15 January 2014

Ibu Cermin Anaknya, Anak Cermin Ibunya


 Saya semakin menyadari bahwa ibu adalah benar-benar teladan bagi anaknya. Ini yang menyebabkan saya amat berhati-hati dalam melakukan sesuatu, sebab persis di belakang saya ada 2 anak yang akan “meniru”.


Saya yang bersuara dengan volume keras kerapkali membuat saya sebal ketika Nanit kemudian bersuara keras, “Nanit teu kenging tarik-tarik teuing” ujar saya. “Tapi bunda oge nyariosnya tarik”jawabnya. Dan saya kemudian membuat komitmen dengan Nanit untu bersuara lebih lembut :)
Kemudian kebiasaan saya lainnya adalah grasak grusuk kalau jalan sehingga ada aja yang jatuh. Nanit juga demikian, “Nit, papahna lalaunan.” ujar saya. “Tapi bunda papahna engal-enggal pisan.” protes Nanit.

Sayapun belajar dari Nanit untuk mengubah banyak kebiasaan buruk saya. Sayapun mulai menyadari posisi saya sebagai ibu akan tercermin pada karakter anak-anak saya.

Ada banyak hal yang saya ubah sejak memiliki anak. Cara saya berkomunikasi khususnya, karena saya paham cara saya berkomunikasipun akan DITIRU oleh kedua anak saya.
Menariknya lagi adalah kedua anak saya benar-benar amat menduplikasi yang saya kerjakan meski mereka memiliki keunikannya sendiri.

Kebiasaan saya berbicara di depan umum kini sudah terlihat pada diri Nanit, bahkan ketika saya mengajaknya dalam berbagai kegiatan yang mengharuskan saya berbicara di depan banyak orang dia akan mengambil posisi untuk “juga memegang peranan sebagai pembicara”
Kebiasaan menanam yang saya lakukan dalam beberapa bulan inipun memancing ‘duplikasi’ kedua anak saya. Nanit dan Ammar kini amat menyukai tanaman, suka mengambil botol dengan gelas bekas untuk media tanam, mengambil tanah, dan bersenang-senang menanam dengan saya.
masih banyak kegiatan lainnya yang kemudian hasil dari eksplorasi saya dan suami sehingga kegiatan itu menjadi ‘kebiasaan’ anak.

Kini Nanit, anak tertua saya sudah mampu mandiri dalam usia menuju 6 tahun di bulan Mei ini. Dia sudah bisa saya suruh ke warung, dia dengan senang hati mencuci piring, dia menyetrika bajunya cukup rapi, dia juga suka bernyanyi seperti salah satu hobi saya, mulai tertarik menulis, dan kebiasaan itu kemudian menular pada adiknya. Meski begitu karakter mereka sebagai dua anak yang berbeda baik secara jenis kelamin dan sikap uniknya terus saya dan suami tumbuhkan.
Berbeda dengan Ammar, dia mulai meniru ayahnya. Kebiasaan ayahnyapun dia tiru. Maka, ayahnya mulai mendidik dia dengan satu cara — melakukannya dulu pada diri sendiri —. Ammar menjadi anak yang menyerupai ayah dengan cara berbicaranya yang santun, menyukai pencak silat, menyukai peralatan montir, dan semuanya.

Sayapun berpikir pada anak-anak sukses yang saat ini berbinar. Saya mengingat ada 9 anak seorang perempuan yang sukses menghafal Al-Qur’an, saya yakin bukan hanya diajari tapi juga dididik dengan teladan oleh ibunya. Ketika putrinya Mulan Jameela menjadi fashionable pada usia dini, saya yakin itu karena ibunya yang memang amat fashionable, ketika anak seorang artis memilih menjadi artis karena pembiasaan dari lingkungan terdekatnya yaitu ibu atau ayah, ketika ada seorang anak berprestasi di sekolah ternyata kedua orangtuanya memang mereka yang berprestasi.

Ingin menjadi apa anak kita memang tidak perlu kita stir tetapi menampilkan teladan yang baik tentu saja akan menjadi cermin awal putra-putri kita. Bismillah.

No comments: