14 February 2013

MENULIS SEBAGAI TERAPI HATI


Ketika saya diminta untuk berpartisipasi dalam kegiatan "Sarasehan Keluarga disabilitas" yang diselenggarakan oleh Panitia Aware dan Care pada Disabilitas, KUBCA SAMAKTA, dimana di dalam acara tersebut hadir para orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan tertentu seperti tuna rungu dan Autis, jujur saya saya tertegun sebentar, kira-kira saya akan membawakan apa di sana? :)

Namun, tentu saja pada akhirnya saya harus membawakan materi yang sesuai dengan apa yang paling saya ketahui saat ini yaitu MENULIS. Maka, pada hari yang dipenuhi siraman hujan dari langit saya bertemu dengan sejumlah keluarga hebat dengan materi "MENULIS SEBAGAI TERAPI HATI"
Ketika saya mulai berbicara, sejenak hati saya mengharu biru, nggak mampu menahan sesak di dada, dan dalam sepersekian detik suara saya serak karena menahan tangis. Apa yang menyebabkan demikian tidak lain karena pada 2 pemateri sebelumnya menghadirkan film-film singkat mengenai kisan para penyandang disabilitas yang tetap bisa menjalankan hidupnya dengan sangat baik. Ada seorang ibu tanpa dua tangan yang tetap bisa merawat bayi, menyetir, bersosialisasi, hingga berbelanja dengan asyik, seorang lelaki tanpa kedua tangannya tetap bisa sukses dalam kehidupan sosialnya, dan film ditutup dengan penampilan sepasang penari balet, si lelaki hanya memiliki satu kaki dan si perempuan hanya memiliki satu tangan, namun penampilannya sungguh indah.

Maka, tidak heran ketika mengawali materi saya mengucapkan selamat kepada semua yang hadir karena mereka adalah keluarga yang hebat, selalu menjadi keluarga yang mendukung bagaimanapun kondisi anak yang mereka miliki. Saya yakin, kecacatan manusia bukanlah karena fisik semata, ada kecacatan yang tidak terlihat secara kasat mata yaiutu kecacatan hati yang sebetulnya lebih tidak menyenangkan dibandingkan kecacatan fisik.

"Sejak kecil saya mencurahkan perasaan saya dalam buku harian. Masa kecil saya tidak selalu bahagia, saya bukan berasal dari keluarga serba ada, saya juga bukan berasal dari keluarga yang harmonis, maka segala kekecewaan itu saya ungkapkan menjadi sebuah TULISAN dalam diary yang manis. Ternyata, segala kekurangan diri itu tidak pernah membuat saya KECEWA. Maka tidak heran, saya mengatakan bahwa menulis merupakan salah satu TERAPI untuk HATI" begitu punya slide pertama yang saya berikan pada audience.

Dalam hal ini, saya mengajak para anggota keluarga pun kepada penyandang disabilitas untuk menyalurkan segala hal yang tersimpan dalam hati untuk dituliskan. Ketika kita mulai menulis maka semakin berkurang beban di hati kita. Ketika beban sudah berkurang, hari-hari terasa lebih ringan dan menyenangkan. Tidak hanya itu, kebiasaan kita menulis pada akhirnya membuat hati lebih mudah menerima kekecewaan dan melepaskannya kembali tanpa rasa takut. Masa kecil saya mungkin tidak seindah teman-teman yang memiliki segalanya, tapi saya punya banyak mimpi indah yang siap dicapai dengan lupanya saya pada setiap kekurangan yang saya miliki. Pada akhirnya kekurangan saya bukanlah penghalang majunya masa depan saya. Kekecewaan dan kekurangan hanya sebagai salah satu episode dalam hidup yang saya bingkai dalam tulisan saya. Atas segala hal yang saya tulis dalam diari saya menyebutnya sebagai tulisan yang menerapi hati :).

Menulis pada akhirnya bisa menjadi sebuah prestasi, RATNA IDRASWARI IBRAHIM adalah seorang penulis yang kondisi fisiknya lemah. Sejak kecil dia terserang radang tulang yang membuatnya harus duduk di kursi roda. Awalnya dia putus asa, namun ketika dia memulai untuk MENULISkan ide-idenya dalam bentuk tulisan, kini Ratna sudah menelurkan lebih dari 400 karya dan mendapat penghargaan PEREMPUAN BERPRESTASI dari Pemerintah RI pada tahun 1994. Maka prestasi yang muncul dari keterbatasan fisik ini merupakan prestasi yang lebih hebat dari apapun. Kekurangan yang tidak pernah menjadi penghalang untuk mencapai masa depan lebih berkilau.

Satu per satu materi saya sampaikan dengan penuh semangat. Saya ingin mengajak semua yang hadir untuk terus menuliskan perjalanan kisah hidupnya yang pasti menarik dan bisa menginspirasi orang tua lain dengan anak yang memiliki keterbatasan tertentu. Selain orang tuanya untuk menulis tentu saya pun mengajak para orang orang tua untuk mulai melatih anak mencurahkan perasaannya melalui tulisan sebagai bagian dari terapi hati mereka.

Maka, di akhir acara saya mengucapkan alhamdulillah telah diundang dalam kegiatan yang luar biasa ini dan semoga aktifitas menulis benar-benar menjadi sebuah terapi hati yang mampu melebur berbagai kekecewaan, putus asa, dan penyesalan dalam hidup. Mari berjuang!


Salam hangat,
Indari Mastuti


Bersama anak-anak Panti Asuhan Darul Muthmainnah yang dilatih menjadi penulis




Bersama anggota Ibu-ibu Doyan Nulis


2 comments:

Triana Dewi said...

Keren teteh dan sangat mengisnpirasi.. saya juga setuju, menulis bisa jadi terapi hehehe

Triana Dewi said...

Kereenn teteh dan sangat menginspirasi, saya setuju banget kalo menulis itu bisa jadi terapi..