28 May 2016

Krisis Hidup Dimulai dari Krisis Hati



Hiduplah semurah mungkin, kata-kata yang tepat untuk mengatasi masalah penduduk Indonesia yang menjadi sangat konsumtif dalam berbagai hal.
Semakin banyak orang yang kerapkali hidup di atas standar penghasilan, padahal jika penghasilannya besar tidak berarti biaya hidup harus besar.
Jika hanya mampu membeli nasi goreng di pinggir jalan, kenapa harus memaksakan makan di cafe?
Malu Teh!
Jika hanya mampu menggunakan motor, kenapa harus memaksakan mengkredit mobil?
Gengsi Teh!
Jika hanya mampu mencukupi kebutuhan makan setiap bulan, kenapa memaksakan membeli baju harganya mahal?
Kan biar tambah percaya diri Teh!
Hmm, semua berawal dari rasa malu dan gengsi yang kerap muncul di hati.
Krisis hidup memang dimulai dari krisis hati.
Terjebak dalam gaya hidup hedonisme, konsumerisme dan kemewahan yang memanjakan kenikmatan hati semata.
Banyak orang yang masih sangat memuja materi dan kemewahan yang semu
Hidup adalah pilihan.  Apapun pilihan yang Anda pilih sepenuhnya merupakan hak Anda.  Banyak orang yang mengharapkan untuk bisa menjadi orang kaya.  Tapi hanya sedikit yang benar-benar menjadi orang kaya.
Tapi saya kan ingin selalu lebih Teh.  Masa saya harus puas dengan keadaan saya sekarang?
Mungkin itu yang ada di benak Anda.
Merasa puas terkesan berhenti dan tidak mau mengupayakan yang lebih besar lagi.  Sebenarnya tidaklah demikian adanya.  Bagaimanapun kita harus selalu bersyukur dan menerima hasil yang diperoleh dari Sang Maha Pemberi.  Namun tetap semangat bekerja dan tak berhenti berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi agar bisa berbagi dengan sesama.
Iya, untuk berbagi dengan sesama.
Bukan untuk terus menerus mencapai standar hidup yang meninggi hingga tak berbatas
Standar hidup yang tinggi pada akhirnya akan mencekik diri.
Bahkan jika Anda bisa membeli makanan di cafe mahal, bisa membeli mobil, bisa membeli baju yang mahal, haruskah melakukannya?
Jangan membeli sesuatu karena INGIN tapi karena BUTUH
Lebih baik kita  perbanyak berbagi dengan sesama. Karena sesungguhnya dalam rejeki kita ada hak untuk orang-orang tak mampu disekitar kita.
Buatlah standar hidup sederhana, meskipun penghasilan luar biasa, sebab hidup sederhana akan menyelamatkan kita di masa yang akan datang.

No comments: