11 September 2006

Musuh di dalam dan di luar

Lebih baik seratus musuh di luar daripada satu di dalam.
(Pepatah Arab)

Bayangkan saja jika kita bermusuhan dengan orang dalam radius beberapa meter saja dari tempat kita berdiri –setiap hari- bisa dalam satu kost, rumah, ataupun kantor. Uuuikkkh dijamin melelahkan! Selain karena korban batin, juga jadi korban pikiran, karena biasanya sih –negative thinking- jadi jauh lebih banyak dibandingkan –positive thinking-. Gimana ngga, wajah yang kita lihat always cemberut, sikap yang tampak sedemikian gelisah. Sungguh tak enak!! Lain soal dengan orang-orang yang berlaku ‘tak menyenangkan’ itu berada di luar kawasan kita dengan radius lumayan jauh, Emang gua pikirin!!!
Nah, pengalaman ini juga pernah aku alami. Seperti biasa, layaknya adik kakak yang normal..hehehe...berantem itu pasti ngalamin, mulai dari masalah kecil hingga masalah seujung upil! Pokoknya berantem jadi rutinitas, musuhan mendarah daging dan sialnya lagi, aku tipe orang yang gengsian untuk mengaku salah (itu zaman dulu loh! Sekarang dah beda kaleee...sekarang dah lebih pemaaf..cieee!). Makanya rumah itu heboooh terus, kalo ngga aku sama salah satu kakakku yang ribut berantem, mungkin kedua kakakku yang lagi berantem, atau aku dan adikku. Well, sering juga sih beda pendapat sama mama..hehehe...ujung akhir, ya Ribuuuut!
Karena nggak betah di rumah, akhirnya aku memutuskan pindah...KOST...selain untuk mendekati tempat kerja juga karena untuk mendinginkan otak. Emang enak tiap hari berantem!
Well, ini cuman kisah sedih di masa lalu (sekarang kalo berantem nggak tiap hari tapi pake jadwal...hahaha) Tapi hikmah yang aku petik adalah “Daripada Ribut mending dieem lah” soalnya musuhan itu nggak enak. Mau minta tolong jadi gengsi, mau makan (karena mama yang masak) malu, mau ngapa-ngapain nggak enak. Nggak mau lagi deh peristiwa ‘ngga dewasa’ itu terulang.
Dan sejak ngerasa nggak enak itu semakin berkobar di dada, aku mutusin satu hal “Beda pendapat bukan masalah!”
Akhirnya, kalau sekarang ada yang beda lagi, aku nggak mau pusing lagi, cukup ngomong “Kayaknya itu nggak banget deh.” Terus dah gitu biar mereka mutusin sendiri. Well, ternyata maksain kehendak itu nggak enak ya? sebab lain kepala lain pendapat. So, aku mulai menghargai perbedaan dan semoga aku bisa lebih menghormati diriku sendiri dengan selalu mencoba menghormati orang lain. Insya Allah.

Jakarta, 11 September 2006

No comments: