24 July 2017

AYO LAWAN, NAK (Ketika anakku menjadi korban bully, saya minta dia MELAWAN!)



Tidak ada yang salah dengan perbedaan yang menjadi salah adalah cara seseorang melihat perbedaan (Indari Mastuti).

Mengobrol dengan 3 anak SD kemarin membuat saya semakin terbuka mengenai dunia anak-anak
Obrolan kami dimulai dari seorang anak yang siangnya dibully secara fisik oleh teman sekelasnya hingga matanya merah.
Oh begini rasanya ketika anak kita disakiti, pedih.
TAPI, saya mengingat kembali pada yang dibully dan yang membully adalah anak-anak yang sama-sama korban.

Pembully adalah anakku juga.
Yang dibully adalah anakku juga.
Kepada yang dibully saya menguatkannya untuk berubah lebih baik dalam menerima bullyan.
"Lawanlah"
"Percaya dirilah untuk membentengi diri".
"Katakan pada yang membully, kamu tidak akan diam lagi".
"Kuatkan mental untuk menangkis serangan negatif di sekitarmu".
"Mulailah bergaul dengan lebih banyak teman, sesama perempuan bisa saling menguatkan".
"Tidak perlu takut melawan, ada teman, guru, dan orangtua yang akan menemanimu. Jangan biarkan dirimu terlihat lemah".
"Ayo jadi anak hebat!".
Kata-kata positif terus saya tanamkan pada anak korban bully.

KARENA anak yang dibully saat ini merupakan anak yang saya asuh dan saya menjadi wali muridnya, hari ini saya akan ke sekolah dan berbincang dengan gurunya.

TINDAKAN berbincang dengan gurunya bukan untuk mengecam, mengancam, atau melakukan pembelaan atas anak yang dibully, NAMUN akan memberikan penjelasan atas kondisi yang dialami oleh anak-anak yang mungkin gurunya tak tahu.

ANAK-ANAK masih panjang masa depannya, mereka butuh pegangan dan role model untuk menapaki satu demi satu masa depannya.

Untuk korban bullying, saya lebih menyiapkan anak untuk MELAWAN perlakuan negatif yang mereka dapatkan. Orangtua bisa mengajari mereka membangun percaya diri, cara melawan dengan tenang, mempersiapkan kemampuan bela diri, mengajak anak bergaul lebih luas, menumbuhkan mental hebat pada anak.

BULLYING bisa saja terjadi ketika pelaku melihat ada anak yang terlalu (terlalu cantik, terlalu istimewa, terlalu pendiam, terlalu lainnya yang terasa berbeda), mereka melihat yang berbeda *misalnya anak asuh saya yang terlalu pendiam, untuk anak yang berbeda dan korban bully harus mulai ditekankan bahwa perbedaan itu pasti ada NAMUN mereka bisa mengangkis bully dengan kekuatan diri yang mereka miliki.

TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN PERBEDAAN yang menjadi salah adalah CARA SESEORANG MELIHAT PERBEDAAN.

No comments: