23 February 2014

Bukan Sosialita tapi SosialKita

Saya tidak akan menyebutkan namanya, sebab saya hanya ingin menyebarkan inspirasinya tentang cerita beliau atas izinnya menceritakan tanpa perlu mengupas namanya.
Saya mengenalnya dalam satu pertemuan dan tiba-tiba kami dekat satu sama lain. Ketika saya berkunjung ke Jakarta, kami bertemu, tidak tanggung-tanggung seharian, beliau mengikuti setiap meeting yang saya lakukan selama di Ibu Kota.
Dalam 3 bulan mengenalnya dan 3 kali pertemuan intens saya yakin dia adalah partner yang bisa menjalankan beberapa project yang didapatkan.
Beliau istimewa!
 
Kami berbicara tentang life style perempuan masa kini. Mall, baju mahal, gadget, arisan, serba asisten rumah tangga, salon, dan banyak hal lainnya.
“Kasihan perempuan yang tergerus pergaulan, dia akan tersiksa sebab ada uang tidak ada uang dia musti beli hermes baru. Tapi uang mungkin selalu ada, jatuhnya hanya mubazir. Jika uang itu digunakan yang lain akan lebih menguntungkan. Penggunaan kartu kreditpun membengkak tidak kira-kira, ini juga merepotkan.” Ujarnya sambil menyantap makanan.
 
Obrolan kami memang selalu asyik. Saya menganggap beliau cerdas, bijak, dewasa, dan menyamankan. Mungkin juga karena basic pendidikan beliau di bidang magister psikologi membuat banyak hal dipandang dalam sudut humanisme yang proporsional.
Tidak jarang, beliau memberi masukan atas banyak hal. Karena kekonyolan saya merasa sudah dekat, saya izin, “aku panggil nama ya, nggak perlu pake embel-embel mbak?” Tanya saya. Dan lalu kami saling memanggil nama, meski beliau bilang, “saya sungkan karena wibawamu.” Tsyaaaaaah saya geliiii….
Kami ya kami kemudian menjadi satu….
 
Satu waktu dalam satu kunjungan ke Jakarta, saya ternyata harus menginap dan beliau menawarkan menginap di rumahnya. Oke, saya menginap…
Dari situlah saya tahu identitasnya lebih lengkap. My God, beliau lebih tua dari saya dan beliau adalah istri seorang Senior Vice Presiden sebuah Bank terkemuka…haaaaa….
“Tetap panggil saya nama, nggak perlu pake mbak” ujarnya. Xixixix….saya cekikikan.
Untuk seseorang seperti beliau, saya acungkan jempol. Ada di lingkungan perempuan tingkat atas dengan pergaulan yang berada di level atas tetap membuat beliau membumi luar biasa.
“Saya menyukai cara saya. Tetap mengurus anak sendirian, menyelesaikan pekerjaan rumah, bersosialisasi dengan banyak kalangan, membangun potensi diri yang bermanfaat, berbagi, menulis, menghabiskan banyak waktu di rumah, dan semua hal yang bisa dilakukan bersama-sama dengan perempuan lainnya.” Ujarnya.
 
Untuk seseorang dengan level sosial ekonomi seperti beliau, orang sering menyebutnya dengan sosialita, tetapi beliau adalah sosial-kita. Sebab saya mengamati sepanjang pertemuan perjalanan kami bersama ternyata beliau rajin sekali membagikan makanan dan oleh-oleh pada semua orang, diam-diam menjadi donatur sosial, dan aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat dibandingkan membeli produk mahal yang sebetulnya bisa beliau beli.
Ya, menjadi sosialita dengan segala kemewahannya memang adalah pilihan masing-masing perempuan, termasuk ketika kitapun akhirnya memilih menjadi sosialkita…
 
Anda pilih yang mana?

No comments: