13 May 2007

Belajar bikin Fiksi ANAK : Cerita 7 : TASI BELAJAR BERPUISI

Hal 1
“Selamat pagi anak-anak” sapa ibu Juwita begitu masuk ruangan kelas
“Pagiiii” semua menjawab dengan serempak
“Ibu bawa kabar bagus nih, ada perlombaan membaca puisi di sekolah ini.”ujarnya dengan mata berbinar

Hal 2

“Puisi?wah, emang siapa yang bisa berpuisi bu?” tanya Tasi dengan heran
“Aku bisa!” kata Adi dengan yakin
“semua bisa berpuisi. Puisi itu indah dan menyenangkan.” Kata bu Juwita
“Aku sih pilih perlombaan berenang.” Kata Cacha yang memang jago renang
“huuuuu” semua serempak
“Nah anak-anak. Perlombaan puisi ini akan mempertandingkan semua kandidat di kelas 1 hingga kelas 6. dan hadiahnya lumayan loh…”
“Apa bu?” tanya Adi
“Hadiahnya sepeda, meja belajar, uang tabungan dan banyak lagi…”
“Wah, seru juga ya..” ujar Mamik
“Seandainya saja aku bisa berpuisi…” ujar Agung sambil membayangkan hadiah-hadiah perlombaan


Hal 3

“Tapi, satu kelas satu kandidat kan bu? Berarti saya yang jadi kandidatnya kan bu?” tanya Adi dengan penuh optimis
“Sebenarnya ibu justru ingin memilih yang mau belajar berpuisi bukan sudah jagoannya.”
“Maksud ibu?” Tanya Adi heran
“Kalau Adi kan sudah juara dimana-mana. Masa Adi tidak mau kasih kesempatan kepada teman yang lain?”
“Jadi?”
“Ibu mau tanya sama semua murid di sini, siapa yang mau mencoba perlombaan ini?” tanya bu Juwita. Tapi, tidak ada satupun yang mengacungkan tangan selain, tentu saja, Adi


Hal 4

“Jadi, tidak ada yang tertarik dengan hadiahnya nih?”goda bu Juwita
Semua saling memandang
“Mereka memang tidak bisa berpuisi bu. Jadi, biar Adi saja yang ikut.” Kata Adi sombong
“Atau…”tiba-tiba mata bu Juwita memandang tajam kearah Tasi
“A..a…”Tasi gugup
“Bagaimana kalau kamu yang ikut, Tasi?”
Wajah Tasi semakin pucat pasi, “A..a..aku bu? A..aku tidak bisa bu..” katanya terbata-bata
“Kamu pasti bisa dong sayang..” bu Juwita mendekat ke arahnya
“Ta..tapi..”
“Udah deh bu, kelas kita bisa kalah kalau Tasi yang ikut. Biar saya saja yang ikut.” Ujar Adi dengan nada meninggi
“Nah, Tasi tunjukan pada Adi kalau kamu bisa berpuisi.” Tasi menunduk
“Saya tidak bisa bu..”
“Pasti bisa…!” bu Juwita menyemangati
“Dia pasti kalah bu!”
“Bagaimana kalau kamu ikut dan…Adi juga ikut.”
“Yeeeeee!!!” Adi berteriak kegirangan, sedangkan Tasi semakin menunduk
Bu Juwita kembali ke depan kelas
“Nah, sudah terpilih kandidat dari kelas kalian. Adi dan Tasi..”
Semua bertepuk tangan


Hal 5

Sepanjang pelajaran berlangsung, Tasi gelisah. Dia membayangkan dimana dia sedang berada dalam pertandingan berpuisi. Keringatnya turun deras dan kakinya gemetar apalagi begitu banyak orang yang memandang ke arah dirinya di atas panggung.

Hal 6
Adi malah sedang melamun membayangkan hadiah yang akan dibawanya pulang. Dia yakin akan mendapatkan juara pertama. Siapa yang tidak kenal dengan Adi, di jago berpuisi, piawai membuat puisi, dan mahir menirukan gerakan dasyat saat membawakan puisi. Adi begitu yakin dengan kemampuannya.

Hal 7
Pulang ke rumah, Tasi langsung masuk kamar. Dia membaringkan badannya di kasur tanpa membuka seragam terlebih dulu dan itu bukan kebiasaannya. Bunda datang ke kamar dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang…
“Loh, anak bunda kok melamun.”
”Tasi takut bunda...” Tasi memeluk bundanya
”Takut apa?” kata bunda lembut
”Tasi disuruh bu guru jadi kandidat kelas untuk lomba membaca puisi.”
Mata bunda membulat, ”Oh, bagus itu”

Hal 8
Bunda membawa sebuah cermin besar ke kamar Tasi
”Cermin ini akan menemanimu berpuisi.”
”Haaah...”

Hal 9
Bunda sangat mendukung keikutsertaan Tasi dalam kejuaraan berpuisi itu
”Puisi itu indah, apalagi kalau dibawakan dengan sepenuh hati.” kata bunda
”Dulu, waktu bunda seusia kamu, bunda sering ikut dalam kejuaraan berpuisi.”
”Apakah bunda menang dalam kejuaraan-kejuaraan itu?” tanya Tasi
Bunda tersenyum, ”Perlombaan itu bukan hanya mencari pemenang tapi adalah pengalaman berharga. Kadang bunda menang, kadang juga kalah. Tspi itu bukan masalah, yang penting bunda belajar dari perlombaan itu.”
Tasi menghela nafas, ” Tasi takut banyak yang melihat, grogi bunda..”katanya polos
”Anggap saja kamu berpuisi di depan cermin...” bunda menarik Tasi di depan cermin
”Lihatlah dari cermin ini, kamu berpuisi untukmu sendiri.”

Hal 10
Tasi benar-benar tak percaya bahwa sebentar lagi dia akan bertarung di perlombaan dengan Adi si juara berpuisi. Tasi memang pintar matematika dan juara kelas. Tapi, membayangkan berpuisi sungguh menyeramkan. Dia pasti akan sangat malu jika kalah dari Adi yang memang sudah sangat jago. Dia ingin menang, dia tak mau dikalahkan siapapun. Tapi, bukan dengan berpuisi.
”Kamu pasti kalah.” ledek Adi
”Kamu pasti bisa.” Bundalah yang selalu menyemangatinya
”Aku takut kalah” kata Tasi pada Bunda
”Berusahalah dan jangan pikirkan menang atau kalah coba saja dulu. Jadikan pelajaran pada setiap pengalaman.” nasehat bunda

Hal 11
Tasi berdiri di depan cermin...
Inilah dia, seorang anak perempuan yang mungil berusia sembilan tahun. Berdiri malu-malu di depan cermin.
”Apa yang akan aku lakukan di depan cermin ini?” tanyanya ke arah cermin
Diam-diam bunda mengintipnya di daun pintu sambil tersenyum

Hal 12
Percayalah – ini tidak mungkin
Bunda salah kalau menyakini dia bisa berpuisi.
Hari ini, dia sudah ditanya teman-temannya puisi apa yang akan dibawakannya.
Uuuuuggghhhh, aku tidak mungkin menang, keluh Tasi.
Eiiit, kertas apa yang menempel di cermin. Mata Tasi memandangnya sejenak kemudian dia beranjak dari kasur menuju cermin
Dibacalah kertas itu...

Untuk putri cantikku, Tasi..
Puisi ini Bunda hadiahkan untukmu
Semoga kamu mau membacanya di perlombaan nanti

Aku adalah...

Aku seorang anak kecil
Yang memiliki begitu banyak impian
Walau kadang sedikit ragu dengan kemampuanku
Aku diajarkan untuk mengatakan AKU BISA

Aku adalah putri kecil bundaku
Yang dilahirkan dengan pertaruhan nyawa
Ya, aku tidak sempurna
Tapi Tuhan biarkan aku melakukan apa yang harus kulakukan semampuku

Aku adalah anak yang terlalu mungil dengan keinginan yang besar
Tapi aku bangga dengan diriku
Siapapun aku
Ya, aku pintar matematika
Tapi aku tidak pintar yang lainnya

Biarkan saja, karena memang aku tidak akan sempurna
Aku hanya ingin melakukan yang terbaik
Seperti ketika aku berpuisi saat ini

Terima kasih Tuhan karena aku adalah anak kecil dengan segudang mimpi

Tasi menghapus airmatanya yang menitik
Ah, Bunda indah sekali puisi ini
Hal 13
Tasipun berjanji akan membawakan puisi itu sepenuh hati
”Semua karena bunda dan aku harus belajar melakukan apapun, walaupun kadang aku tidak yakin aku bisa, termasuk berpuisi.” tekadnya bulat

Hal 14
Sepulang sekolah...
Setiap hari...
Tasi membacakan puisi indah bunda di depan cermin
Kadang-kadang dia malu dengan gayanya sendiri
Kadang dia kesal karena gerakannya itu-itu saja
Tapi dia terus berusaha belajar terus
Dan cermin bunda saksinya
hahahaha

Hal 15
Ayah beberapa kali memergoki Tasi ketika dia sedang berlatih
Sebenarnya Tasi malu. Tapi bunda bilang anggap saja tak ada siapa-siapa, anggap saja dia berpuisi dengan dirinya sendiri dan tentu saja dengan cermin :)
Untung ayah suka pura-pura tidak melihat jadi malunya Tasi belum sampai ke ubun-ubun. Paling ayah langsung keluar kamar lagi. Bahkan jika mereka sedang bersama, ayah tak pernah membahasnya.

Hal 16
Bunda sedang sibuk memasak
”Bunda puisinya indah sekali.” puji Tasi
”Lantas?” bunda bertanya tanpa menghentikan kegiatannya memotong wortel
”Aku akan membawakannya di perlombaan.” kata Tasi
Bunda berhenti memotong, ”sudah siap bertanding?”
Tasi mengangguk
”Nanti kapan-kapan bunda melihat Tasi berpuisi ya...” usul Tasi
”Tentu saja cantik.” bunda mengacak-ngacak rambut Tasi
Lalu mereka tertawa bersama

Hal 17
Tasi sedang bersiap belajar berpuisi di depan cermin

Aku adalah...suara Tasi begitu lantang
Aku seorang anak kecil...kelingking Tasi dikedepankan
Yang memiliki begitu banyak impian..tangan Tasi meregang lebar
Walau kadang sedikit ragu dengan kemampuanku..dia bersuara dengan lirih
Aku diajarkan untuk mengatakan AKU BISA..kemudian tangan Tasi mengepal pasti

Uuffff, lumayan...Tasi tersenyum sendiri di depan cermin


Hal 18
Bahkan Tasi tidak sabar untuk segera berlomba
:)

Hal 19
”Selamat pagi anak-anak” sapa bu Juwita
”Pagi buuuuuu” sambut murid-murid di kelas Tasi dengan semangat
”Bagaimana kabarnya?”
”Baiiiiiiiiiiiiik” sahut mereka
”Oh ya, bagaimana kabar kandidat perlombaan puisi kita?” Bu Juwita memandang Adi dan Tasi bergantian
”Adi?”
”Siap!” jawab Adi lantang
”Tasi?”
”Siap juga bu!” jawab Tasi tak kalah lantang
Adi jadi heran....sejak kapan Tasi jadi begitu percaya diri?

Hal 20
Percayalah ini mungkin
Segala sesuatu di dunia ini mungkin terjadi
Segala sesuatu bisa dilakukan
Segala sesuatu bisa dipelajari dengan baik
Bunda yang mengatakan itu semua
Betapa Tasi menyanyangi Bunda
Dan tentu saja juga mencintai ayah

Hal 21
Ayah dan bunda duduk manis di kursi tengah
”Jadi, malam ini putri ayah akan berpuisi nih..” kata ayah sambil tersenyum simpul
”Iya lah ayah, awas jangan becanda terus...” ancam Tasi manja
Lalu Tasi mulai berpuisi depan ayah dan bunda

Hal 22
”Bagaimana ayah? Bagaimana penampilan Tasi bunda?” tanya Tasi bergantian pada ayah dan bundanya
Mereka berdua tersenyum lebar
”Wah, luar biasa.” puji ayah
”Berarti bunda harus memberikan hadiah untuk putri bunda yang cerdas karena berhasil membawakan puisi bunda dengan sangat indah.” lanjut bunda
”Hadiah?”
Bunda mengangguk
”Iya, makan malam di restoran sea food.” kata bunda
Aha..itu adalah restoran tempat disajikannya kepiting kesukaan Tasi
”Asiiiiiik” teriak Tasi girang

Hal 23
Bahkan teman-temannya heran
”Waktu pertama dipilih sebagai kandidat, kamu gugup sekali. Sekarang kamu kelihatan sangat tenang padahal perlombaan sebentar lagi dan saingat terberat kamu adalah Adi.” kata Jasmin saat mereka sedang makan bakso di kantin
”Aku sudah belajar tentang cara berpuisi.”
”Memang bisa belajar berpuisi?” tanya Jasmin
Tasi mengangguk, ”Memangnya apa di dunia ini yang tidak bisa dipelajari? Bundaku mengatakan itu.”
Jasmin mengangguk-angguk setuju

Hal 24
Semakin sering ayah dan bunda memberikan pujian untuk Tasi semakin bersemangatlah Tasi untuk berpuisi. Pujian dia anggap sebagai tantangan untuk membuktikan dia mampu berpuisi.
Semoga.....

Hal 25
Tinggal beberapa hari lagi perlombaan diadakan
”Rasanya semua sudah kelihatan siap.” kata bunda
Tasi tersenyum, ”Ya iyalah...” kata Tasi pasti
Bunda memeluknya erat


Hal 26
Begitu banyak yang datang. Berdesak-desakkan. Keringat Tasi mengucur deras. Walaupun dia sudah mempersiapkan semuanya, dia tetap sedikit merasa takut. Diliriknya bunda yang begitu santai duduk di kursi jajaran kedua dari depan. Sesekali bunda melempar senyum padanya seolah-olah mengatakan, ”Jangan khawatir, semua baik-baik saja.”
Ah, aku begitu gugup, desis Tasi

Hal 27
Adi memang pantas jadi juara...
”Dia begitu mahir membawakan puisi.” puji Tasi sambil bertepuk tangan
Ya, Adi memang hebat, banyak yang bertepuk tangan ketika dia selesai membacakan puisinya dengan gerakan yang luar biasa.
”Kamu juga hebat.” kata Ismi, anak kelas empat yang juga menjadi kandidat dari kelasnya sambil tersenyum tulus
”Aku hanya akan melakukan yang terbaik. Seperti pesan bundaku.” sahut Tasi
”sst, kuberitahu kamu ya...aku pun baru belajar berpuisi dan bundaku juga yang mengajari.”
Lalu mereka saling melempar senyum

Hal 28
Adi turun dari panggung dengan dada membusung
”Sebentar lagi giliranmu, Tas.” dia mengatakan itu dengan nada meledek. Adi merasa ini saatnya dia mengalahkan Tasi. Sejak di kelas satu SD, Adi dan Tasi memang bersaing untuk mendapatkan juara pertama. Tapi, Tasi sukar dikalahkan Adi tak bisa merebut juara kelas, dia harus cukup puas di peringkat kedua.
Tasi tersenyum, ”Doakan aku ya...”

Hal 29
Tiba giliran Tasi....
Dengan penuh percaya diri Tasi naik ke atas panggung
Tasi menatap bundanya sejenak

”Puisi ini dibuat oleh bunda dan dibacakan oleh putrinya, Tasi...” Tasi membuka puisi dengan begitu tenang
Lalu, dia membuka map yang dipegangnya dan mulai membaca satu demi satu. Tasi begitu menghayati puisi yang dibaca hingga tanpa terasa airmatanya menitik satu persatu.

Di akhir pembacaan puisi, Tasi berkata, ”Seperti bunda bilang, aku harus terus belajar, termasuk berpuisi. Terima kasih bunda. Terima kasih Tuhan.”


Hal 30
Tasi turun dari panggung dan berhambur ke arah bunda. Mereka berpelukan erat. Semua bertepuk tangan.

Hal 31
Hasil keputusan juri diumumkan dan ternyata…………Tasi memenangkan perlombaan berpuisi itu
“Kemenangan ini untuk Bunda.” Katanya sambil mengacungkan piala
Bunda mengedipkan sebelah matanya
Semua bertepuk tangan
Dan Tasi tersenyum bahagia

Hal 32
Sejak itulah Tasi menyukai puisi
Sejak itu juga Tasi tidak pernah mempersoalkan menang atau kalah. Bagi Tasi, yang penting adalah belajar dari pengalaman.
Terima kasih Bunda

1 comment:

suyogo said...

bagus banget, it is so touching..