24 July 2017

AKU IRI, BUN (Ketika anak merasakan yang berbeda pada dirinya, apa yang harus orangtua lakukan?)



Kata-kata, "Aku iri, Bun." diucapkan oleh Nanit suatu sore.
Cacar yang menimpanya telah menghasilkan benjolan-benjolan besar di seluruh tubuhnya
"Aku iri pada dede yang mulus kulitnya" lanjutnya
Padahal sebelum Nanit cacar, yang pertama cacar adalah adiknya dan Nanit sempat berdoa agar dia juga ikut sakit biar lebih disayang orangtua
Setelah Nanit cacar, diapun iri pada adiknya yang sudah sembuh

Saya lalu browsing ke google dengan kata kunci, "anak-anak disabilitas" dan menunjukkan betapa banyak anak yang berbeda dengan anak lain
"Ada anak tidak punya kaki, dia iri pada yang punya kaki"
"Ada anak tak punya tangan, tapi dia tetap semangat melanjutkan hidupnya"
"Ada anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata dan dia tetap menjadi anak yang bersinar dengan bidang yang dipilihnya"
"Ada anak yang sakit lebih parah dan dia iri pada anak yang sehat"

BAYANGKAN saja anak-anak yang mereka memiliki kekurangan dan tidak bisa melepaskan diri dari kekurangannya, pasti akan sedih, ya, Nak. Dan, akan jauh lebih sedih ketika anak-anak lain mengejeknya.
MAKA, jadikan rasa iri itu menjadi awal untuk merasakan apa yang anak-anak berkebutuhan khusus rasakan.
RANGKUL mereka...
BERSAHABAT dengan mereka...
CINTAI mereka...
Mereka tidak berbeda, mereka istimewa dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.
Nanit dan Ammar makin paham (semoga) menjadi anak yang dilahirkan berbeda tetap memiliki hak SAMA untuk menjadi BINTANG KEHIDUPAN.

Bagaimana agar anak yang lahir sempurna bisa menerima kondisi anak yang istimewa tanpa mengejek atau membullynya?
Pertama, Kenalkan pada anak-anak kita pada anak-anak istimewa tersebut, baik melalui dunia maya maupun dunia nyata.
Kedua, Latih empatinya untuk tidak melakukan reaksi secara langsung melihat perbedaan antara dia dan anak istimewa.
Ketiga, Katakan pada anak bahwa semua orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan, namun semua anak layak jadi bintang kehidupan.
Keempat, Tempatkan posisi anak "seandainya ada di posisi anak istimewa" pasti akan sedih jika diejek
Kelima, Perlihatkan prestasi anak-anak istimewa pada anak-anak kita, "ternyata mereka hebat ya meski hanya memiliki satu kaki?" pertanyaan itu yang sering saya ajukan pada Nanit dan Ammar.

LANTAS, bagaimana jika anak kita yang istimewa? Cacar air saja membuat anak menjadi minder apalagi keistimewaan yang lainnya.
Pertama, Tekankan bahwa dia berharga, tak peduli kondisinya seperti apa
Kedua, Katakan bahwa orangtua sangat mencintainya, tak peduli dia dilahirkan seperti apa
Ketiga, Bangun kemampuan dirinya yang bisa menjadi daya saing yang sama dengan anak-anak lainnya
Keempat, Tingkatkan percaya dirinya agar dia merasa tidak "berbeda" dengan anak lainnya
Kelima, Latih ketahanan mentalnya menerima respon negatif masyarakat atau teman atas keistimewaannya
Keenam, Pastikan dia tahu bahwa dia tetap anak yang punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya
Ketujuh, Tingkatkan keyakinan anak pada Allah dan tetap menyukuri apapun kondisi dirinya
Kedelapan, Gali bakat anak di bidang apa dan kuatkan bakat tersebut menjadi sebuah kelebihan

BU, saya tidak paham bagaimana perasaan ibu yang memiliki anak yang istimewa dan luar biasa, namun saya berdo'a semoga keberkahan, kebaikan, kekuatan, dan cinta kasih selalu ada di dalam kehidupan Anda, Aamiin.

No comments: