30 August 2005

Cerpen : Maafkan Aku!

Sebenarnya aku masih lelah dengan kegiatan tadi malam, tapi pagi ini aku benar-benar merindukannya. Aku ingin menemuinya, memeluknya, menciumnya.
Suasana rumahnya masih sama persis seperti dua tahun lalu .. persis sama, tak ada yang berubah…
Tok..tok..tok…aku mengetuk rumahnya
“sebentar..” suara itu, ah suara lelaki yang sangat aku cintai
dan menyembullah seraut wajah
“Hai..” aku memasang senyum manis, lelaki itu tampak kaget
“Ni..Nilam..”dia gugup menyebutkan namaku.
“Ya, aku Nilami. Bagaimana kabarmu Dy?” aku langsung menyeruak masuk tanpa menunggu dipersilahkan dan mendudukkan pantat di kursi sofa yang juga masih sama empuk seperti terakhir aku duduki.
“Ada apa kemari?”raut wajah kagetnya berubah angker
“Aku merindukanmu, Dy. Tak bolehkah aku kemari?” aku merasa tak diperlakukan ramah.
“Boleh, tapi untuk apa lagi?”
“Untuk menemuimu, aku merindukanmu.” Andy memalingkan wajahnya dari hadapanku.
“Aku sungguh-sungguh, Dy” lanjutku dan berusaha merengkuhnya dalam pelukanku.
“Tolong, Nilam. Jangan buat aku sakit lagi.” Andy melepaskan pelukanku
“Aku mencintaimu, Dy. Dua tahun aku berusaha melupakan perasaan ini.”
“Lupakan aku. Itulah yang terbaik.”
“Dy, izinkan aku memeluk dan menciummu sekali lagi.Aku sungguh-sungguh mencintaimu.”
“Apa maumu sih? Kamu telah meninggalkanku demi ambisi-ambisimu. Kini kamu datang hanya untuk menyatakan kamu mencintaiku. Apa aku bisa percaya itu. Dua tahun, dua tahun lalu kamu memilih meninggalkanku demi karir. “ jelas sekali Andy sangat marah padaku.
“Kamu sendiri yang tak bisa memahami keinginanku, Dy. Kenapa aku yang selalu kamu salahkan?”
“Oh sudahlah, nona penuntut. Bercintalah dengan pekerjaanmu.” Andy beranjak dari kursi dengan marah.
Aku memeluknya dan tangisanku mulai luruh
“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Dy. Maafkan aku.”ujarku terisak sambil memeluknya erat.
“Lepaskan aku, Nilam.” Andy berontak dalam pelukanku tapi aku semakin kuat memeluknya.
“Cintai aku lagi. Aku mencintaimu, dua tahun sudah amat sangat menyiksa. Tanpa kamu, apa yang aku peroleh tak ada artinya.”
“Tapi denganku, kamu takkan mendapatkan apa-apa.”
“Aku hanya ingin mendapatkan cintamu, Dy.”
“Hanya sekarang saja kamu menginginkan aku. Saat kamu memiliki sedikit waktu luang dan tak sengaja berada di kotaku.”
“Mungkin ya, Dy. Aku kemari tak sengaja. Tapi melihatmu sekarang aku rela mempertaruhkan segalanya demi bersamamu lagi.”
Dan aku mencium bibirnya, Andy tak menolak. Tuhan, lelaki ini adalah sungguh-sungguh aku cintai sampai kapanpun.
Dua tahun yang lalu aku memang meninggalkan Andy. Pertunangan kami yang telah berumur tiga tahun terpaksa aku bekukan demi meraih kontrak kerja dengan sebuah perusahaan asing yang memintaku untuk tidak menikah daNilam kurun waktu dua tahun. Aku sudah meminta Andy untuk menunda pernikahan kami, bukan untuk memutuskan hubungan. Tapi, Andy menolak. Dia memintaku memilih antara menikah atau berkarier. Dengan berat hati aku memilih berkarier.
"Aku hanya dua tahun saja, Dy." Pintaku saat itu. Andy tak menyahut, wajahnya menahan duka.
"Mengertilah.." aku mencoba membuatnya mengerti
"Tidak. Kamu harus memilih. Aku atau pekerjaanku."
Aku terdiam, ribuan detik aku habiskan dalam diam.
"Kamu tak perlu menjawab sekarang. Aku meminta jawabanmu lusa. Pikirkan dengan baik-baik apapun keputusanmu." Ujar Andy.
Aku menatap wajahnya yang penuh dengan amarah. Andy kecewa dengan semua ambisi yang ingin kukejar. Tapi, aku tak menganggap bahwa cita-citaku itu berdosa. Ini tak lebih dari sebuah keinginan. Dan aku harus memilih.
"Tak perlu menunggu. Aku akan menjawab sekarang." Aku meraih tangannya. Dingin, lebih dingin dari hatiku yang mulai membeku.
Andy menatap mataku, mencari jawaban dan keputusan, "Kamu yakin?" tanyanya
Aku mengangguk, "Maafkan aku, Dy."
"Apapun keputusanmu aku terima, Nilam."
"Aku sangat mencintaimu. Tapi…"
"Kamu memilih karier bukan? Sudah kuduga!" Andy memotong kalimatku
Aku menjatuhkan tatapan ke tanah, menunduk dan menarik nafas panjang.
"Benarkan?"
Aku mengangguk.
Andy saat itu marah bahkan teramat marah, "Pergilah. Dan jangan kembali lagi. Lupakan aku." Andy menyuruhku pergi. Aku berusaha untuk memeluknya.
"Tinggalkan aku!"
Dan kemudian aku pergi selama dua tahun itu. Meraih jabatan yang aku inginkan, menenggelamkan diri dengan karier, mengambil sebanyak mungkin kesempatan, dan berjanji dalam hati bahwa aku pasti akan kembali pada Andy. Dua tahun kami habiskan saling berdiam diri. Aku mencoba untuk menghubungi dan berkomunikasi dengannya, tapi Andy selalu menolak menerima apapun bentuk komunikasi yang kulakukan padanya. Hanya kabar kabur yang kudapatkan dari Eni, sahabatku dan juga sahabatnya. Kalau Andy berubah menjadi seorang cowok yang doyan keluar malam dan berhura-hura dengan teman-teman barunya yang entah dia dapatkan darimana. Dunianya mulai dikelilingi oleh wanita. Aku kecewa dengan kabar itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kubiarkan saja hal itu menjadi pilihannya, seperti juga pilihanku untuk mengakhiri hubungan kami. Walau tak mudah, aku akhirnya menyerah menghubunginya, membiarkannya dengan dunianya yang baru dan mencoba melupakannya. Tuhan berkata lain, hatiku masih tetap untuknya. Antara karier dan cinta yang harus aku pilih. Karier sudah kudapatkan, aku meraup segalanya dari karier.Namun, hatiku beku. Aku tidak dapat melupakannya. Dia begitu aku cintai, hatiku kosong tanpanya, dan seperti janjiku sebelumnya. Aku akan kembali pada Andy.
Kini aku kembali. Dan Andyku masih tetap sama seperti dua tahun lalu saat kutinggalkan. Dia marah.Dia menolakku.
Andy melepaskan ciumanku.
"Aku benci kamu, Nilam." Sungut Andy
Aku memeluk lehernya, dan berusaha meredakan emosinya, "Aku tahu, Dy. Aku tak berhak lagi mengganggumu. Tapi aku sekarang kembali karena aku benar-benar merindukanku."
"Lalu, setelah itu? Apakah setelah rindumu terobati, kamu akan kembali meninggalkan aku."
"Aku kangen kamu, Dy. Bisakah kamu lupakan kesalahanku itu?"
"Melupakan kesalahanmu dan melupakan kamu. Itu yang aku inginkan selama dua tahun ini. Bukankah itu juga yang kamu inginkan, hah!"bentaknya.
"Andy, aku datang bukan untuk bertengkar." Aku meraih tangannya. Cowok yang biasanya kalem itu mengibaskan tanganku.
"Aku ingin melupakanmu."
"Lupakanlah aku, jika itu maumu. Tapi, bukan dengan cara seperti ini. Kita bisa menjadi teman lagi bukan? bersahabat, tanpa marah dan dendam. Dengan begitu aku akan merasa lebih tenang."
"Persetan dengan itu! Aku kecewa padamu!"
"Kecewa padaku bukan berarti kamu menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tak ada manfaatnya bagimu. Kita berdua sudah dewasa, Dy? Kita selesaikan masalah kita dengan baik."
"Kenapa aku yang harus selalu mengalah padamu, Nilam? Apakah segala yang kamu miliki berarti aku ada di posisi rendah di matamu?"
Aku melotot, "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Tak pernahkan kamu berpikir bahwa ambisi-ambisimu telah menyingkirkanku perlahan, mengikis harga diriku, dan membuatmu sebagai pemimpin diantara kita berdua? Pernahkan berpikir seperti itu?"
"Andy, aku ..aku.."aku tak sanggup berkata
"Aku kecewa padamu. Mungkin perpisahan lebih baik bagi kita. Menjadi dirimu sendiri adalah lebih penting dibandingkan memperbaiki hubungan kita.Kamu tak perlu khawatir mengenai aku, aku sudah memilih jalan hidupku sendiri."
"Bukan seperti itu kan jalan yang kamu pilih?"
"Memangnya kamu tahu apa yang kupilih, dan bisa memutuskan bahwa jalan hidupku salah? Menurutmu jalan hidupmulah yang paling benar? " Andy balik bertanya.
Aku meraihnya daNilam pelukan.
"Aku mencintaimu, Dy. Sampai kapanpun. Walau mungkin aku meninggalkanmu demi karierku. Tapi aku mencintaimu, dan aku percaya bahwa jalan yang kamu pilih itulah yang terbaik."Bisikku di telinganya. Airmataku kembali luruh.
"Tinggalkan aku, Nilam."pintanya begitu berat
"Kamu tidak menginginkan aku kembali padamu?"Tanyaku
Andy menggeleng, "Karena aku tahu siapa kamu. Aku takut kamu tinggalkan kembali di saat cinta itu membara dalam hati."
Aku tak bisa menyalahkan Andy atas kekukuhannya menolakku kembali. Aku tahu aku pun bersalah dalam hal ini.
"Aku mencintaimu, Dy. Sampai kapan pun. Kuharap kamu mendapatkan apapun yang kamu inginkan." Ujarku dalam isak. Tiba-tiba jantung Andy berdetak lebih cepat, sangat cepat. Dia terisak-isak, dia menangis.
Kami menangis. Aku tahu kami saling mencintai tapi kami tak tahu apa yang harus kami lakukan untuk membuat kami bahagia satu sama lain.
"Maafkan aku." Bisiknya pelan
Aku mengangguk dan semakin memeluknya erat, "Gak apa-apa, Dy. Lupakan aku jika itu yang terbaik bagimu. Tapi, aku takkan pernah melupakanmu dan aku sudah berjanji bahwa jika aku tak kembali bersamamu aku akan menghabiskan sisa hidupku tanpa siapapun."
Andy melepaskan pelukannya, menatapku lekat, "Sungguh?kenapa?"
Aku hanya tersenyum sedikit saja, "karena aku tahu, takkan ada seorang pun yang akan mengerti aku."
"Banyak, Nilam. Banyak cowok yang lebih dari aku yang menginginkanmu."
"Seperti katamu, kita harus memilih bukan? Dan aku sudah memilih jalanku. Jangan khawatir, Dy. Aku akan baik-baik saja."
Andy memelukku kembali, bahuku basah oleh airmatanya.
"Sudahlah, Dy. Aku akan pergi. Kali ini selamanya, aku takkan mengganggumu, aku akan memberikan kesempatan untuk melupakan aku." Aku menghapus air mataku dan membenahi pakaian. Beranjak dari tempat duduk serta mengecup bibirnya.
Andy tak kuasa mengucapkan apa-apa lagi. Tak ada lagi kemarahan di matanya. Namun, kesedihan itu kian kentara.Dan aku meninggalkannya, untuk selamanya. Aku berjanji akan memberikan kesempatan itu, kesempatan dia melupakan aku. Memberikan kesempatan pada wanita lain yang akan mencintainya sepenuh hati.

No comments: