13 May 2007

Belajar bikin Fiksi ANAK : Cerita 4: RARA SI PEMURAH

Hal 1
Rara, anak perempuan manis berusia sepuluh tahun. Rara sekolah di sebuah SD tempat para anak orang kaya bersekolah. Rara memang anak keluarga kaya. Papanya pejabat di sebuah perusahaan hebat. Ibunya seorang dokter terkenal. Rara adalah anak tunggal yang sangat disayang.

Hal 2
Tapi, di sekolah Rara terkenal sangat pelit. Rara yang pintar paling pelit untuk mencontekkan kertas ujiannya pada teman-teman. Rara yang memiliki uang saku besar, paling jarang mentraktir teman-temannya. Rara dipanggil si pelit oleh teman-temannya.
“Aku bukannya pelit. Tapi, aku tidak melihat teman-teman membutuhkan bantuanku.” Alasannya pada Tary, seorang teman yang menanyakan padanya kenapa dia begitu pelit.
Tary hanya tersenyum sinis dan berkata, “Sekali pelit ya tetap pelit.”
Rara hanya tersenyum

Hal 3
Rara diajarkan oleh orangtuanya untuk membantu orang yang kesusahan. Walaupun mereka kaya, tapi mereka memang tidak sombong. Malah orangtua Rara memiliki kebiasaan bersedekah setiap hari.
”Jika mau membantu, kamu harus memilih pada yang benar-benar membutuhkannya dan juga bantuan yang bernilai positif.” pesan mama pada Rara

Hal 4
Bagi Rara memberikan contekan bukanlah bantuan yang bernilai positif.
”Aku akan mengajak kalian belajar bersama jika mau..” kata Rara
”Huuuu” tapi mereka mencemooh
Sebenarnya Rara sedih melihat hal itu tapi Rara memang tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak bernilai positif.

Hal 5
Akibat dari sikapnya itu kadang-kadang Rara dikucilkan oleh teman-temannya. Kalau sudah sebel, mereka bahkan membiarkan Rara duduk sendiri. Sebetulnya Rara bingung harus bagaimana tapi bukankan mencontek memang bukan perbuatan yang baik?
”Dengan memberikan contekan berarti kamu membuat teman-temanmu menjadi bodoh dan malas.” kata mama ketika Rara mengatakan kegundahannya

Hal 6
Di balik kesedihannya, Rara terus berusaha untuk mendekati teman-temannya dengan jalan yang dirasa lebih positif.
Kadang-kadang dia juga ragu akan dirinya sendiri, apakah memang dia pelit seperti yang dikatakan teman-temannya?
Hampir setiap malam Rara memikirkan cara yang terbaik agar dia dan teman-temannya bisa tetap bersahabat baik.
”Tapi aku harus bagaimana?” katanya berulang dalam hati

Hal 7
Di sekolah Rara memang terkenal si pelit, tapi mereka semua tidak tahu kalau sebagian uang saku Rara itu sering mampir di pengemis-pengemis sepanjang jalan yang dilalui mobil yang membawa Rara ke sekolah.
”Non, ntar pengemisnya malah keenakan loh.” kata pak Agus, supirnya
”Ini lebih baik pak, dibandingkan untuk jajan. Rara sudah kenyang tapi mereka kelaparan. Nanti kalau mereka sudah dapat pekerjaan, mereka tidak akan mengemis lagi kok.” kata Rara dengan yakin
Pak Agus hanya mengangguk, ”Tapi, siapa yang mau mempekerjakan mereka? ” diam-diam pak Agus bertanya pada dirinya sendiri

Hal 8
Kebiasaan itu terus Rara lakukan. Betapa berbedanya Rara di sekolah dan di luar sekolah. Rara tetap menjadi dirinya sendiri.

Hal 9

Suatu pagi yang mendung, Rara melihat di pinggir jalan seorang anak kecil dekil menangis di depan laki-laki brewokan berbadan tegap.
“Tolong bang, jangan ambil uang ini. Ibu saya sakit keras. Kalau ibu tidak dibelikan obat sekarang maka sakit ibu bisa bertambah parah.” Ujar anak itu sambil menangis. Sayup suaranya yang lirih jelas di telinga Rara. Rara membuka jendela dan menatapnya.
Terlambat lampu merah berganti lampu hijau. Mobil yang membawanya ke sekolah segera melaju kencang.
Hal 10
Sudah empat hari berlalu tapi Rara belum juga bisa menghilangkan bayangan suara anak dan wajahnya yang memelas. Entahlah, Rara begitu tersentuh untuk mencari tahu tentang anak lelaki sebayanya itu. Tapi, kemana? Sejak kejadian itu dia tak pernah lagi melihat dia di stopan lampu merah yang selalu dia lewati.

Hal 11
Hari ini ulangan, seperti biasa ruangan kelas menjadi sunyi. Semua sibuk dengan kertas ulangannya tapi Rara sibuk dengan pikirannya.
”Apa yang terjadi dengan anak lelaki kecil itu dan apa yang terjadi dengan ibunya?” katanya berulang-ulang dalam hati
”Pssstttt...pssstt..” terdengan suara samar memanggilnya
Rara menoleh ke arah suara. Ratmi komat kamit
Rara tahu Ratmi meminta jawabannya. Rara menggeleng.
Ratmi mencibir

Hal 12
Ah, semoga Ratmi tidak marah,dengus Rara dalam hati.
Tapi, sebenarnya Ratmi memang marah. Hati Ratmi begitu panas saat Rara mengeleng-gelengkan kepalanya.
”lihat aja nanti.” Ancam Ratmi

Hal 13
Namun, kemarahan teman-temannya tidak terlalu Rara pikirkan. Saat ini yang ada di pikirannya adalah anak yang menangis itu. Anak laki-laki dekil yang ibunya sedang sakit. Dimana dia?

Hal 14
”Pak Agus...” Rara memanggil supirnya
”Ya non...” pak Agus melihat Rara dari kaca spion
”Pak Agus masih ingat tidak anak yang beberapa hari yang lalu menangis karena uangnya mau diambil laki-laki brewokan?” tanya Rara
Dahi pak Agus mengeryit lalu menggeleng
”Di stopan ini kok pak..” Rara memberikan penjelasan
”Pak Agus tidak ingat, bahkan tidak tahu.”
”Yaaaaah, pak Agus payah. Masa nyetir nggak nengok kiri kanan.”
Pak Agus tersenyum, ”Memangnya kenapa non?”
”Rara ingin bertemu dengan anak itu.” katanya
Pak Agus menancap gas karena lampu hijau menyala
”Nanti kita cari ya non?” katanya santai
Rara manggut-manggut

Hal 15
Ternyata Pak Agus tidak bohong. Pulang sekolah Pak Agus mengajak Rara ke daerah stopan itu.
”Kenapa non ingin ketemu anak itu?”
”Rara kasihan pak...”
”Memangnya kalau kasihan mau digimanakan? Kan banyak orang yang dikasihani, contohnya pak Agus.” Pak Agus menyeringai
Rara tersenyum, ”Pak Agus kan sudah besar, dia anak kecil.”
Pak Agus memarkir mobilnya di tempat parkir sebuah bank dekat stopan itu.
”Non harus hati-hati sama orang-orang itu.” tunjuk pak Agus pada sekumpulan anak-anak dekil di pinggir jalan
”Yuk, gandeng pak Agus. Nanti kalau ada apa-apa biar pak Agus yang melawan.”
Rara tersenyum, ”Iiih pak Agus kayak superman.”
Lalu mereka menyebrang jalan

Hal 16
Rara menatap satu persatu anak yang berkumpul
”Anak itu tidak ada.” katanya dalam hati
”Adik-adik, saya mau bertanya, boleh?” tanya pak Ujang dengan hati-hati
”Tanya apa pak?” tanya satu anak bertubuh gempal
”Ayo non, non yang tanya.” pak Ujang menyuruh Rara yang bertanya
”Oh yang mau nanya anak ini.” kata anak lain yang berkulit gelap sambil menunjuk Rara
”Heeem....aku mau tanya, kalau di sini ada anak sebayaku yang kulitnya agak gelap, rambutnya botak, dan kurus?”
Semua saling memandang
”Yang kurus banyak ...” kata mereka sambil tertawa
”Aku serius...” Kata Rara meyakinkan
”Siapa yang nggak serius?”
”Terus kenapa cari si kulit gelap, botak ,dan kurus itu?”
”Karena aku pernah melihatnya menangis ketika seorang laki-laki mengambil uangnya.”
”lalu, apa hubungannya denganmu anak SD yang manis?” ledek mereka
”Aku kasihan saja, kudengar ibunya sedang sakit parah.”
”Lalu?”
”Heeemmm...”
”ooooh aku tahu siapa, itu si Ujang. Ibunya baru meninggal seminggu yang lalu.”
Rara merasa sedih mendengarnya.
”Ibunya meninggal?”
”Ya, kena TBC...”
”Dimana rumahnya?” tanya pak Agus
”Heeem....cepek dulu dong...”
Rara mengeluarkan uang sepuluh ribu
”Buat kalian semua. Bagi-bagi ya...tolong tunjukkan rumahnya.”

Hal 17
Ujang baru selesai mengamen, dia kaget ketika mendapati Rara ada di rumah petaknya.
”Siapa kamu?” tanyanya ketus, sambil memperhatikan Rara dari ujung rambut hingga ke ujung kaki
Rara menyerahkan sebuah bungkusan, ”Aku teman barumu, Rara.” katanya
Ujang tidak mengulurkan tangan, ”Aku tidak punya teman orang kaya. Dan apa kamu bawa bom di dalam bungkusan itu?” tanyanya acuh
”Tidak, aku bawa makanan untukmu.”
”Aku sudah makan.”
”Kamu tidak suka berteman denganku? namamu Ujang kan?” tanya Rara
Ujang duduk di lantai tanah, menghitung uang receh
”Kamu yang tidak akan suka berteman dengan pengamen seperti aku.”
Cring...cring...cring...terdengar suara receh yang sedang dihitung
”Besok aku ke sini lagi. Makanlah apa yang kubawakan ini. enak kok..” Rara meletakkan bungkusan nasi di depan Ujang dan berlari kecil menuju pak Agus

Hal 18
”Ujang, tiga hari yang lalu ada anak perempuan yang mencarimu. ”kata Tata ketika mereka sedang berkumpul
”Oh iya, siapa ya dia? dia kemarin datang ke tempatku?” kata Ujang bingung
”Namanya Rara, katanya dia tahu kamu waktu tidak sengaja melihat kamu menangis ketika si Bos ngambil duit kamu.”
”oooh..” Ujang membulatkan mulutnya
”Tapi...” dia melanjutkan
”Untuk apa dia mencariku?” tanya Ujang pada teman-temannya
Mereka semua menggeleng tanda tak mengerti

Hal 19
Hampir setiap hari Rara menunggu Ujang di rumahnya tapi tak pernah bertemu. Rara tidak tahu kalau Ujang mengintainya dari jauh
”Aku tidak mengerti kenapa dia terus mencariku?” Ujang bertanya dengan bingung pada dirinya sendiri

Hal 20
”Heiii...” sapa Rara ramah pada teman-teman pengamen
”Hallo gadis kecil..” sapa mereka tak kalah ramah
”Sudah ketemu Ujang?” tanya Tata
Rara Menggeleng
”Ujang tidak akan bertemu denganmu, kecuali kamu memberitahukan kami alasanmu terus mencari-carinya.”
Rara terdiam, lalu, ”Memangnya aku tidak boleh berteman dengan kalian?”
Semua kaget mendengar jawaban Rara

Hal 21
Rara sebenarnya punya maksud tidak sekedar berteman. Dia berpikir untuk belajar bersama mereka, mengajarkan mereka membaca, memberikan sedikit ilmu yang dia miliki untuk Ujang dan teman-temannya. Kelihatannya ini akan menjadi pengalaman yang menarik untuknya

Hal 22
“Gimana, Jang? Bisa tidak?” Tanya Rara tak sabar mendengar reaksi dari Ujang.
Ujang menggeleng pelan, “Itu sulit, Ra.” Katanya sambil menghena nafas berat
“Oalah Jang, masa sih belajar bareng aku saja susah.”
“Masalahnya saya harus bekerja.” Ujar Ujang lirih
“Sebentar saja….paling 15 menit saja. Aku ingin mengajakmu membaca tentang dunia.”
“Memangnya dunia bisa dibaca?”
Rara mengangguk, “kamu akan lihat nanti jika kamu sudah bisa membaca.”
Mata Ujang tak berkedip menatap Rara.
“Non, cepat pulang. Sudah sore.” Pak Agus melambai ke arah mereka
“Oke, aku pulang ya Jang? Sampai ketemu besok.” Rara berlari kecil kearah mobil
Mobil itu melaju. Ujang terus menatap hingga mobil hilang di tengah keramaian.

Hal 23
“Mama salah, aku belajar bukan dengan teman-teman sekolah.”
Mama menduga-duga dengan siapa Rara belajar bersama
“Lalu, dengan siapa? Hingga kadang sore menjelang kamu baru pulang. Betah sekali kelihatannya.” Goda mama
“aku berteman baik dengan Ujang.” Rara jujur
“Siapa? Ujang? Siapa itu Ujang. Seperti mama baru dengar nama itu.” mata mama membulat
“hihihi…Ujang itu pengamen di stopan dekat sekolah ma..”
“Apa?” mama kaget
“Kok mama kaget begitu? Bukannya mama bilang Rara diperbolehkan membantu teman yang memang membutuhkan dan memberi manfaat positif?”
Mama mengangguk-angguk
“Aku mengajari Ujang membaca ma…” lapor Rara bangga
“Lantas? Apakah ada yang menganggumu di sana?” rupanya mama agak khawatir juga dengan Rara
“Enggak..malah semua anak disana baik. Mereka semua mau belajar membaca.
Mama tersenyum, “Jadi, kamu jadi guru kecil ya?..” goda mama
“Ya iya laaaah..kan mama yang ngajarin.” Rara tertawa lepas
“Pak Agus?”
“Pak Agus kadang-kadang ikut belajar juga loh…hahahaha.”
Mama bangga sekali mendengar celotehan putri kecilnya itu.

Hal 24
Rara sibuk membagikan buku cerita yang kemarinnya dibeli di pasar buku murah bersama mama
“Hari ini, kita semua akan kebagian membaca cerita yang kalian pegang”
Ujang, Tata, Akin, Imu, Asih, dan semua anak yang tergabung dalam kelompok belajar Rara mengangguk
“Buku cerita ini harganya tidak mahal logh, tapi isi di dalamnya baguuuus sekali.” Rara berpromosi
Hihihi…mereka tersenyum melihat mimik wajah Rara yang lucu
Satu persatu membaca buku cerita dengan terbata-bata
Maklum mereka kan baru dua bulan belajar membaca
“ka..ka…ka…”Tata membaca terbata
“katak…”teriak teman-temannya sambil tertawa
Tata ikut tertawa
Hahaha…mereka sungguh bahagia dan ceria walau belajar di tempat yang sangat terbatas

Hal 25
Tary rencananya akan pergi ke mall dengan mama di suatu sore..
Ketika lampu di perempatan berwarna merah, Tari iseng membuka jendela karena melihat sekumpulan anak sedang berkumpul sambil membawa buku dan mereka saling berceloteh riang
“Ada apaan sih di sana?”Tunjuk Tary pada mama
Mama Tary ikut melihat
“Looh…” tiba-tiba mata Tary melihat seseorang yang sangat familiar dengannya
“Itu kan…”
Mobil kembali melaju
Tary bingung, “Itu kan Rara…” katanya pelan

Hal 26
Besok paginya kabar itu menyebar
“Masa sih si Rara bermain dengan anak-anak dekil di jalan.” Kata Intan tidak percaya
“Bukan sekedar bermain saja, kelihatannya Rara sedang belajar bersama mereka.”
Dahi mereka berkerut
“Belajar bersama?”

Hal 27
Tary memberanikan bertanya pada Rara
”Ra, beberapa hari yang lalu aku melihat kamu ada di deket lampu merah di perempatan jalan. Bener nggak itu kamu?”
Rara terdiam lalu tersenyum, ”iya...” katanya jujur
”Ih, ngapain Ra ada disana?Kamu nggak takut sama mereka?mereka kan anak-anak jalanan yang bandel”
”Siapa bilang,Tar? Mereka anak-anak yang baik dan semangat mereka luar biasa.”
”Semangat? Semangat apa?”
”Semangat belajar.”
”Ya, aku melihatmu belajar bersama mereka.”
”Mereka anak-anak kurang beruntung, tidak sekolah, tapi mereka tidak pernah kehilangan untuk belajar. Kita harus merasa bersyukur jika dibandingkan mereka. Kita bisa sekolah dan punya keluarga yang menyanyangi kita. saatnya kita menggunakan itu semua untuk kebaikan.”
Tary berkaca-kaca


Hal 28
Tary menyampaikan apa dikatakan Rara pada teman-teman semua
“Ternyata Rara sangat baik ya?” komentar mereka
“Seharusnya kita merasa malu pada Rara.” timpat Ratmi
Mereka semua menghela nafas

Hal 29
Tahu nggak sobat? saking penasarannya dengan gaya Rara mengajar, teman-teman di kelas Rara mengintip Rara di suatu sore sepulang sekolah

Hal 30
Akhirnya, mereka akhirnya mau belajar bersama Rara
“Lebih baik kita belajar bersama ya Ra, dibandingkan mencontek.”
Rara mengangguk
“Kalian mau belajar bareng dengan teman-teman yang lain?” Maksud Rara adalah belajar bersama dengan Ujang dan kawan-kawan
“Aku mau…” kata Fatih
“Aku juga mau..” Ratmi menyahut
“Kita semua mau Ra…” teriak mereka berbarengan
Lalu mereka tertawa bersama

Hal 31
Sejak itu Rara dan teman-teman sekolah mulai belajar bersama. Bahkan satu demi satu semakin bertambah komunitas belajar mereka. Dan tempat belajar mereka digeser di taman bermain tengah kota.
“Karena di sini halamannya luas dan kita bisa belajar sambil bermain.” Alasan Rara ketika sebuah koran sekolah mewawancarainya.

Hal 32
Nah, teman-teman Rara yang baik. Mulai sekarang, mulailah bahu membahu dan membantu teman-teman di jalan yang baik dan bernilai positif. Jadilah anak yang pemurah dan bermanfaat bagi sesama, seperti Rara dan pastinya seperti kamu sekarang ini :)

No comments: