pendapat anak, secara tidak langsung MENINGKATKAN CITRA DIRINYA MENJADI POSITIF.

Bahwa ia diakui keberadaanya walaupun masih kecil...
Dan ia tahu, ia seorang anak yang berharga...
Di sisi lainnya, terbiasa mengeluarkan berpendapat akan meningkatkan rasa percaya dirinya dalam menghadapi dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas.

Didikan orang tua adalah penentu keberhasilan anak di masa depan.

No comments: