09 October 2006

Hitam vs Putih

Kalo kamu dikasih pilihan untuk bisa berganti kulit (ular kale!) kamu pilih kulit yang putih, kecoklatan, atau hitam? Ah mudah ditebak, kamu pasti pilih berkulit putih (kamu sih kebanyakan nonton iklan pemutih). So, orang yang sudah putih pun masih ingin lebih putih lagi. Jadinya kamu-kamu yang nggak putih jadi cenderung kurang pede, ayo ngaku deh!
Kenapa ya? Ya itu tadi diantaranya karena iklan-iklan yang selalu ngebombardir pikiran kamu bahwa kulit putih itu ok, dan hitam itu gak ok. Jadinya kamu susah payah mutihin diri, kalo perlu gosok, digosok deh. Tengok kiri kanan kamu juga sama. Temen-teman kamu resah mikirin kulit yang gak kunjung putih. Tiap kali mau pake baju, mereka kesel karena rasanya semua baju gak cocok sama kulit yang agak gelap.
Ya, jadinya banyak orang gak hepi gara-gara benda yang tebalnya rata-rata cuma 1-2 mm ini. Mungkin kamu ngerasa dunia ini seolah jadi kiamat, padahal kulit adalah pembungkus elastis yang sangat berguna buat lindungi tubuh kamu dari pengaruh lingkungan. Percaya gak, kulit adalah organ tubuh yang terberat dan terluas, yakni 15% dari berat tubuh dengan luas 1,50 - 1,75 m2. Tapi kamu gak pernah mensyukurinya gara-gara warnanya tidak seperti yang kamu harapkan.
Sekali lagi pikirin dech, bener gak putih adalah segalanya. Tengok ni ada sebuah penelitian bahwa saat ini, kematian karena kanker kulit di Inggris meningkat tiga kali lipat daripada tahun 1960-an, dan di Skotlandia empat kali lebih banyak. Penyebabnya karena mereka sering mandi lampu-lampu pencoklat kulit yang mirip cahaya matahari dengan dosis radiasi ultraviolet yang kuat dan terkonsentrasi. Nah lo!
Beruntung kamu yang gak berkulit putih karena nun jauh di sana orang berani kanker hanya karena gak ingin berkulit putih. Jadi pede aja lagi, kamu adalah idola orang-orang yang tidak beruntung berkulit seperti kamu.

(Ida S Widayanti - Redaktur Arga Publishing)

Jakarta, 9 Oktober 2006

No comments: