05 September 2017

IBU, TOLONG KAMI! (Korban dan pelaku bullying membutuhkan para ibu untuk melepaskan diri dari traumatisnya)



Dia sudah tersenyum sekarang, iya dia, anak yang saya asuh merupakan salah satu korban bullying.

Dia pernah berdiri di belakang kelas selama jam belajar, karena tidak dikasih kursi oleh teman-temannya

Dia pernah dibuka jilbabnya secara paksa hanya untuk menyakinkan teman-teman yang lainnya kalau dia baru saja digunduli karena berkutu, lalu dia diejek si gundul.

Dia dicubiti temannya dan tidak melawan.

Masa itu sudah selesai!

Kami membuatnya lebih percaya diri untuk melawan.
Kami berusaha membebaskan dirinya dari pengalaman buruk.
Saya memeluknya setiap pagi sebelum berangkat sekolah untuk menguatkan mencapai masa depan lebih baik, dan dia kini tersenyum dan mau berbicara...

Allah, bukan hanya dia korban bullying, ada banyak anak telah menjadi korbannya.
Namun Allah, pelakunya pun tolonglah mereka untuk tetap menjadi anak-anak yang tumbuh lebih sehat.

Korban dan pelaku sama-sama butuh pertolongan.

Ya, Bu, anak-anak yang menjadi korban bullying dan yang jadi pelakunya akan mengalami RISIKO yang cukup besar untuk terkena dampak psikologis berupa DEPRESI, KEGELISAHAN dan GANGGUAN RASA PANIK dalam waktu bertahun-tahun sejak masa bullying mereka berlalu.

Sebuah penelitian di Amerika mengungkapkan bahwa DEPRESI dan KEGELISAHAN yang terjadi itu sebagai DAMPAK bullying di sekolah. Ternyata keduanya (korban dan pelaku) sulit melupakan setidaknya hingga mereka berusia dewasa.

Selama ini peneliti sudah tahu seperti apa dampak bullying. Namun belum tahu secara pasti sampai seberapa lama dampak itu bertahan. Sebagian memprediksi dampak psikologis nya berlaku dalam jangka pendek. Dengan kata lain dalam hitungan beberapa tahun saja.

Namun kenyataannya hampir satu dekade sejak aksi bullying terjadi, kedua pihak antara korban dan pelaku, masih terlihat adanya jejak emosional pada korban dan pelaku bullying.

Penelitian yang dilakukan melibatkan 1.420 pemuda dari wilayah utara Negara Bagian North Carolina. Mereka ditanyai soal pengalaman terkait bullying antara usia sembilan hingga 16 tahun. Mereka kemudian diselidiki kemungkinan gangguan psikologis yang dialami hingga usia 26 tahun. 

Setelah membandingkan penelitian dengan sejarah keluarga para responden, khususnya terkait apakah mereka mengalami masalah di dalam keluarga, tim peneliti melihat bahwa jika dibandingkan dengan para pemuda di awal masa dewasa yang tidak punya sejarah menjadi korban atau pelaku bullying, para mantan korban memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami aneka kondisi psikologis.

Sebagai contoh, hanya 6 persen pemuda yang tak pernah menjadi korban bullying yang mengalami masalah psikologis. Di sisi lain, persentase bekas korban bullying yang mengalami masalah psikologis setelah masa dewasa mencapai 24 persen dan mereka yang pernah jadi korban sekaligus menjadi pelaku mencapai 32 persen.

ANAK YANG PERNAH MENGALAMI BULLYING DAN PELAKUNYA MEMILIKI RISIKO PALING TINGGI DIDIAGNOSA MENGALAMI MASALAH KEPANIKAN ATAU DEPRESI YANG BISA MENGARAH PADA KECENDERUNGAN UNTUK BUNUH DIRI.

Hal itu merupakan reaksi terhadap trauma sebagai korban bullying dan juga pengalaman sebagai pelakunya. 

Bahkan anak-anak yang tadinya menjadi korban, justru tidak membangkitkan empati mereka melihat bahwa bullying adalah cara untuk mendapatkan perhatian.

Sementara seorang yang pernah menjadi pelaku bullying akan 4x lebih tinggi risikonya untuk mengalami gangguan antisosial. Yang dicirikan dengan kurangnya empati dan kurang baik perilaku dalam berhubungan dengan orang lain.

No comments: