30 August 2005

Cerpen : BUNUH DIRI!

Lelaki itu mengatakan bahwa dia akan bunuh diri jika aku menolak untuk menikahinya. Well, aku sungguh tidak percaya! Bagaimana mungkin dia akan senekad itu hanya demi aku. Dia punya kehidupan yang serba berlebihan. Uang yang lebih dari berlimpah, istri yang lebih dari cantik, anak yang lebih dari menyenangkan, mungkin hidupnya lebih dari sempurna. So, bunuh diri hanya karena aku itu sangat tidak mungkin!
Oke, aku akan bercerita mengenai pertemuanku dengannya. Secara tak sengaja kami dipertemukan lewat suara. Ya, suara. Tiga tahun atau mungkin nyaris empat tahun yang lalu sebuah suara kuterima. Dialah lelaki itu, dia mengaku terpesona dengan suaraku. Dia bilang, suaraku lebih dari sekedar merdu. Dan sejak itu dia nyaris tak pernah absent meneleponku bahkan berjam-jam lamanya. Magnet apa ya yang membuatnya begitu terpikat pada suaraku? Well, memang bukan hanya dia yang memuji merdunya suaraku tapi baru kali ini aku mendapatkan pemujaku hanya karena urusan suara. Okelah kumaklumi saja.kupikir itu adalah hak setiap orang untuk bisa jatuh cinta. Termasuk juga aku. Aku juga pernah jatuh cinta kok!
Kemudian, hubungan itu terus berlanjut. Bersahabat saja! Aku tetap menerima telpon-telponnya, mendengarkan semua cerita-ceritanya dan semuanya sangat menarik. Kami berbicara banyak hal, sangat menyenangkan.
Setahun setelah mengenalnya dia memutuskan untuk bertemu denganku. Dia datang ke kotaku bersama ketiga anaknya. Hebat, ketiga anaknya turut serta untuk mengenalku. Kehidupan yang sempurna untuknya dengan tiga anak yang luar biasa menyenangkan. Well, tidak ada yang terjadi namun setelah itu dia semakin gencar mendekatiku. Dia memintaku menikahinya. Untuk apa? Aku sempat berpikir kalau aku akan menjadi bagian pelengkap kehidupannya yang sudah sempurna.
Okelah, kuakui selama ini, dalam perjalanan hidupku aku belum menemukan lelaki sepertinya. Luarbiasa lengkap seperti yang kuinginkan pada pangeranku suatu saat!!
Tapi pernikahan yang ditawarkan oleh lelaki sempurna itu tetap kutolak!!kemudian dia meninggalkanku beberapa lama…sedikit kehilangan tapi aku berusaha realistis, tidak akan ada pernikahan antara kami!
Beberapa waktu lalu dia kembali padaku…
Cintanya kembali bersemi. Bahkan lebih hebat. Ketololan kulakukan! Aku tidak menerima tawarannya untuk menikah tapi atas dasar prihatin kepada masalah yang membelenggunya aku menerimanya menjadi seorang sahabat.
Ya, lelaki itu datang kembali padaku dia datang dengan setumpuk masalah. Kehidupan yang sempurna itu memudar. Istrinya yang lebih dari cantik itu dia bilang mulai berulah. Dan dia kembali padaku untuk melengkapi ketidaksempurnaannya. Dia menyatakan bahwa dia tak bisa melupakan aku. Dia menganggap bahwa aku adalah pelita hidupnya, langit cerahnya, bintang kejoranya. Dia setuju untuk memberikan waktu untukku berpikir hingga akhirnya menerima tawarannya menikah. Well, sungguh ketololan buatku!
Waktu berlalu dan kupikir dia memang semakin mencintaiku. Setiap aku mundur satu langkah darinya dia mulai melakukan hal-hal gila. Dia pernah mencoba gantung diri, menyilet urat nadi, menabrakan mobilnya! Aku seolah tak diijinkan lepas darinya.
Padahal…AKU PUNYA MASA DEPAN! Aku tak ingin menggadaikan masa depan hanya untuk mengasihaninya. Aku ingin lepas dari belenggunya. Aku ingin bebas berlari kian kemari bahkan jika mungkin aku ingin segera menemukan seorang lelaki lagi agar aku bisa segera mengatakan bahwa aku telah mencintai orang lain.
Dia begitu mempesona, begitu baik, begitu menyenangkan, begitu perhatian, begitu mengerti, dan begitu sempurna. Tapi, aku masih punya hati untuk tidak merebutnya dari keluarganya yang sempurna. Persetan dengan istrinya yang berulah karena kupikir istrinya yang lebih dari cantik itu tetap sangat mencintai lelaki itu.
Aku memohon padanya untuk meninggalkanku. Dia mulai mengancam akan membunuh dirinya jika aku meninggalkannya. Tuhan marah padaku..aku tahu Tuhan marah karena aku telah berbuat hal yang tolol!!Kini aku sulit bergerak! Karena dia, lelaki itu, akan membunuh dirinya jika aku menolak menikahinya terlebih jika aku meninggalkannya.
Ini tolol. Seharusnya aku tahu. Kami jelas-jelas berbeda sekali. Dia sudah berkeluarga dan sudah tidak pantas lagi melakukan kebodohan seperti ABG. Aku masih lajang, punya masa depan bagus, karier yang menarik, kehidupan yang mandiri, untuk apa aku harus menerimanya di sampingku. Ooh, alangkah lebih baik aku mencari lelaki lajang yang juga mencari masa depan sepertiku.
Pertemuan terakhir kami adalah minggu lalu. Tapi kali ini kami sama-sama terluka parah. Begitu banyak perbedaan antara kami dan itu tidak mudah untuk tiba-tiba kami satukan. Ya, kami amat sangat berbeda. Status sosial, status ekonomi, seluruh status dan yang terpenting adalah agama. Agama kami berbeda! Apa lagi yang bisa kami lakukan dengan banyaknya perbedaan itu. Kami sama-sama terluka. Mungkin dia lebih terluka, sebab dia mengatakan bahwa dia nyaris bertabrakan atau mungkin berpikir untuk menabrakan kendaraannya setelah mengantarku ke bandara karena perasaannya kalut, bingung, resah, dan amat menyiksa. Semua karena aku! Tuhan, kenapa harus aku?
Lelaki itu, lelaki sempurna itu kembali mengancam akan bunuh diri jika aku tetap tidak bisa menerima lamarannya untuk menikah.
Lelaki itu, lelaki sempurna itu pada malam itu tangisannya terdengar mengiba, memelas, memohon, merajuk, meradang saat aku tetap mengatakan tidak atas tawarannya. Dalam ribuan mill jarak antara kami melalui kabel telepon isakannya terdengar begitu sempurna.
Aku mengiba, memelas, memohon, merajuk, meradang agar dia segera meninggalkanku. Menyuruhnya pergi karena aku bukan siapa-siapa yang harus dia pertaruhkan. Keluarganya lebih membutuhkan dirinya dibandingkan aku.
Tapi hari ini….aku mendapat kabar kalau lelaki itu benar-benar bunuh diri!Tuhan, maafkan aku!!!

No comments: