06 March 2018

MENJADI BAHAGIA BUKAN DENGAN MENGORBANKAN KEBAHAGIAAN YANG LAIN



(Menyikapi Maraknya Kasus Perceraian di Media dan Imbasnya pada Masyarakat)
-
-
Perceraian bukan pembuka jalan kebahagiaan atas rumitnya masalah yang terjadi di dalam rumah tangga Anda. Dan salah satu kata yang tidak boleh dipermainkan adalah adalah CERAI.

Perceraian merupakan akhir dari sebuah pernikahan Ketika suatu perkawinan sering diwarnai pertengkaran, merasa tidak bahagia, ketidaksetiaan pasangan atau masalah lainnya seringkali orang berpikir untuk segera mengakhiri pernikahan tersebut dengan pasangan hidup. Dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak pasangan yang menikah.

Alasan lain bercerai adalah memberi pasangan hidup PELAJARAN, sebagai jalan keluar yang baik untuk mengakhiri rasa sakit hati. Tetapi dengan bercerai tidak berarti Anda bebas dari masalah ada masalah-masalah yang dihadapi.

Menurut angka statistic, menunjukkan bahwa angka perceraian semakin lama semakin membesar. Itu seringnya terjadi pada 10 tahun pertama perkawinan. Karena perceraian ini banyak dilakukan oleh kaum selebriti yang membuat perceraian menjadi masalah pilihan gaya hidup.

Tahukah Anda akan banyak sakit hati dan ketidakbahagiaan akibat dari sebuah perceraian?

Jadi, mana mungkin bisa dikatakan perceraian itu merupakan sebuah awal KEBAHAGIAAN dari menutup sebuah sakit hati yang terjadi di dalam pernikahan.

Mari kita lihat dampak terdekat akibat dari perceraian:
Pertama, ANAK. Posisikan diri Anda ketika menjadi seorang anak dari orang tua yang bercerai. Sangat besar kemungkinan anak akan TERLUKA, TERSAKITI, KEHILANGAN KASIH SAYANG dan MENJADI TIDAK BAHAGIA hidupnya mulai sejak perceraian sampai hari-hari berikutnya.Tidak ada anak yang tidak terluka melihat orang tua bercerai. Berita perceraian itu terhadap anak yang akan tetap sedih terluka sakit hati dan mentalnya terpuruk.

Sangat sedikit sekali anak yang menjadi korban perceraian itu MAMPU BAHAGIA KEMBALI seperti layaknya ketika ia masih memiliki orang tua yang lengkap hidup dalam satu atap, saling menyayangi, kasih mengasihi dan saling mencintai dalam sebuah keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Itu baru dampak terhadap anak. Dapatkah Anda bayangkan bahwasanya untuk menciptakan sebuah KEBAHAGIAAN itu diawali dengan sebuah RASA SAKIT?

Sejatinya MEMBANGUN KEBAHAGIAAN itu adalah dengan fondasi CINTA, KASIH SAYANG, SALING PERCAYA dan KOMITMEN  dalam sebuah keluarga.

Jika ada yang mengatakan perceraian sebagai salah satu jalan bahagia karena sakit hati dengan sebuah pernikahan, mungkin itu adalah pilihan terkecil dari sekian orang yang belum menemukan bahagia yang sebenarnya dalam pernikahan.

Lantas bagaimana caranya pasangan untuk senantiasa berbahagia di dalam pernikahan yang sedikit banyaknya mengandung kisruh permasalahan dan pertengkaran?

Sangat banyak artikel yang menceritakan, yang menganjurkan, bagaimana selayaknya pasangan pernikahan untuk bahagia. Pasangan yang supaya tidak terjebak dalam kemelut yang berujung perceraian. Sangat banyak.

Namun menurut saya, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa ketika Anda menikah, di sana ada RIDHO ALLAH SWT, RIDHO ORANGTUA, RIDHO SANAK SAUDARA, RIDHO MASYARAKAT dan PENDUDUK LANGIT yang menyaksikan. Bagaimana dua insan berusaha berjalan menyempurnakan sebagian agamanya untuk BERDAKWAH BERSAMA  bersama di bumi Allah. Ini patut menjadi pikiran, supaya PIKIRAN BURUK untuk mengakhiri pernikahan tidak menjadi pilihan ketika ada masalah.

Semoga bermanfaat...


No comments: