27 February 2014

Mengubah Perempuan dari Dapurnya

Taman Vertikal
 Pertemuan demi pertemuan dengan para perempuan semakin melecut saya untuk memperbaiki diri dan langkah yang akan ditapaki. Perempuan itu hebat! Dia yang lemah bisa menjadi sangat kuat, dia yang ringkih menjadi sangat kebal, dia yang sensitif bisa sangat berempati. Kuncinya hanya satu yaitu mau terus belajar dan berproses ke arah kebaikan melalui masalah yang menghadangnya.
Berbicara masalah demi masalah ternyata bisa dengan mudahnya diselesaikan jika semua perempuan bergerak ke arah sana. Seperti yang digaungkan oleh Bandung, “ubah bandung bukan dengan caci maki tapi solusi.” Maka dari sinilah saya merasa hidup saya berawal.
 
Saya merasa sangat peduli dengan Bandung, merasa peduli dengan masa depan kami, dan peduli pada setiap persoalan yang ada. Tugas saya kemudian adalah mengubah diri sendiri sebelum mengubah sekeliling saya.
 
Saya tidak enjoy dengan kritik yang disebarkan ke sekeliling, apapun persoalan yang ada. Saya lebih enjoy melakukan aksi nyata mengubah diri dari hal yang paling kecil salah satunya adalah sampah.
Dalam satu pertemuan, seorang kawan mengatakan, “saya pernah dan sering disms pada saat bencana banjir datang. Bunyinya begini; pemerintahan tidak becus mengurusi sampah. Kami kini kebanjiran karena sampah. Kalau saya mendapatkan sms ini, saya pasti marah. Seharusnya sms itu berbunyi, kami kebanjiran gara-gara sampah yang kami buang sembarangan. Kami akan mulai membersihan sampah dan membuang sampah pada tempatnya agar tidak ada banjir lagi.”
 
Persoalan sampah tanggungjawab kita semua. Bukan siapa yang paling bersalah, tapi kita yang memulai penumpukan sampah terjadi dimana-mana dan menjadi sumber bencana.
Keinginan untuk mengubah suatu wilayah amat tidak mungkin, yang harus kita ubah adalah diri kita sendiri, dari hal yang paling mungkin kita lakukan yaitu membuang sampah pada tempatnya. Bukan di bawah jok kursi angkot, bukan di jalanan, bukan di pojokan komplek, bukan di kali, bukan di sungai, bukan ditumpuk di suatu lokasi, bukan, bukan disana tempatnya sampah.
 
Kita bisa memulai dari dapur kita, wahai perempuan. Memilah sampah basah dan sampah kering, mengumpulkannya, membuatnya lebih berguna. 65% sampah di dunia ini berasal dari dapur rumah, dimana perempuan adalah managernya. Bayangkan jika semua dapur menggunakan pengolahan sampah yang benar, maka 65% gundukan sampah menyusut sudah bahkan bisa jadi 99%nya.
 
Maka, mengubah masalah sampah bisa dimulai dengan mengubah perempuan dari dapurnya, bagaimana mereka mengolah sampahnya. Terutama, mengubah diri saya terlebih dulu bagaimana mengolah sampah dengan baik untuk kemudian meneruskan virusnya pada perempuan terdekat di lingkungan saya dan virus itu terus menyebar dari satu perempuan ke perempuan lainnya.
Untuk para perempuan penggiat lingkungan dalam hal pengolahan sampah, salam takjub untukmu. Izinkan saya mengikuti langkahmu!

No comments: