13 May 2007

Belajar bikin Fiksi ANAK : Cerita 5 : MENJADI SASTRAWAN

Hal 1
Pangeran kecil itu masih beraksi di atas panggung dengan penghayatan yang luar biasa
“Aku ingin menjadi seseorang yang berharga untukmu. Maukah kau menerimaku sebagai pangeranmu.” katanya dengan tangan menjulur dan kaki menekuk pada seorang putri kecil di hadapannya
”Ya, aku bersedia...”
Lalu tepuh tangan riuh terdengar
Yup, pangeran dan putri kecil itu adalah si kembar Andra dan Andara yang sedang bermain operet untuk sebuah pagelaran kemanusiaan yang total penjualan tiketnya untuk korban banjir Lapindo.

Hal 2
Sepulang dari pagelaran itu, papa dan mama mengajak mereka ke toko buku
”Pa, kalau aku sudah besar nanti, aku ingin membuat pagelaran yang lebih bagus dari yang tadi.” Kata Andra
”Wah, bagus itu..” puji papa menyemangati
”Tapi, memangnya kamu tahu caranya?” timpal Andara
”Tentu saja tahu. Kata bu Guru sebelum opera itu dibuat, harus ada tulisan-tulisan dulu yang akan dijadikan panduan.”
”hihihi..maksudnya script kan?” ledek Andara
”ooooh begitu...” papa dan mama mengangguk-angguk

Hal 3
Rupanya keinginan Andra bukan main-main. Sejak itu Andra mulai banyak mencari tahu mengenai kegiatan menulis.

Hal 4
”Nah, mungkin tepatnya menjadi seorang sastrawan.” kata Papa ketika Andra kembali bertanya seputar keinginan itu
”Apa itu sastrawan?” tanyanya
”Sastrawan adalah istilah bagi orang-orang yang menghasilkan karya sastra seperti novel, puisi, sajak, naskah sandiwara dan lain-lain.” lanjut papa
”Jadi sastrawan itu susah tidak?”
”Kalau kamu mau dan yakin bisa, ya pasti bisa.” Papa memotivasi
”Siapa saja yang bisa dikatakan sastrawan, Pa?” tanya Andara
Mama menyahut, ” penyair, penulis, pujangga serta profesi-profesi sejenis itu.”

Hal 5
“Waaaaah hebat ya mereka bisa jadi sastrawan.” kata Andra sambil membayangkan dirinya telah menjadi seorang sastrawan

Hal 6
Diam-diam mama dan papa bangga dengan keinginan Andra untuk menjadi sastrawan.
Bahkan suatu hari papa membelikan Andra banyak sekali buku
”Ih papa buku yang dibeli banyak sekali, mending beli sepeda baru.” katanya
”Loh, katanya mau jadi sastrawan”
”Apa hubungannya dengan buku.”
”Hemm, Andra menjadi sastrawan itu salah satu modalnya adalah banyak membaca.”
”Kok baca?”
”Darimana para sastrawan itu memiliki banyak kosakata untuk merangkai kata selain melalui kegiatan membaca.”
”Wah pa, kalau harus baca segini banyak sih. Andra nyerah deh..” katanya sambil manyun
”Ya, baca saja yang kamu sukai terlebih dahulu.” pesan papa
Dan Andra pun mulai membaca

Hal 7
Pagi itu Andra masih sibuk dengan bacaannya
“Bagaimana kalau sarapan dulu.” kata mama
“Aku sudah banyak membaca buku-buku yang bagus tapi aku belum bisa membayangkan bagaimana menulis seperti sastrawan yang menulis buku itu.” sungutnya
“Andra, menjadi sastrawan itu kan butuh proses. Nanti juga kamu bisa, maka…”
“Ya?”
“mulailah dari sekarang untuk belajar menulis.”

Hal 8
Andara punya usul “Bagaimana kalau tulisan yang kakak buat Andara baca.”
Andra tertawa terbahak, “Dasar konyol! Memangnya kamu bisa menilai tulisan kakak?”
Andara mengangguk, “kenapa tidak? kan papa sering beli buku jadi Andara juga tahu mana buku yang enak dibaca atau tidak.” katanya tanpa kehilangan semangat
Andra berhenti tertawa, “ bener juga ya? heem, adik kakak pinter deh. Tapi…”
“Kenapa?”
“Apa kakak bisa jadi sastrawan?”
Andara menatapnya, “Kakak, sebenarnya apa enaknya jadi sastrawan?” tanya Andara polos

Hal 9
Andra sedang membayangkan dirinya menjadi sastrawan terkenal. banyak yang mengerubuti dirinya untuk meminta tanda tangan di buku yang baru saja diterbitkan. Puiiih, matanya menerawang jauh ke langit ke tujuh.

Hal 10
”Kakak..” Andara menepuk pipinya
”Apa enaknya jadi sastrawan?” tanya Andara sekali lagi pertanyaan itu dilontarkan
”Jadi terkenal.” kata Andra tegas
Hi hi hi hi..mereka tertawa berdua

Hal 11
Menjadi sastrawan itu asyik, bisa terkenal dan dimintain tanda oleh banyak orang
“Tapi, lebih terkenal jadi artis sinetron dong.” kata Rio saat Andra mengatakan cita-citanya
“Bisa muncul di TV tiap hari lagi.” sambul Alen dengan hidung kembang kempis
“Iya sih..tapi aku tetep milih jadi satrawan. Lagipula dengan menulis, kata papa, kita bisa sambil curhat.” jawab Andra
“Oooh…”
“Dan curhat itu bikin awet muda.”
“Memangnya kamu sudah tua?” kata Alen dan Rio heran
Ha ha ha ha…mereka tertawa ngakak


Hal 12
Andra tersenyum puas, di tangannya ada beberapa lembar kertas
“Akhirnya aku bisa menulis juga.” katanya sambil tersenyum
Andara yang sedari tadi memperhatikan kakaknya langsung usil, “kakak kenapa tertawa sendiri? pasti lagi ngekhayal dikejar-kejar fans ya..?” ledek Andara
“Bukan lagi….”
“Lalu?”
“Akhirnya kakak sudah membuat sebuah tulisan menarik.”
“Oh ya? boleh Andara baca?”
“Boleh..”
“Karya kakak ini dinamakan cerpen alias cerita pendek karena jumlah halamannya cuman 7 halaman dan ceritanya langsung selesai.”
“Lho memangnya ada yang lain selain cerpen?’”
“Karya sastra itu ada cerpen, cerbung, novel, novelet dan banyak lagi.”
“iiih, kakak dah pinter sekarang.” puji Andara
Andra tersenyum senang mendengar pujian adiknya itu

Hal 13
Pujian dari Andara semakin menguatkan Andra untuk bercita-cita menjadi sastrawan
“Semua orang bisa menjadi apapun yang mereka mau, asal mereka yakin mereka bisa mencapainya.” nasehat mama itu tidak pernah Andra lupakan sampai kapanpun

Hal 14
Selain menjadi hobby membaca, Andra menjadi kian rajin menulis. Bahkan dia tidak pernah sungkan untuk meminta komentar dari teman-teman sekolahnya mengenai tulisan yang dia buat.
“Andra, apakah kamu bisa membuat puisi. Bundaku besok ulang tahun dan aku ingin memberinya puisi yang baguuuuus sekali.” kata Rima, teman sekelasnya
“Lalu?”
“Ya tentu saja aku akan memintanya pada sastrawan yang handal seperti kamu. mau ya, membuatkan aku puisi?” pinta Rima
“Tentu saja.” jawab Andra semangat
Andra senang membantu teman-teman yang lain dengan hobby menulisnya

Hal 15
“Rupanya semakin sering kita membaca dan menulis tentang apa saja. semakin terlatih kita mengeluarkan ide di kepala.” kata Andra pada Andara
“Mungkin saja kak, asal kakak tidak membuatkan pr mengarang teman-teman. kan membuatkan pr orang membuat mereka tidak belajar.” sahut Andara
“Siyap kapten!” ujar Andra sambil menjawil pipi Andara
“Kecuali prku loh kak hahahaha…”
Idiiiih…….hahahaha


Hal 16
Andara bilang kepada mama dan papa kalau Andra sudah bisa membuat tulisan-tulisan yang bagus, teman-temanpun pada ikut minta dibuatkan tulisan. Mama dan papa sangat senang mendengarnya

Hal 17
"ooh, jadi ini sastrawan kecil kita.” Goda papa
"Papa, ngeledek terus.” kata Andra
Mama dan papa duduk di kursi Sofa
”Jadi kapan acaranya dimulai?”
”Loh, acara apa, Pa?”
”Kata Andara, Andra mau membacakan cerpen bagus yang baru dibuat.”
Andra pun tersipu

Hal 18
Jika papa mendukung dan memberikan pandangan positif untuk karya Andra tapi tidak semua setuju dengan itu,
”Kok tulisan seperti ini dibilang bagus?” komentar Rasya sinis ketika membaca salah satu tulisan Andra di mading sekolah
Andra yang kebetulan lewat langsung saja telinganya memerah

Hal 19
Andra tidak bisa menerima kritik yang didengarnya. Dia begitu sedih

Hal 20
”Ma..” Andra berniat menceritakan kesedihannya pada mama
Mama yang sedang sibuk memotong wortel, meletakkan pisau dan berbalik menghadap Andra, ”Ada apa sayang?”
”Apakah tulisan Andra jelek?”
Mama menatapnya, ”loh kok bertanya seperti itu?”
”Ada yang mengatakannya ketika dia melihat tulisan Andra di mading.”
”Oooh, jadi itu yang membuat kamu sedih beberapa hari ini?”
Andra terdiam tak menyahut

Hal 21
”Andra, kamu harus bangga dengan cita-itamu menjadi seorang sastrawan. Karena keingnan itu tidak banyak dimiliki oleh anak seusia kamu.” kata mama sambil mengajak Andra duduk di ruang tengah
“Memang sih, menjadi seorang sastrawan itu tidak mudah. sebab setiap orang punya pendapat yang berbeda pada sebuah karya sastra.”
”Tidak jarang semangat si satrawan bisa langsung runtuh ketika karyanya dikritik. Tapi yang paling bagus sih, sastrawan yang pantang menyerah dengan kritik, malah menggunakan kritik sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas tulisan. ”
”Jadi?” tanya Andra mendengar pemaparan mamanya
”Jadi, terus semangat dong!” kata mama sambil mengepalkan tangan
”Ya, seperti semangat ketika kita mendapatkan ice cream dari papa.” celetuk Andara yang datang tiba-tiba ke ruangan
Hal 22
Begitulah, Andra mulai menyiapkan mental untuk menghadapi kritik maupun pujian yang datang. semua karena dia harus terus memperbaiki karyanya
Hal 23
Andra malah semakin sering menunjukkan karya-karyanya kepada teman-teman
”Wah, cerita yang ini seru Ndra” puji Ratmi
”Kalau puisi ini kayaknya kurang deh.” komentar Nanat
”Aku sedih banget baca cerpenmu, iikh, kenapa sih harus berakhir sedih gitu?” tanya Aril
Dan komentar-komentar yang diberikan oleh mereka selalu Andra terima dengan lapang dada
Hal 24
KADANG-kadang Andra mengalami juga kesulitan membuat tulisan
“Darimana sebenarnya ide itu muncul, ma?” mama mengelus kepala Andra dan menatap anaknya dengan penuh sayang
“Darimana saja. Bahkan kamu menuliskan pengalamanmu ketika tidak memiliki ide untuk menulis.” kata mama
Hal 25
Lantas Andra menulis apa saja yang dia inginkan. Beragam pengalaman sehari-harinya menjadi bahan tulisan.
”Aku benar-benar menyukai kegiatan ini.” katanya pada Andara
”Tapi kakak curang, kakak tidak pernah mengajariku menulis.” sungut Andara sebel
”Modal kakak kan membaca dan terus belajar menulis. Kamu pun bisa melakukannya.”
”Tapi aku tidak berbakat.”
”Semua orang bisa kok. Yuk belajar menulis.”
dan mereka pun belajar bersama
Hal 26
Kemahiran Andra menulis diketahui oleh Bu Juwita
”Andra, ada lomba menulis di kotamadya. Andra mau ibu daftarkan?” tawaran bu Juwita menarik juga
”Boleh bu, Saya ingin coba bersaing dengan teman-teman yang lain.”
Bu Juwita mengangguk-angguk bangga

Hal 27
Sebetulnya Andra ketika mengikuti perlombaan menulis belum pernah menang tapi semangat Andra tidak pernah padam
”Yang penting kamu belajar.” kata mama
”Kelak Andra juga bisa menang.” kata Andra Optimis

Hal 28
Kata mama dan papa sebetulnya Andra sudah menjadi pemenang di setiap perlombaan karena Andra tidak pernah merasa sedih jika dia kalah justru dia semakin bersemangat untuk terus menulis dan mewujudkan mimpinya

Hal 29
”Mimpi pertama yang ingin Andra wujudkan adalah membuat operet di perpisahan sekolah. karena Andra memiliki keinginan menjadi sastrawan ketika Andra bermain di operet itu.” kata Andra
”Wujudkanlah!” kata mama dan papa

Hal 30
Perpisahan sekolah tiba...
Andra dan Andara akan melepas sekolahnya di SD. Pagelaran operet digelar. Kali ini yang menjadi pemain bukan Andra, sebab Andara adalah penulis dari Operet yang berjudul ”Mencari Kelinci Berwarna Hijau”

Hal 31
Operet yang ditampilkan mendapat sambutan yang luar biasa dan Andra memang benar-benar merasa menjadi sastrawan

Hal 32
Ternyata menjadi sastrawan itu asyik banget karena dengan menulis kita bisa meluapkan perasaan tentang apa saja bahkan menulis tentang apa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Lho, memangnya ada kelinci berwarna hijau? hahahahaha

No comments: