21 August 2017

NAK, JADILAH SELEBRITIS! Fenomena Orang Tua Mengorbitkan Anak Jadi Selebritis



Keceriaan dan BAKAT ALAMIAH anak memang selalu MENARIK untuk diikuti dan tentu saja setiap orang tua bangga akan hal itu. Wajar pula jika ingin MEMPERTONTONKAN pada khalayak. Tapi ketika bakat anak sudah masuk dalam RANAH TELEVISI, dipoles sedemikian rupa, kesan natural itu seolah HILANG berganti dengan panggung PROFESIONALITAS selebritis.

AJANG ADU KEBISAAN rupanya tidaklah asing lagi ditelinga masyarakat kita. Lembaga survei global AC Nielsen mengatakan bahwa sepanjang tahun 2012, ajang pencarian bakat berhasil menjadi PRIMADONA pemirsa layar kaca. 

PERTANYAANNYA adalah, apakah hitung-hitungan angka penonton dan rating TV itu SEBANDING dengan pribadi anak yang DIEKSPLOITASI menjadi selebritis?

Tidak diragukan lagi, hal demikian kuat kepada bentuk EKSPLOITASI ANAK. Fenomena orang tua mendambakan anak menjadi selebritis ini menjadi TOPIK HANGAT dalam beberapa tahun belakangan. 

Namun sebagian pakar psikologi mengatakan bahwa ajang adu bakat tersebut memiliki SISI POSITIFNYA. Yaitu untuk mengasah KEBERANIAN dan RASA PERCAYA DIRINYA anak. Tapi harus dipastikan terlebih dulu, anak tidak dipaksa untuk mengikuti acara tersebut. 

Memang jarak antara EKSPLOITASI dengan keinginan mengembangkan bakat anak sangat tipis. Orang tua adalah pihak yang PALING memahami MOTIVASI memasukan anak ke ajang tersebut. 

Dan tentu saja, memiliki anak sebagai seorang selebritis juga bukan berarti tanpa RESIKO. Gegar budaya adalah salah satu bahaya yang senantiasa mengintai.

CULTURE SHOCK atau gegar budaya merupakan keterkejutan yang terjadi pada anak. Dimana yang awalnya bukan siapa-siapa MENDADAK jadi terkenal. Yang sehari-harinya hanya di rumah dan sekolah, sekarang jadi ada jadwal wawancara, pemotretan, syuting iklan, wah jadi padat!

POPULARITAS itu belum tentu mampu ditanggung oleh anak. Karena anak dikondisikan untuk HARUS selalu ceria dan terkesan tidak pernah lelah didepan kamera. Padahal yang namanya anak pasti ada titik jenuhnya dan butuh kebebasan bermain. 

Akhirnya pada usia dewasa anak tersebut banyak yang mengalami masalah yang rumit. Terjerat obat-obatan terlarang misalnya. 

Marilah bijaksana sebagai orang tua memandang bakat anak. Jangan sampai jatuh kepada eksploitasi dan merugikan anak itu sendiri nantinya.

No comments: