[RELIGI] Belanja Makanan untuk "Hati"

@ La Mecque, Saudi Arabia
Sebelum saya berangkat ke tanah suci, suami berpesan, "berhati-hatilah dengan keinginan berbelanja. Tugas bunda disana ibadah." Ujarnya. Saya menganggukkan kepala. Dan tidak mudah mengawal nafsu belanja disini, dimana sepanjang mata memandang pusat perbelanjaan tersaji dengan indahnya.
Baiklah, tugas saya disini memang "berbelanja hati" mengenyangkan hati dengan santapan-santapan bergizi untuk hidup lebih baik.

Namun, tidak mudah! Meski saya tertampar berkali-kali dengan kebiasaan luar biasa disini yang membuat saya malu karena tidak melakukan hal yang sama. Namun, kerapkali godaan merasa "Biar Allah yang Menilai" kadang terbersit. Godaan seperti itu kadang membuat kita merasa benar dengwn langkah yang dijalankan. Saya berjuang membuat bisikan itu terdepak sejauh-jauhnya dari dalam diri. Belajarlah! Tegas saya pada diri sendiri. Bukankah tidak ada sesuatupun yang kita temui tanpa sembulan makna?

Saya teringat obrolan dengan suami, "jadikan masalah itu sebagai teguran, bukan cobaan. Dengan merasa teguran, kita akan lebih cepat introspeksi diri dan memperbaiki langkah." Ujar beliau.
Disini, belanja makanan untuk hati sangat banyak. Tinggal kitalah yang bijak untuk menjadikannya bahan renungan untuk langkah lebih baik.


[RELIGI] Memupuk Rasa Takut

Abhur al Janubiyah, Saudi Arabia
Mendengarkan penjelasan dari Mutawwif yang membimbing kami selama di tanah suci membuat bulu kuduk merinding. Betapa, kita manusia, seringkali khilaf berbuat dosa tanpa menyadari semakin lama dosa telah melumuri tubuh sedikit demi sedikit dan terus menjadi bukit.

Bahkan, mertua saya berkata, "saking seringnya manusia melakukan sesuatu yang tidak benar, lama-lama yang dilakukan menjadi terasa benar. Maka, kewajiban kita itu adalah terus mendekatkan diri padaNya, sehingga iman yang naik turun tetap tidak terlalu keluar jalur yang benar."
Satu hal yang saya ambil dari merindingnya bulu kuduk saat kita diingatkan akan dosa-dosa yang lalu adalah dengan memupuk rasa takut sedini mungkin.


Sungguh saya takut dan ingin ketakutan inilah yang mengawal saya setiap saat. "Kita akan saling menyempurnakan. Kita akan kembali melengkapi satu sama lain. Mamah akan mengingatkan jika kamu salah, kamupun harus mengingatkan jika mamah salah. Seperti yang biasanya kita lakukan, bukan?" Ujar mertua yang membuat hati saya terasa adem. Ibarat sebuah pohon korma yang mengering, tersiram air hujan dan kembali menyubur.


Alhamdulillah, perjalanan ke tanah suci tidak ada habisnya memahat renungan dalam hati. Semoga sekembalinya ke Indonesia esok pagi, saya istikhomah mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amiin, bismillah.


Berbisnis Manfaat___bismillah

Jika orang bertanya apakah mungkin menulis bisa menjadi sebuah bisnis? Saya selalu yakin bisa! Menulis di media sejak kelas 1 SMA, mengikuti lomba penulisan sejak kelas 2 SMA, di tahun-tahun 1996an bisa jadi banyak yang mengerutkan dahi jika menulis jadi bisnis. Tapi, saya tidak, sebab di usia SMA itulah saya mulai mendapatkan uang saku tambahan karena artikel demi artikel di muat di media cetak.

Hingga belasan tahun 11 tahun kemudian tepatnya tahun 2007 saya mendirikan bisnis di bidang Penulisan "Indscript Corp" yang kini menaungi 4 lini jasa yang tetap dengan basic penulisan.
Satu hal yang membuat saya bertahan hingga kini bukan karena bisnis ini menuai hasil besar tetapi saya melihat MANFAATlah yang dipanen dengan sangat luar biasa.
Dengan keahlian menulis orang memberi lebih dari sekedar KAIL tapi juga EMOSI dan ILMU yang tak terukur.
Semoga saya semakin istiqomah menjaga bisnis dengan sebaik-baiknya langkah.

 
‪#‎Mekkah‬ di waktu pagi

Allah Menampar Saya Berkali-kali


Pengalaman di setiap jengkal perjalanan umroh kali ini menyisakan sejarah yang terpahat di kepala. Sejarah yang layak terulang jika kelak saya insya Allah kembali ke Indonesia esok hari.

Beberapa yang saya rekam adalah seperti menyempurnakan hijab. Ada begitu banyak perempuan disini dengan hijab yang amat sempurna. Tak ada lekuk tubuh yang terlihat dengan jilbab yang terulur hingga ke mata kaki, hingga akhirnya beberapa sahabat yang biasa membuat hijab syari langsung saya hubungi, "apakah bisa membuat hijab terulur hingga ke mata kaki? Bahkan hampir menyerupai pakaian?" Tanya saya. Diantara mereka akhirnya sanggup membuatkan. Menyempurnakan hijab menjadi salah satu rekaman yang terjadi di tahun 2013 lalu. Ketika saya mengganti jilbab menjadi hijab syari akibat kecelakaan satu keluarga yang kami alami. Saya menjadi berpikir, "saya ingin mati dengan hijab yang benar." Dan kali ini, saya kembali ingin membenahi hijab ini. Subhanallah, Allah membuat saya terus berpikir setiap saat, sehingga saya terus mencari cara membenahi diri.

Renungan kedua adalah waktu shalat yang kadang tergeser oleh aktivitas atau kesibukan, disini saya bagai ditampar. Seluruh aktivitas bisnis terhenti saat adzan, semua pedagang meminta izin menutup toko karena hendak ke mesjid. Saya yang sedang berada di toko bertanya ke teman, "sudah waktunya sholat? Belum adzan." Tanya saya. Teman saya bilang, "mereka persiapan beberapa waktu menjelang adzan." Subhanallah, saya maluuuu...dengan tekad kuat, semoga kembali ke Indonesia, ketika adzan tiba, seluruh karyawan akan shalat berjamaah. Bismillah ya Allah...


Siang tadi...dari hotel saya diminta mertua melihat ke kaca jendela kamar, "lihat, mereka menunaikan shalat jum'at di jalanan. Mobil berhenti, mereka berjamaah menunaikan sholat." Ujar mertua. Saya memandang ke jalan. Allah menampar saya kembali, ya Allah, saatnya menyempurnakan shalat. Dimanapun dan kapanpun.

Ada begitu banyak cerita yang kelak akan saya urai sebagai hadiah bagi Anda, betapa disini Allah menampar saya berkali-kali dan membuat saya berpikir kembali untuk menyempurnakan langkah yang benar sesuai dengan petunjukNya.

‪#‎kisahketanahsuci5‬

[RELIGI] Nabawi, Memunculkan keIKHLASan


Perjalanan ke tanah suci, berawal dari Jeddah kemudian Medinah. Di Medinah, kekaguman saya berawal. Mulut tak lepas dari mengucap subhanallah, rumah Allah sungguh indah.
Meski ada begitu banyak nikmat yang diberikan, ujian tetaplah ada.

Teringatkah saya pada satu arti ayat yang dibaca, "ujian itu memang harus ada" tidak lain untuk membuat umatNya selalu berpikir. Kita diberi kekayaan itu ujian, kita dimiskinkan itupun ujian. Ada banyak bentuk ujian.
Banyak sekali pemikiran yang mencuat dari setiap jengkal perjalanan, teringat satu per satu kesalahan yang pernah dilakukan dan memunculkan resolusi baru, "setiap kesalahan tak boleh terulang!"


[RELIGI] Umroh Membuat Kami Tak Berjarak ( Catatan MenantuUntukMertua)



Pernikahan saya tahun ini menjelang 8 tahun. Sejak menikah, satu kali saya merasa cemburu pada suami yaitu ketika di awal pernikahan kami, beliau rajin menyambangi rumah mertua. Wajah saya cemberut saat beliau pamit menjenguk mertua, setelah itu saya tersadar__ satu kali itu saya tersentak saat suami mengatakan, "sampai kapanpun aa adalah anak lelaki yang bertanggungjawab pada ibunya. Terimalah mama seperti ibumu sendiri." Ucapan itu saya terima di dua minggu pernikahan kami. Saya cemburu...


Waktu bergulir terus sesudahnya, hubungan saya dan mertua terus berkembang dengan hebatnya. Beliau memang ibu saya. Kami kian dekat dari hari ke hari hingga bertahun-tahun dan kini.
Pernahkah kami berselisih? Memahami kelebihan dan kekurangan kami adalah kuncinya, mamah melengkapi apa yang tidak saya miliki, demikian sebaliknya.
Saya tak pandai memasak, mamah yang memasak untuk kami setiap pagi. Saya pun mengajari mamah menulis buku dan kini mamah sudah menulis lebih dari 50 judul buku.
Saat saya didera kesibukan kerja, mamah mertua siap menemani anak-anak di rumah. Kami sudah seperti partner kerja, sahabat baik, dan ibu anak.


Perjalanan umroh kami kali ini pun memahat kedekatan yang teramat sangat, hingga saya mengatakan, "terima kasih ya, mah, sudah menjadi mertua yang hebat buat saya." Dan kisah kami memang hebat!
Bukan hanya kedekatan yang terus menguat bahkan selera kami makin serupa, misalnya ketika kami menyukai roti dan krim keju serta menyantapnya di sela-sela obrolan asyik kami. Hingga tidak ada satupun yang menduga bahwa kami sebetulnya adalah sepasang menantu dan mertua
Bismillah, mah....kita akan bersama-sama merancang mimpi di tahun ini.


[RELIGI] Betapa Seringnya Saya DIBERI

Popcorn
Entah untuk keberapa kalinya saya diberi ini dan itu, baik oleh sesama rombongan umroh hingga orang yang baru dikenal.
Oleh orang Pakistan, saya diberi kue yang sangat nikmat. Ada yang memberi saya teh menjelang sholat. Ada yang memberi saya colokan charger. Sebotol air zam-zam di hotel, buah, obat pilek, hingga macam-macam lainnya.

Saya melihat ada banyak kemudahan didapatkan di rumah Allah ini. Saya sering mendengar betapa sulitnya menyentuh kabah karena orang berdesak-desakan. Namun, subhanallah saya diberi kemudahan, dengan diapit mamah dan mertua, tetiba saya melihat ruang kosong dan langsung bergegas menyentuh kabah bersama kedua ibu tercinta. Allah memberi kelapangan untuk ibadah kali ini.
Suatu sore, saya, mamah, mertua, dan leader rombongan hendak menunaikan sholat maghrib. Kami mendapat tempat di luar mesjid Nabawi. Tetiba, seorang perempuan memberi kami popcorn, menghidangkan teh manis, dan berucap "assalamualaikum.." Sambil mengucapkan bahasa yang tidak kami pahami.


"For us?" Tanya saya
"Yea..." Ujarnya
Kami celingukan, jangan-jangan sedang bagi-bagi popcorn dan teh di mesjid. Ternyata tidak...
Subhanallah begitu banyak hal diberikan tanpa saya duga, alhamdulillah


[RELIGI] Do'a yang Beterbangan di Angkasa



Di Jeddah, suasana sangat ramai. Dalam keramaian, mata saya melihat kesana dan kesini. Betapa saya kagum, beraneka warna kulit, beraneka negara, hingga beraneka keunikan wajah ada disana.

Dalam kondisi mengantri seorang ibu tua meletakkan tangannya di kepala saya lalu dia berkata sesuatu yang tidak saya pahami dan berdoa. Ibu tersebut sudah sangat tua, saya prediksi beliau berasal dari Sekitaran Palestina atau pakistan.

Mamah saya berkata, "apakah dia memberikan doa di kepalamu? semoga doa kebaikan untukmu." Dan saya masih terkaget-kaget karenanya, melepas punggung sang ibu yang menjauh.

Dalam setiap jengkal ada ILMU


Selama perjalanan saya ke kota suci ini. Saya belajar banyak untuk semakin merasa KECIL. Ya kecil, saya membayangkan alangkah meruginya mereka yang sombong, manusia sungguh tidak ada apa-apanya di dunia ini.

Saya nikmati setiap jengkal dengan berpikir lebih dalam lagi mengenai hidup sesungguhnya. Dan, memang hanya dengan BELAJARlah kita akan mampu menyempurnakan setiap jengkal hidup kita.
belajar, hirup ilmu, aplikasikan, dan teruslah begitu.

Tahun ini, harus lebih bersyukur! Dan tahun ini harus lebih belajar! Bagaimana dengan Anda?

[RELIGI] Izin Bersocmed di Mekah (Setelah beres berUmroh)


Di hari kedelapan, saya baru bisa menyalakan ipad. Padahal dari awal keberangkatan betapa saya ingin memberikan reportase langsung sepanjang perjalanan saya menuju tanah suci ini. Rupanya, memang "tidak dikasih izin olehNya" selain saya harus fokus mengkhatamkan Al-Qur'an yang sisa beberapa lembar lagi___ bayangkan jika saya akan live reportase, mungkin energi akan tersedot mengurus bisnis di Indonesia plus narsis

Tepat selesai thawaf wada alias perpisahan saya dengan Mekah, ipad langsung nyala bisa connect langsung dengan wifi padahal delapan hari dicoba sama sekali nggak bisa. Hebat!
Rindu sekali dengan Indonesia, namun disini dahaga kerinduan terpuaskan dengan banyaknya ILMU yang berserakan.


Saya menemukan jutaan umat dari berbagai negara bisa saling berkomunikasi dengan berbagai bahasa___ dan satu sama lain paham walau dengan bahasa isyarat.
Saya belajar dari banyaknya ilmu di setiap jengkal hadir di hadapam. Tunggu satu per satu kisah perjalanan saya, semoga menjadi inspirasi.

Mekah, di sore hari___ menuju ashar
‪#‎kisahketanahsuci1‬