14 February 2013

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?


Nanit, si gadis Sunda! :)


Sejak hamil saya dan suami sudah berbeda pendapat mengenai panggilan si anak pada si ayah
"Saya sih ingin dipanggil Bapa" kata suami
"Udah deh Ayah aja. Kan nggak cucok Bapa ama Bunda" kata saya
"Hemmm"
Akhirnya beliau merelakan dipanggil Ayah, walau naluri "kesundaannya" sempat berontak :)

Sejak Nanit lahir, suami mulai membiasakan saya berbahasa sunda yang baik dan benar. Jujur saja agak aneh, sebab saya sejak kecil diajak ngomong bahasa Indonesia sama almarhum Bapak yang Jawa medhok, walau mama sunda pizan. Alhasil bahasa sunda saya belang betong alias tau bener tau nggak padahal saya lahir dan besar di wilayah parahyangan :'(

Nanit sekarang berusia 3,5 tahun dan tumbuh dengan gaya bahasa yang agak "beda" dengan anak seusianya. Nanit memiliki kebiasaan berbahasa yang sangat santun.
Jika dia lewat di depan orang, dia membungkukkan tubuhnya dan berkata, "punten"
Jika ada yang berkata kata agak 'kasar' dia selalu mengingatkan, "ekh teu kenging nyarios kitu, kasar eta teh"
Jika dia menyebut bagian tubuhnya dengan bahasa sunda yang halus
Pipi ==> damis
Pantat ==> imbit
Hidung ===> pangambung
dan bahasa lain yang bahkan saya dan orang-orang yang lebih tua lainnya belum tahu xexexe
Jika saya bicara dan bersikap agak kasar, "Bunda teu kenging ah, kasar"

Nanit jadi berbeda dengan anak lain jika sedang berinteraksi karena bahasa Sundanya.
Di sekolahnya, ibu-ibu pada bertanya pada saya mengenai bahasanya yang halus
Di tetangga, Nanit terkenal sebagai KOREKTOR bahasa ibu-ibu :)
Di rumah, Nanit tampil sebagai pemerhati bahasa

Ada banyak kisah lucu akhirnya dengan kebiasaan berbahasa Nanit ini. Pernah suatu kali saya ajak dia ke sebuah desa, bertemu dengan kerabat. Ketika kami hendak menumpang ke kamar kecil, anak-anak mengikuti kami (maklum WC umum), ketika saya mulai mengajak Nanit pipis, mulailah terjadi interaksi antara kami.
Nanit: Bunda, papangna di didieu?
Saya: Muhun
Nanit: sok atuh....weeeeer
pembicaraan kami mungkin menarik perhatian mereka (loh kenapa?). Seorang ibu datang mengajak anaknya.
Ibu: Hayuk pulang
Anak: sebentar, ma
Oooh ternyata mereka berbahasa Indonesia :)
Si ibu yang mengajak anak pulang bertanya pada saya
Ibu: Oh anaknya pake bahasa Sunda?
Saya: Iya
Ibu: Wah kalau anak-anak saya semua berbahasa Indonesia (dengan bangga)
So What? saya geli dalam hati :)

Kisah lucu lagi ketika Nanit saya kenalkan pada anak sahabat saya yang hampir sebaya, si anak mengatakan
"Iiih Nanit hebat ya, pinter bahasa Inggris"
Loooh? Nanit berbahasa Sunda bukan berbahasa Inggris xixixi

Kisah lainnya, Nanit cukup berhati-hati menggunakan bahasa. Dia kerap bertanya, misal "Urang itu kasar heunteu, Bun?"
dan pertanyaan lain untuk memastikan bahasa yang dia gunakan halus.

Harus saya akui, kemampuan berbahasa Sunda Nanit memang di atas rata-rata dan suami cukup bangga dengan itu, "kalau bukan kita yang melestarikan bahasa IBU kita, siapa lagi?" begitu kata suami. Saya manggut-manggut, memang benar, saat ini bahasa Ibu mulai hilang tak berjejak. Nanit, selamat melestarikan bahasa Sunda! :)


Nanit udah mulai maniak kertas dan buku


Nanit usia 6 bulan


Brrruuuuup....


Modelnya belepotan :)


No comments: