15 January 2014

Perempuan Tanpa Tulang Punggung






“Teh, jika suatu saat ada apa-apa dengan saya, tuliskan kisah saya ya..” ujarnya suatu hari saat kami sedang berdiskusi melalui inbox facebook. Mata saya memanas dan bulir-bulir air mata menetes tak tertahan lagi, saya menangis.


Setiap bertemu dengannya saya kerapkali dilanda khawatir. Uni, panggilan untuk perempuan tegar odapus yang menjadi sahabat saya dalam beberapa bulan ini. Pertemuan saya dengannya berawal dari kegiatan di komunitas Ibu-ibu Doyan Bisnis. Namun pada saat itu saya belum ngeh dengan uni karena saya sedang sibuk dengan berbagai persiapan sebagai pemateri kegiatan.
Pada bulan Oktoberan 2013 saya dipertemukan kembali dengan uni dalam kegiatan kopdar blogger Ibu-ibu Doyan Nulis di Jakarta dan mulai saat itulah kami kian dekat. Uni bercerita tentang penyakitnya tanpa beban dan saya menatap wajahnya lekat mencari sedih di wajahnya — tidak ada sedih disana.

“Kalau uni ke Bandung, sempatkan ke rumah saya.” ajak saya. Seminggu kemudian uni benar-benar ke Bandung dan menginap di tempat saya.
Sepanjang malam kami mengobrol, saya lebih mendengarkan uni yang menceritakan dari waktu ke waktu perjalanan hidupnya. Tanpa terasa saya terus menerus menitikkan air mata, satu hal yang saya sampaikan saat itu adalah “kalau saya jadi uni, belum tentu saja mampu” ujar saya
Ya, uni adalah salah satu odapus yang tidak pernah berhenti mengucap syukur, tidak pernah lelah berjuang, tidak mengeluh dalam keadaan sesulit apapun,  dan optimis menatap hidupnya, seperti yang dituliskan dalam status facebooknya, “tak masalah berapa kali pun jatuhnya yang penting tahu bagaimana bangkitnya. Nikmati saja tiap sensasinya” dan juga kalimat yang selalu membuat saya merasa beruntung bisa mengenalnya, “Teh, lupus tidak akan membuat mati semangat saya.” Subhanallah…

Bicara tentang uni, saya juga kaget ketika memeluknya kok badannya keras, “saya pake penyangga tulang teh, tulang saya sudah rapuh” :’(, lalu dia membuka dua kancing baju dan menunjukkan penyangganya. Ya Allah, uni……saya justru yang rapuh melihatnya, sedangkan uni hanya tersenyum simpul, “tak apa teh, saya baik-baik saja.” ujarnya.
Persahabatan saya dan uni mulai berjalan seperti air. Setiap bertemu kami saling berbagi cerita, tidak jarang saya melibatkan uni dalam semua aktivitas. “Uni ikut dengar saja ya….” dan biasanya uni duduk manis di depan saya dan klien saya dengan asyiknya.
Meski sakit, meski dengan segala keterbatasan, semangat uni untuk belajar sangat besar. Salah satu mimpinya adalah menjadi penulis. “saya ingin menulis, teh. Menyejarahkan hidup saya, produktif, dan bermanfaat.” ujarnya.

Ya uni, uni dengan tulang punggung yang disangga tetap bisa berjalan tegap menatap masa depan. Menurutnya tidak ada saat yang tepat untuk protes apa lagi marah pada keadaan, tugas manusia adalah menghadapi, menjalani, dan nikmati apa yang ada.
Teruslah berjalan dan melangkah, karena sesungguhnya Allah tahu apa yang manusia butuhkan, bukan begitu uni?

2 comments:

puteriamirillis said...

ya Allah, ngilu saya bacanya mbak

indari mastuti said...

Iya Mbak, maka bersyukurlah selalu bagi kita yang masih diberi kesehatan. Tetap semangat ya :)