18 September 2006

Aku ingin selalu belajar dari TULISANku

Pengalaman itu bisa diambil dari buku-buku dan dari keterlibatan dalam menghadapi berbagai kejadian hidup
(Cuser)

"Kenapa kamu suka menulis?"
Jawabku, "terkadang menulis bisa meredakan kekalutan dalam hati."
"Lalu kamu menulis?"
Jawabku, "Ya, dan seringkali menulis jawaban ideal dari solusi persoalanku."
"Lantas?"
dan aku menjawab, "Dan akhirnya aku belajar dari tulisanku!"
"Apakah itu berarti tidak semua tulisanmu mencerminkan dirimu?"
Aku menjawab, "Tulisanku adalah apa yang aku lakukan, apa yang ingin aku lakukan dan aku coba lakukan. Kalau ternyata memang tidak seperti aku yang sebenarnya, tapi aku sudah berusaha untuk menjadi seperti itu. Aku menulis untuk belajar! Aku belajar melakukan apa yang aku tulis. Aku menulis dari pikiranku dan pikiranku adalah aku."
Well, salah satu sahabatku berkata, "Tulisanmu mengatakan kalau kita nggak boleh cengeng tapi kamu bisa nangis sama hal kayak gini. Ah, berarti kamu tidak seperti yang kamu tulis dong!"
Humm…penulis juga manusia ya? (hehehe…)aku tahu pada saat-saat tertentu emosiku labil, jalanku salah, tutur bahasaku tidak dewasa, tindakanku menyakitkan tapi semua tidak kulakukan secara sengaja tapi ternyata aku tidak mampu melawan tindakan itu pada kasus-kasus tertentu. Walaupun begitu aku mencoba untuk kembali berpijak pada tanah dan berkata 'ayo, berjalan dan belajar menjadi benar kembali." Biasanya segala kesalahan akan aku ungkapkan dengan menulis dan kembali menulis secara ideal tentang apa yang harus aku lakukan. Ajaib, semakin banyak aku menulis ideal semakin aku membantu diriku sendiri untuk bertindak benar.
Seringkali ketika aku beradu pendapat aku tidak mau kalah, namun seiring dengan pola berpikir ideal bahwa 'berdebat kusir hanya menghabiskan waktu.' Maka aku memilih diam, dan kalaupun lawan bicaraku marah, aku lebih memilih menatap lembut ke arahnya tanpa berkata apa-apa lalu segera melupakan apa yang diperdebatkan sehingga keesokan harinya aku tetap akan menyambutnya tanpa merasa ada masalah, dan dia akan memperlakukanku jauh lebih baik. Jika harus dibahas kembali, tentu kali ini tidak akan ada perdebatan penuh ego melainkan kepala dingin dengan ide brilian.
Berkali-kali aku telah menemukan konsep bertindak dengan benar yang aku pelajari dari tulisan-tulisan idealku (di mataku tentu saja!)…dan semua aku syukuri sebagai berkah dan hadiah dari Tuhan untukku agar aku akhirnya bertumbuh dewasa dan menua bijaksana. Amin.

Jakarta, 17 September 2006

No comments: