29 August 2016

Penulis Itu Harus Jadi BUNGLON!



Menulis buku Auto biografi  atau biografi membutuhkan skill bukan hanya sekedar pandai menulis tapi ada skill khusus yang wajib diperhatikan. Ilmu ini saya sebut ilmu bunglon!
Ilmu bunglon merupakan ilmu yang membuat kita 'mendadak' menjadi orang yang sama dan memosisikan yang ternyaman bagi tokoh yang kita tulis.

Ketika menulis buku Auto biografi tidak jarang saat menulis saya menangis, marah, dan sedih menyesuaikan dengan cerita yang saya tulis dan inilah yang membuat tulisan itu kemudian lebih bernyawa serta sering mendapat pertanyaan dari sang tokoh, "kok seperti saya yang nulis" :)

Dengan menulis buku biografi saya semakin mendalami arti hidup sesungguhnya, saya belajar menjadi sukses itu bukan sekedar perjuangan mencapai sukses, melainkan berhubungan dengan nilai-nilai hidup yang menguatkan seseorang mengapa dia harus sukses.

Dari menulis buku biografi saya juga belajar, bahwa kesuksesan seseorang tidak melulu tentang berapa banyak harta bisa dia kumpulkan, berapa bisnis bisa dikembangkan, tapi juga seberapa manfaatnya dia bagi sesama, dan seberapa kuat dia menahan badai yang menerjang yang bisa saja meluluhlantakkan hidupnya.

Dari menulis buku biografi saya semakin siap menghadapi setiap episode kehidupan, menjadikan tiap episode sebagai ajang saya untuk belajar.  Membuka mata saya bahwa hidup akhirnya merupakan satu pembelajaran ke pembelajaran lainnya.

Dengan menulis buku biografi, saya dapat menyelami pemikiran-pemikiran orang lain. Saya bisa mempelajari bagaimana cara orang lain dalam mengembangkan diri.  Bagaimana orang lain menyikapi setiap persoalan yang dihadapinya hingga bisa menjadi dirinya yang sekarang.

Lalu, bagaimana ketika sedang berhubungan dengan sang tokoh? saya pun menjadi bunglon yang tepat. Saat menulis seorang profesor, saya memosisikan diri menjadi seorang murid. Saat menulis seorang kakek, saya mendadak seperti cucunya. Saat menulis seorang pengusaha, saya lebih senang menjadi teman diskusinya. Saya menjadi bunglon dan ternyata kunci dari kekuatan menulis di lini autobiografi adalah sepandai apa kita mengubah diri kita saat bersama sang tokoh, meski tentu saja tidak boleh mengubah karakter penulis itu sendiri.

Saya menikmati konsep bunglon ini dan saya rasa tokoh yang tulis pun demikian, karena hingga kini saya jadi memiliki hubungan baik dengan mereka seperti saat saya menuliskannya, mereka menganggap saya murid, cucu, teman dekat, hingga adik ^__*

Ingin tahu lebih lanjut mengenai konsep BUNGLON?

No comments: