30 August 2005

Cerpen : Tentang Mencintai dan Dicintai

“ Saya lelah, Geam.” ujar Mel pada Geam.
“Maksudmu?” Geam bertanya dengan beberapa kerutan di dahinya.
“Saya lelah memintamu memberi kesempatan padaku. Memang perpisahan ini aku yang mengambil keputusan tapi apakah tidak ada waktu untuk kita saling berintroospeksi. Mengapa hanya aku yang salah disini?”
“Jadi kalau bukan kamu, aku yang salah atas semua ini.?”Geam balik bertanya.
“Kita berdua yang salah, dan aku ingin kita bisa bersama lagi untuk memperbaiki hubungan kita.”
“Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”
“Jadi kamu tidak mau menerimaku lagi dan memaafkanku?”
“Aku memaafkanmu.”
“Lalu, mengapa kamu gak mau menerimaku lagi dan memperbaiki hubungan kita.”
“Mungkin belum sekarang, aku sedang menikmati kesendirianku dan mengkonsentrasikan kegiatanku pada bisnis dan uang.”
“Lalu, bagaimana dengan aku?” tanya Mel memelas, airmata mulai turun.
“Terserah kamu.”
“Terserah aku! kamu tak mau menerimaku lagi tapi kita berhubungan lebih dari teman, apa maksudmu? Apa kamu ingin menyakitiku?”
“Terserahlah apa penilaianmu mengenai aku.Aku tak peduli”
Akhirnya Geam dan Mel tidak menemukan satu solusi pun pada perbincangan panjang malam itu, waktu telah terbuang percuma.
Dan hari-hari Mel dipenuhi dengan tangisan, ada berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dirinya. Perasaan penyesalan dan marah. Satu waktu Mel dapat memahami perasaan Geam yang terluka, di waktu lain Mel merasa Geam telah begitu egois padanya.
“Sudahlah, Mel. Lupakan Geam, lalui kembali harimu dengan penuh semangat.” Ken terus memompa semangan Mel yang terus memburuk.
“Aku hanya merasa kehilangan dia, dan marah karena dia tak mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri, aku malu Ken, aku malu pada keluargaku dan keluarganya, kami sudah saling mengenal.”
“Apakah kamu ingin bersama Geam lagi hanya karena alasan itu?”
“Yang jelas aku mencintai dan tidak ingin kehilangan dia.”
“Tapi kamu sekarang sudah kehilangan dia, sudah tak ada komitmen lagi antara kalian.” Ken berusaha menyadarkan Mel.
“Sebab itulah aku marah.”
“Sadarlah, Mel. Relakan Geam pergi semaunya. Jangan mau ditolak terus dong, sudah urungkan niatmu untuk bersamanya lagi, katakan pada dirimu kalau kamu berharga dan tak bisa menerima apa yang Geam lakukan padamu.”
“Geam tidak salah, Ken. Aku yang salah, aku yang telah memutuskannya.”
“Ya, kamu memutuskannya dan kamu pula harus mendapatkan sakit hatinya. Biarkan Geam tahu bahwa kamu tidak serapuh yang dibayangkan dia. Geam harus tahu bahwa penolakan-penolakannya justru membuat kamu terus maju.” Ucapan Ken membuat Mel makin terguncang, hatinya sakit.
Tangisan terakhir telah terhitung dalam 675 hari lebih. Saat Geam menolaknya untuk yang terakhir,kemudian saat itu pula Mel menangis sejadinya, itu yang terakhir dia menangisi Geam,perpisahan mereka memang menyakitkan namun tak ada lagi episode kedua untuk hubungan mereka. Itulah tekad Mel, sampai saat kabar itu tiba di telinganya.
Geam kecelakaan….
“Apa? Benarkah?” suara Mel bergetar mendengar kabar tentang Geam dari Ken. Lututnya gemetar,airmatanya berdesakan kembali. Ah Geam telah berhasil melanggar sumpahnya untuk tidak menangis lagi.
“Ya Mel, aku harap kamu mau menjenguknya. Dia terluka parah.” Ken memintanya untuk menjenguk Geam. Tuhan,ini pilihan yang amat sulit bagi Ken. Di saat dia telah nyaris melupakan kenangan buruk itu dan menghiasi harinya dengan lelaki baru yang mencintainya dan mencoba dia cintai.
“Tapi Ken..” ingin rasanya menolak itu, tapi hatinya berteriak.Orang yang sangat dia cintai terluka parah, sanggupkah dia menolak itu?
“Datanglah, aku yakin kedatanganmu akan memberikan kekuatan bagi Geam.” Ken mencoba memberinya kekuatan untuk dating kepada Geam, airmatanya luruh.
“Haruskah?”
“Ya kamu harus,Geam membutuhkanmu dan membutuhkan maafmu.”
“Maafku?” Tanya Mel tersentak
“Geam sudah menceritakan semua kepadaku,Mel. Dia bersalah,dia telah membuatmu terluka dan membalas cintamu dengan tidak adil hanya karena sakit hati atas keputusanmu. Datanglah Mel, Bandung Jakarta begitu dekat. Kamu tak perlu bersembunyi lagi.” Mel tersedu. Ya, dia akan datang untuk Geam.
Suasana rumah sakit begitu mencekam. Mel menggenggam erat tangan Ken, berharap ada kekuatan disana untuk membuatnya tetap tegar. Pintu ruangan kamar Geam tertutup rapat, seolah tak mengijinkan siapapun datang. Ken mengetuk pintu.
“Ken? Masuklah…” rupanya Geam hapal benar dengan siapa yang datang.
Mel menguntit Ken, hatinya berdebar kencang. Apakah Geam masih mengenalinya setelah sekian lama terpisah.
“Mel…” Geam memanggil namanya. Sedangkan Mel diam tak bersuara, pikiran dan perasaannya dipenuhi siksaan atas apa yang dilihatnya. Geam, alangkah menyedihkannya dia.Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka bakar. Rupanya kecelakaan dalam reli mobil yang biasa dia ikuti telah memporakpoandakan segalanya.
“Ini aku, masih bisakah kamu mengenaliku Mel?” Oh Tuhan, mana mungkin ada yang mengenali seorang Geam yang begitu tampan jika kecelakaan telah merenggut apa yang dimilikinya. Mel tak mampu berkata apapun, airmatanya luruh. Geam telah berhasil membuatnya menangis lagi.
“Geam, kenapa ini bisa terjadi?” kemudian Mel mendekati Geam, menggenggam tangannya. Kerinduannya tumpah ruah.
“Ini sudah nasibku,Mel. Aku akan cacat, mungkin juga mati. Tapi sebelum itu terjadi,. Aku ingin maafmu.” Geam mengusap airmata Mel.
“Tak ada yang perlu dimaafkan Geam.Tak ada yang salah, kita berdua hanya khilaf tapi selalu mencoba untuk mempertahankan kekhilafan kita.”
“Aku menyesal Mel, telah membuatmu lelah untuk mencintaiku. “
“Geam, apapun yang terjadi, siapapun dan bagaimanapun kamu. Aku mencintaimu,menyanyangimu dan kamu adalah bagian dari diriku.”
‘Benarkah?hingga sekarang Mel?hingga aku cacat seperti ini.”
“Ya, dan aku ingin kamu cepat sembuh seperti sedia kala agar kamu bisa melanjutkan hidupmu. Jangan pernah berpikir untuk mati ya, Geam. Teruslah hidup dan raih mimpi-mimpimu. Aku memaafkanmu dan aku pun meminta maaf karena pertemuan terakhir kita tidak baik.”
“Aku tak percaya,ternyata aku merugi karena menyia-nyiakanmu.”
Mel tersenyum, dan kekuatan untuk tersenyum itu ada, “Tak ada yang rugi Geam, kita semua beruntung.Semoga kamu cepat sembuh.”
“Maukah kamu menemaniku, Mel?”
“Aku berjanji akan berubah.” Lanjut Geam
Mel menggeleng, “Geam aku menyanyangimu, tapi permintaan itu tak bisa aku kabulkan.Maafkan.”
“Apakah ada seseorang di hatimu?”
Mel mengangguk,”Ya, seorang lelaki yang telah mengajarkan aku mencintai tanpa pernah mengharap balasan. Seorang lelaki yang mencintaiku dan aku akan mencintaimya. Dia telah mengajarkan aku mencintai tanpa pamrih.”
“Mel..” Geam melepaskan genggamannya.
“Aku salah karena telah mengira kamu akan selalu menungguku.”lanjutnya, airmata menitik di pipi Geam.
“Aku sudah cukup lama menunggumu Geam, dan aku tak ingin waktuku tersita percuma untuk itu. Percayalah Geam, aku menyanyangimu lebih dari apapun. Tapi izinkan aku tidak mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah kamu bilang dulu.Berikan kesempatan pada waktu untuk memberikan yang terbaik dalam hidup kita di masa datang, bukan di masa lalu.”
Geam miris, Mel yang dikenalnya begitu lemah, cengeng dan begitu tergantung padanya. Kini berubah menjadi seorang wanita dewasa yang amat bijak.
“Percayalah kamu akan sembuh untuk semua lukamu. Seperti juga aku yang telah berusaha keras untuk bangkit dari keterpurukan, aku berhasil Geam dan bayangkan betapa senangnya aku atas hal ini.”Ujar Mel sambil meraih kembali tangan Geam dalam genggaman.“Aku mencintaimu, Mel.” Suara Geam lirih terdengar. Mel tersenyum simpul. Ya Geam, aku tau kamu mencintaiku tapi kenapa pada saat yang tidak tepat kamu ucapkan itu. Gumam Mel dalam hati.

No comments: