24 July 2017

BULLY? LAWAN DENGAN PRESTASI! (Ketika Anak Memiliki Tekad Mengubah Ejekan Menjadi Pencapaian)



Ngomongin bully tak ada habisnya.
Setiap dari kita memiliki cara pandang berbeda bagaimana mengatasi bully, baik pada korban maupun pada pelaku.
Pembahasan ini juga yang tak pernah saya sampaikan pada anak-anak di Sekolah Gratis, Nanit, maupun Ammar.

KEMARIN...
Sepulang berkegiatan di acara Kementrian Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ayahnya Ammar cerita, Ammar dihukum di Sekolah karena berkelahi.
"Ammar mengatakan kalau dia didorong hingga jatuh deket pot bunga oleh temannya." ujar Ayah.
"TAPI, dia melawan, dia dorong kembali temannya hingga terjatuh dan ketahuan guru. Akhirnya mereka berdua dihukum" sambungnya.

BEGITULAH cara lelaki melawan, mereka bisa melakukan pembalasan dengan otot.
Ammar diajarkan oleh ayahnya untuk melawan setiap ada bully, namun terus menerus disampaikan melawan dengan cara lebih santun akan lebih melegakan.
"Aku akan mendorong lagi jika didorong! Kecuali kalau yang mendorong anak yang lebih kecil, atau perempuan, aku tidak akan melawan. Aku biarkan." tekad Ammar beberapa waktu lalu.
Pernah juga, suatu waktu saya dan ayahnya mengajak Ammar ke suatu toko, ada seorang anak sangat aktif, dia menendang Ammar, dan Ammar tidak membalas malah senyum, "Bun, aku tidak akan balas anak ini, biarkan saja, anak-anak ini kok." padahal Ammar waktu itu masih berusia 5 tahun hahaha.

KEMARIN MALAM menjelang tidur, saya kembali diskusi tentang bully dengan Nanit.
"Bully ada dimana-mana, apa yang akan kamu lakukan jika menerimanya?" tanya saya, sebetulnya pertanyaan ini sudah saya ajukan beberapa kali, tapi seiring waktu saya yakin bahwa Nanit akan memberikan jawaban yang berbeda karena pengetahuannya tentang bully semakin bertambah.
"Jika bully terjadi, AKU LAWAN DENGAN PRESTASI!" jawabnya.
NOTED!

Saya membayangkan ada di posisi yang dibully. EITS jangan salah, meski saya sudah dewasa bully pernah saya dapatkan dalam bentuk lain. MISAL:
Black campaign oleh segerombolan orang.
Fitnah dan ghibah yang berkepanjangan.
Penghinaan pada karakter dan profesi.
SAYA TAHU kejadian itu menimpa saya, sayangnya saya bukan termasuk orang yang suka membalas hal tersebut, paling banter saya duel satu-satu hahaha *duel itu lebih ke tabayyun ya.
TANPA perlu membela diri KARENA haters is haters, mereka akan selalu melihat kita dari sisi negatif tak peduli sepositif apapun yang dilakukan.
MAKA seperti halnya yang dikatakan Nanit, "BULLY? LAWAN DENGAN PRESTASI" merupakan tekad saya.

Setiap penghinaan akan jadi ribuan pencapaian.
Setiap pandangan sebelah mata akan jadi rangkaian prestasi berkepanjangan.
BULLY tak perlu membuat kita merasa tidak percaya diri KARENA sesungguhnya lebih banyak masalah pelaku bully justru berasal dari kurangnya percaya diri mereka sehingga mereka butuh pengakuan dengan MEMBULLY.

ANAK-ANAK berbeda dengan orang dewasa yang melakukan bully. Ada anak melakukan bully karena pergaulan, ikut-ikutan, lingkungan, kondisi di rumah, TAPI orang dewasa melakukan BULLY biasanya dengan sadar karena satu hal yang menggerakkannya atau memiliki tujuan tertentu, bisa bersifat persaingan bisnis, politis, hingga butuh pengakuan dari orang lain.
*innalillahi

HAL INI BERLAKU juga untuk anak asuh saya, Sandra yang ternyata sangat jarang sekolah karena tak mampu menghadapi bully teman-temannya, "aku dihina, dicubit, kadang dipukul" hasil dari tahun kemarin, Sandra dinyatakan tidak naik kelas dan kembali ke kelas empat. 

Saya memanggil Sandra dan menanyakan, "Siapkah kembali ke kelas empat? mungkin akan banyak mata memandangmu dengan sinis, mungkin saja. Mungkin akan ada bully dengan jenis lain, mungkin saja. TAPI, Bunda yakin kamu akan lebih hebat, Nak. Kita tunjukkan bahwa kamu sudah berubah, kamu sudah baik, dan kamu tidak takut dengan apapun kecuali Allah. Kamu harus lebih baik dan terus membaik. Siap lawan Bully? Bunda yakin kamu akan jadi anak hebat!" ujar saya sambil memeluknya.

Baiklah, Nak, MARI KITA LAWAN BULLY DENGAN PRESTASI!
Tertanda,
Ibumu
Untuk yang terkasih,
Nanit dan Ammar
Untuk yang sedang berjuang,
Sandra

No comments: