21 August 2017

Ayah, Lindungi Anakmu dari Kekerasan Seksual (Pentingnya peran ayah dalam mengatasi dan meminimalisir kekerasan seksual pada anak)



Tayangan di layar kaca dan pemberitaan-pemberitaan di koran seringkali mengenai berita kriminal yang sadis. 

Tindak KEKERASAN SEKSUAL yang menimpa anak dan perempuan sepertinya tidak pernah mereda. Walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan untuk MELINDUNGI anak dan perempuan. Karena pelaku tidak diberikan efek jera. Hukum yang berlaku seringkali terbatas pada dijebloskannya pelaku kedalam penjara.

Padahal resiko TRAUMA yang DIALAMI KORBAN PASCA TINDAKAN KEKERASAN SEKSUAL ITU BERLANGSUNG SEUMUR HIDUPNYA!

Trauma itu terkadang di kemudian hari diperparah dengan adanya STIGMA di masyarakat yang seringkali menempatkan korban pada posisi yang salah.

Padahal TIDAK ADA SATUPUN ANAK yang MAU dan RELA TUBUHNYA DIJADIKAN ALAT PEMUAS NAFSU ORANG LAIN. ITU SANGAT MELANGGAR HAK ASASI.

Kondisi kekerasan itu terjadi dimana korban TIDAK diberikan pilihan. Agak miris rasanya mendengar jika pihak korban dianggap yang bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Apalagi ketika korban harus melaporkan kejadian dirinya, seringkali masyarakat setempat malah merasa keberatan karena malu dan dianggap aib. Tentu ini akan menambah trauma korban kekerasan seksual.

Lantas bagaimana tindakan yang mesti dilakukan terhadap anak yang mengalami kekerasan seksual demi meminimalisir traumatis yang dialaminya?

PERTAMA. Pendampingan psikologis terhadap anak yang mengalami kekerasan seksual. Dengan harapan dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang bagaimana kronologis kejadian. Serta meningkatkan rasa percaya dirinya untuk melaporkan tindakan itu pada yang berwajib. Di samping itu lakukan upaya penyembuhan psikologis agar trauma tidak terlalu parah. Kebanyakan trauma yang terjadi adalah, anak bukan hanya membenci kejadian serta pelaku, tapi juga membenci dirinya sendiri. Tubuhnya dianggap sudah tidak berguna dan sebagainya.

KEDUA. Butuh dukungan penuh dari orang tua dan orang-orang terdekatnya. Proses penyembuhan psikologis dan mental korban sangat dipengaruhi oleh dukungan orang tua serta keluarga terdekat. Ada kemungkinan suatu saat korban akan bertemu kembali dengan pelaku. Memori kelam itu mampu menimbulkan reaksi ekstrim seperti balas dendam. Sebaiknya korban terus didampingi, tidak ditinggalkan sendirian dan dibesarkan hatinya. Kemudian diberikan motivasi untuk terus-menerus memandang hidup kedepannya. Masa lalu tidak mungkin dihapuskan dilupakan. Tapi setidaknya masih ada waktu yang Tuhan berikan untuk mengisi sisa hidup yang lebih baik.

KETIGA. Meningkatkan kewaspadaan bagi anggota keluarga yang terdiri dari anak-anak dan perempuan. Ajarkan mereka self defens. Bahwa tidak seorang pun berhak memperlakukan diri dan tubuh mereka dengan cara merampas HAK ASASINYA, seperti kekerasan seksual. 

Melihat kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak dan perempuan, maka disinilah dituntut peran ayah. Ayah sebagai pengayom dan pelindung keluarga. 

Wahai para ayah, mari lindungi anak-anakmu sejak dini dari "predator" yang membahayakan.

No comments: