24 July 2017

NAK, JIKA ENGKAU YANG JADI KORBANNYA, BAGAIMANA PERASAANMU? (Mengajarkan Anak Memperlakukan Orang Lain Seperti Dia Ingin Diperlakukan)



Pedih!
Perih!
Sedih!
Melihat beredarnya video viral mengenai anak-anak yang membully kepada anak-anak lainnya.
Anak SMP menghajar ramai-ramai temannya.
Anak kuliah membully teman "istimewa"nya.

Saya mengatakan anak-anak, karena berapapun usia si anak, saya melihat usia tidak membuatnya lebih matang.
Mereka mengedepankan rasa "superior" untuk menunjukkan kekuatannya.
Mereka sedang membuat dirinya "diakui" dengan melemahkan teman lainnya.
Mereka sedang merasa hebat dengan melukai teman lainnya.

Jika saya adalah orangtua anak yang dibully saya akan merasa sedih luar biasa TAPI saya akan menjadikan pelajaran ini untuk mengkuatkan anak.
Saya akan masukkan anak untuk latihan bela diri.
Saya akan buat anak untuk KUAT secara karakter untuk melawan.
Saya akan buat anak membela diri, meski itu dengan berteriak meminta tolong.
Entah, bagaimana perasaan orangtua yang anaknya menjadi korban dalam video itu.
TERUTAMA entah apa yang dirasakan anak yang menjadi korban.

Trauma?
Takut?
entahlah, rasanya sulit menduga-duga.
LALU, bagaimana jika saya menjadi orangtua anak yang MEMBULLY?
Saya tidak akan membela anak saya di mata public.
Saya akan menghukumnya!

TAPI...
Saya akan menemaninya untuk berubah lebih baik.
Saya akan bertanya padanya, "Nak, jika kamulah yang menjadi korban dalam peristiwa ini, kira-kira perasaanmu seperti apa?"
Saya akan bertanya dengan menempatkan anak-anak pembully menjadi korbannya.

MUNGKIN SAJA, ada yang terlewat dilupakan oleh kita, orangtuanya yaitu mengajarkan anak memperlakukan orang lain seperti dia ingin diperlakukan.
Jika dia dilahirkan tidak sesempurna sekarang, apa yang akan dia lakukan?
Jika dia tidak sepintar sekarang, apa yang akan dia lakukan?
Jika dia tidak segaul sekarang, apa yang akan dia lakukan?
Jika dia tidak se-pede saat ini, apa yang akan dia lakukan?

Surat ini untukmu, Anakku...

NAK, kita semua sama bukan?
Kita manusia yang sama di mata Tuhan.
Tidak peduli kamu tinggi, temanmu pendek.
Tidak peduli kamu mancung, temanmu pesek.
Tidak peduli kamu memiliki tubuh yang sempurna, temanmu disabilitas.
Tidak peduli kamu berprestasi, temanmu tertinggal.
Kita sama, Nak.
Di mata Tuhan kita sama, lalu kenapa engkau harus merasa "lebih" dan merasa harus diakui oleh manusia lainnya?
Selain ibadah, tugas kita sebagai manusia adalah merangkul manusia lain.
Merangkul yang lemah.
Menghangatkan manusia yang dingin.
Menguatkan yang lemah.
JANGAN NAK, jangan gunakan kekuatan untuk melemahkan.
Jangan gunakan kesempurnaan untuk merendahkan.
Jangan gunakan kesempatan untuk keburukan.
TIDAK HEBAT NAK, kamu tidak hebat jika melakukan ketiganya!
JUSTRU dengan melemahkan, merendahkan, dan melakukan keburukan akan membuatmu lebih rendah dari teman yang kamu lemahkan, rendahkan, dan hancurkan.
TAPI NAK, JIKA ENGKAU SUDAH MELAKUKAN KESALAHAN
Sudah membully...
Sudah menyakiti...
Sudah melemahkan...
Sudah merendahkan...

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERUBAH meskipun mungkin cap negatif sudah engkau dapatkan dari orang lain.
Mungkin saja, dari pembully, engkau akan dibully oleh lebih banyak orang apalagi dengan adanya video viral di era saat ini.

BERUBAHLAH...
Karena pada saat dibully, kini engkau merasakan bukan perasaan temanmu yang engkau bully?
Sedih...
Gelisah...
Takut...
Khawatir...
Engkau merasakannya juga kan, Nak?
Sini Nak, pada saat inilah engkau harus kembali pada jalan yang lebih baik, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk masa depanmu sendiri.
Engkau harus membuktikan, engkau layak untuk berubah lebih baik.
Engkau harus memastikan, langkahmu semakin terarah.
Engkau harus mengatakan pada dunia, engkau akan menjadi anak yang lebih baik.

INI PELAJARAN UNTUKMU, NAK.
Ibu tak akan membelamu, engkaulah yang akan melakukan pembelaan diri sekaligus PERBAIKAN DIRI sebab ibu tahu kalau apa yang engkau lakukan MEMANG SALAH.

Tertanda,
Ibumu

No comments: