27 January 2006

Novel Baru - UNLUCKY ME!

Aku heran dengan Tuhan. Kenapa Dia menciptakan makhlukNya berbeda-beda. Tentu saja untuk sebagian orang menjadi berbeda itu menguntungkan, tapi tidak bagiku. Sebab aku beda karena aku memang jelek. Dan tentu saja aku beda bila dibandingkan dengan teman-teman di sekelilingku. Sebuah kantor majalah yang paling beken di seantero jagad ini. Tentu saja aku beda, sebab aku lah si upik abu. Wanita terjelek!
Ah, Tuhan. Engkau sungguh tidak adil menciptakan aku di tengah-tengah mereka. Biar saja engkau berikan aku otak sejenius Einstein tapi tak ada pengaruhnya buatku sebab tak ada lagi orang yang menghargai otak. Mereka seringkali lebih menghargai penampilan. Dan puiiih, sematchingnya aku mengenakan kostum tetap saja aku terlihat jelek.
Ya Tuhan, kalau saja aku cantik!
Bahkan aku berulangkali meminta kepadaMu, ambil saja setengah kepintaranku dan berikan setengah kecantikan Ema (dia adalah wanita tercantik di kantorku) maka aku tidak akan menyesal. Tapi, barangkali Emalah yang histeris. Bagaimanapun juga dengan kecantikannya dia bisa menduduki karier sebagai reporter khusus bintang-bintang cowok yang keren. Belum lagi, tawaran makan malam cowok-cowok yang bertekuk lutut pada pandangan pertama.
Sedangkan aku? Bakat menulisku, bakat berbahasaku yang oke banget, bakat komunikasiku yang menyenangkan, dan bakat-bakat lain yang menggunakan otakku ternyata tidak ada yang membuat salah seorang diantara mereka melirikku. Uuuh, aku memang jelek. Dan barangkali itulah alasan hingga usiaku duapuluh empat tahun aku belum pernah pacaran. Bayangkan? Betapa memalukan!
Kalau saja wajahku aku langsing, cantik, dan punya seorang cowok yang mencintaiku. Tentu saja aku akan jadi orang yang paling bahagia…sayangnya, untuk sekarang itu cuman mimpi saja. Sebab, aku tidak pernah mendapatkan lelaki manapun dengan tampang dan body triple L ku. Mungkin ketika aku mengutarakan keinginanku kepadamu, kamu akan tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana pun juga kamu pun berpikir sama bukan dengan cowok-cowok hedonisme itu? Bukankah untuk memiliki pasangan harus memiliki tampang yang cantik, kalau enggak pun standar lah! Tapi, aku sama sekali tidak keduanya. Tidak cantik ataupun standar. Itu sebabnya, aku memilih menghabiskan waktu istirahat dengan memakan delivery Mc Donaldku dengan pesanan dua ukuran besar ayam goreng crispy, satu bungkus nasi, kentang goreng, ice cream, belum lagi ditambah beberapa batang coklat yang kubawa dari rumah. Hebat kan? Dan biarpun aku adalah pemakan porsi besar tapi aku tetap berhak berharap satu saat ukuran bajuku extra S, bukan?
Sebenarnya aku sudah bosan dengan pola dietku. Itu sebabnya aku tidak pernah meneruskannya. Aku bosan sebab aku tak pernah menjadi langsing, paling banter hanya berkurang beberapa kilo saja dalam sekian bulan sedangkan aku harus kelaparan setiap hari dan menderita pusing kepala karena kurang makan, belum lagi aku harus menahan malu karena diejek oleh Ema, wanita tercantik itu mengolokku kalau dietku takkan berhasil sebab aku memang memiliki tulang besar dan cadangan lemak yang bandel. Sial! Dan akhirnya, aku berhenti diet dan melanjutkan kembali pola makan besarku. Itu semua bukan karena aku tak peduli penampilan, tapi mungkin karena akhirnya aku pasrah.
Sewaktu aku mengunjungi salah satu kota dalam rangka liputan, seorang rekan menatapku dengan mata kasihan. Dan dia menawarkan mengantarku ke sebuah apotik tradisional untuk membeli obat pelangsing yang katanya paling manjur dan terkenal. Aku membelinya dengan harapan membumbung. Lho Siapa tahu? Tapi, ternyata obat yang kubeli seharga lima ratus ribu itu tidak ampuh, malah membuat badanku lemas dan mengantuk sepanjang hari. Bahkan banyak yang mengira aku hamil karena perutku semakin menggelembung ke depan. Kuhentikan juga mengkomsumsinya dan membuangnya ke bak sampah depan rumah.
Sialnya lagi, ayahku pernah bertanya padaku, “Kok kamu tidak mirip ibumu ketika dia masih gadis.” Ya ampun, ternyata dengan ibuku pun aku beda banget. Ibu sangat cantik, dan ayah sangat tampan. Lalu aku, mirip siapa aku? Itulah yang membuatku semakin sedih. Ayah mungkin bercanda pada saat mengatakannya, tapi itu membuat perasaanku terluka.
Aku sering bertanya kepada Tuhan, kenapa aku diciptakan berbeda sekali dengan siapapun. Lihat saja rambutku yang tipis, terpaksa kupotong pendek menyerupai lelaki. Tubuhku yang lebih mirip gumpalan daging dibandingkan seorang perempuan, tak ada lekukan sama sekali, wajahku..well, mungkin bagian tertentu seperti hidung, mata, dan bibir masih ada manis-manisnya. Tapi, percuma toh kulitku hitam, badanku tambun. Semua tidak akan memperhatikan kalau hidungku mancung, mataku berbinar menyiratkan kecerdasan, atau bibirku penuh nan seksi. Tidak ada yang tahu itu! Uugggh, aku tetap saja jelek!
Tidak ada yang memperhatikan aku dan mengenalku dengan baik selain karena sebuah nama yang kontradiktif dengan pemiliknya Cantik. Semua orang bahkan tidak tega memanggilku Cantik. Mereka sepakat menyebutku Cece itupun kalau nggak diembel-embeli Cece Ndut.Yup, sebab yang mereka lihat hanya gumpalan daging yang memenuhi tubuhku.
Semua orang sepakat kegendutanku karena aku memang hobi makan dan ngemil. Tapi, bagaimana mungkin itu bisa terjadi padaku. Sedangkan Ema memiliki porsi makan yang nggak kalah rakus denganku (walau aku sedikit khawatir kalau dia mengidap bulimia ). Ketika aku membandingkan diri dengannya, aku malah merasa sangat tidak beruntung dengan pencernaanku yang begitu lambat memproses makanan sehingga cepat menumpuk di perut. Padahal, kegiatanku tidak kalah sibuk dengan selebritis yang sering diwawancarai di majalahku. Bukankah salah satu hal yang bisa menghancurkan lemak adalah bergerak aktif, apabila tidak memiliki waktu untuk berolahraga? Oh come on, katakan saja aku memang tidak beruntung sebagai seorang perempuan.
Aku hanya beruntung karena bisa membuat suasana di kantor ramai dengan humor lucu, atau banyolan yang mengundang tawa. Bahkan aku juga sempat melangit ketika banyak orang mengatakan tanpa aku suasana kantor tidak hangat.
Bagaimana dengan keluargaku? Apakah kamu ingin tahu juga? Well, yang pasti akhirnya aku harus mengatakan bahwa aku bangga pada mereka. Kedua orangtuaku adalah dua orang yang serasi. Ayahku sangat tampan, ibuku cantik. Hanya saja mereka gagal menciptakan satu anak yang sempurna. Aku punya dua orang kakak kembar lelaki yang ganteng. Indra dan Andri. Keduanya selalu saja membuat orang-orang kagum, bahkan aku seringkali menjadi sasaran untuk dijadikan makcomblang bagi cewek-cewek gatel yang mengincar mereka, bahkan teman-temanku nggak kalah ngiler kalau kukenalkan pada mereka. Selisih usiaku dengan kedua kakakku hanya terpaut dua tahun. Dan mereka berdua adalah arsitek perumahan elite di kota kami. Mereka gambaran cowok idaman masa kini. Puih, satu yang aku syukuri adalah bahwa keduanya tak pernah meledekku. Mereka menyanyangiku. Itu sebabnya mereka secara bergantian mengantar jemputku ke kantor. Mereka khawatir adiknya yang jelek ini ada yang mengganggu di jalan. Seperti masa kecilku yang sering dijadikan bulan-bulanan anak-anak di komplek, dan merekalah yang akan menjadi pahlawanku. Kini, cara mereka menjagaku adalah dengan mengantar jemputku.
Aku seharusnya beruntung karena keluargaku menyanyangiku. Aku tidak pernah kekurangan kasih sayang. Tapi aku tetap saja merasa nelangsa, sebab aku membutuhkan kasih sayang bukan hanya dari mereka. Aku kan sudah berumur dua puluh empat tahun, dan aku ingin punya pacar.
Christiana Reali, seorang artis dan model untuk kosmetik Lancome mengatakan kalau Kecantikan adalah apa yang dimiliki jauh di lubuk hati yang paling dalam. Enak aja, dia mengatakan itu! Tentu saja, dia bisa mengatakan dengan mudah hal itu padahal dia tidak tahu rasanya jelek! Dengan mata biru, hidung mancung, bibir indah, dan kemolekan lainnya mengatakan hal itu sangatlah gampang. Tapi, pernahkah dia merasakan hal seperti aku. Mati-matian menjadi orang yang menyenangkan tetap saja tidak menarik dan cantik.
Lihat saja komentar Ferdi Hasan, dalam sebuah wawancaranya mengatakan kalau sosok wanita cantik itu berarti tidak overweight dan kulitnya putih bersih. Catat, TIDAK OVERWEIGHT! Ekh, aku nggak minta ditaksir Ferdi Hasan. Tapi apa yang dikatakannya telah mewakili sebagian besar keinginan pria. Sial! Tentu saja, aku tidak masuk hitungan wanita cantik.
Nah disinilah aku, diantara dua kategori wanita idaman pria. Cerdas, menyenangkan, hangat, penuh perhatian, dan baik. Bukankah itu yang diinginkan pria juga? Tapi karena aku hanya memiliki senjata itu tanpa modal kecantikan yang juga diinginkan mereka, akhirnya aku tetap terdampar juga dalam catatan kecil pengecualian untuk dijadikan pacar.Ternyata akhirnya, pria itu lebih memilih wanita cantik walau tidak memiliki kepribadian menawan. Tentu saja, aku kalah dalam urusan itu. Walau jika ada yang mau melawan kecerdasan otakku, aku pasti menang telak!
Mereka hanya bisa memperhatikan timbunan lemakku. Perutku yang Gendut, serta pahaku yang tambun. Sayang ya, mereka menyia-nyiakan perempuan secerdas aku hanya karena lemak!!! Sekali lagi lemak! Ups, satu lagi, kulit hitamku!
Padahal, coba jika mereka mendempul kekuranganku dengan betapa hangat dan menyenangkannya aku atau barangkali mereka kuajak bercermin bersama. Hei, tenyata ada mata yang indah di wajahku. Binar-binar kehangatan yang memancar.
Aghhh, aku benci keadaan ini. Kenapa aku selalu saja merasa tidak beruntung?!Kenapa akhirnya aku benci dengan keadaan ini, di tengah keluarga yang menerimaku apa adanya. Mereka tak pernah mempermasalahkan berat badanku dan kulit hitamku. Mereka menyanyangiku. Orangtuaku menyanyangiku sama besar seperti mereka menyanyangi kedua kakak kembarku yang tampan. Mereka tak pernah menyuruhku memutihkan kulit ataupun diet. Mereka menyukaiku.
Well, berbicara tentang Diet lagi. Apakah kamu punya senjata paling ampuh untuk menurunkan berat badan? Tentu saja, aku tidak ingin menghentikan kebiasaan makanku yang menyenangkan. Aku ingin langsing tanpa menghentikan makan fried Chicken atau batangan coklat. Apakah ada? Tentu saja, aku juga tak ingin menjadi pengidap bulimia. Sebab aku tak ingin kehilangan kecerdasanku.
Satu-satunya yang membuatku terhibur adalah ketika aku sudah mulai disibukkan dengan pekerjaanku. Membuat tulisan yang menarik untuk dibaca orang. Setiap bulan aku bisa menerima lebih dari seratus surat yang menyatakan kekagumannya atas tulisan yang kubuat. Mau tahu tulisan apa yang kubuat? Aku membuat tulisan untuk mereka yang mengidap rasa rendah diri. Aku membuat tulisan tentang ‘bagaimana menjadi diri sendiri” atau “bagaimana menggaet pria dengan segala keterbatasan yang dimiliki.” Edan, aku munafik sekali! Aku menipu diri. Puih, untungnya mereka tidak tahu kalau orang yang mereka anggap hebat itu adalah seorang aku. Seorang perempuan yang justru tenggelam dalam rasa tak percaya diri. Itulah hebatnya aku, atau bahkan penulis lainnya. Mereka selalu saja pandai menyembunyikan diri dalam indahnya tulisan mereka.
Tapi bagaimanapun aku sangat menyukai pekerjaan ini. Menulis artikel yang sedikit dibumbui psikologi. Barangkali, aku juga harus belajar dari tulisanku sendiri. Banyak sekali surat yang kembali untuk kedua kalinya untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas nasehat yang kuberikan untuk mereka. Mereka merasa dirinya berubah setelah menerima balasan dariku. Tentu saja, aku sudah memberikan nasehat super hebat untuk bisa dilakukan mereka, bahkan walaupun aku tidak sanggup melakukan hal itu.
“Cece,” panggil Ema sambil mendudukkan pantatnya di mejaku, dan menyentuh pipiku yang tembem. “Apa kamu tidak bosan membuat artikel?”
“Bosan? Tidak!” sahutku. Aneh sekali dia menanyakan hal itu. Bukankah pekerjaan dia pun hampir sama denganku.
“Kenapa kamu tanyakan itu?” aku kembali meneruskan memakan coklat yang tinggal beberapa petak lagi.
“Rasanya aku bisa tua di sini. Aku ingin mencari pengalaman lain selain jadi paparazzi buat selebritis. Aku ingin suatu saat akulah yang diwawancarai.” Ujarnya sambil memancarkan mimpi dari matanya. Artis? Tentu saja kamu bisa. Tapi lihatlah aku, sobat! Apa layak aku bermimpi seperti kamu?
“Aku tetap ingin menulis artikel.” Sahutku menegaskan.
“Barangkali kamu memang berbakat di bidang ini, Ce. Sedangkan aku, aku hanya dijadikan umpan untuk mencari berita. Tulisanmu bagus dan selalu saja mendapat sambutan hangat dari pembaca. Terus terang, hampir semua pembaca majalah kita selalu merindukan tulisanmu. “
Aku jadi ingat hasil poling pembaca bulan kemarin menunjukkan bahwa kolom-kolom yang kuasuh menjadi target bacaan pembaca majalah kami.
“Kamu beruntung.” Pujinya
“Masalahnya, kita semua selalu memiliki sesuatu yang bisa kita banggakan.” Sahutku tanpa mengalihkan perhatian dari computer dan dengan mulut penuh coklat tentu saja.
“Dan aku sangat bangga jika memiliki kecerdasan seperti kamu.” Ema beranjak dari duduk dan membenahi rok pendeknya yang kusut.
Aha, dia iri padaku. Tidakkah dia tahu kalau aku iri padanya?
“Aku heran padamu, Ce. Kenapa kamu tidak pernah peduli pada apa yang dibicarakan banyak orang mengenai tubuhmu. Sedangkan aku selalu saja diliputi rasa takut kalau tubuhku memelar walau hanya setengah senti.” Sial! Dia membicarakan lagi tubuhku!
Kuakui, tidak ada seorangpun yang tahu kalau diam-diam aku merasakan iri yang teramat dasyat kepada semua perempuan langsing dan cantik. Sebab, aku pun tidak ingin mereka tahu. Aku tetap menginginkan mereka melihat kalau aku sangat mencintai diriku apa adanya.
Aku menarik nafas, “Omong-omong kamu memang terlihat lebih sehat sekarang.” Godaku sambil tertawa. Ema mendelik.
“Kau tahu, Emaku yang cantik. Kita memang harus berbahagia dengan diri kita apa adanya.” Aku menatapnya, “Kau tahu? Kamu sangat cantik dan rasanya pantas jika kamulah yang jadi selebritisnya bukan sebagai paparazzinya.”
Ema balik menatapku, “Terima kasih.” Lalu dia melangkah menuju mejanya.
Pertama kali aku mengenal Ema. Aku tahu dia tidak begitu suka dengan pekerjaan ini. Selain karena, tulisannya memang tidak bagus..uuups..Yup, aku memang sering sekali mengedit tulisannya yang kacau. Tapi, Ema tetaplah idola di kantor kami.
Sepeninggal Ema, aku berjalan menuju dispenser, berharap bisa membuat secangkir coklat panas dan well, memandang sebentar ke ruangan Ardiansyah. Ardiansyah, merupakan redaktur berita. Dia memiliki pesona yang sangat luar bisa, dia mampu membuat jantungku berkejaran saat matanya menatap ke arahku. “ Artikelmu semakin menarik.” Begitu pujinya setiap dia membaca artikelku di setiap edisi. Pujiannya membuatku tiba-tiba merasa bersayap dan memungkinkanku untuk terbang ke langit. Cinta yang kumiliki, well, apa ini memang cinta? Ternyata cinta ini harus kurelakan untuk Ema. Ardiansyah memang sejak lama mengincar Ema. Tentu saja, mereka merupakan dua orang ciptaan Tuhan yang sangat percaya diri dengan kelebihannya. Pasti cocok jika mereka disatukan. Paling banter aku hanya bisa mencintai secara diam-diam.
Ardiansyah memang sangat tampan. Rambut di potong plontos terlihat sangat matching dengan wajahnya yang sempurna. Alis tebal dengan mata coklat yang menawan, hidung bangir, bibir penuh, dan tentu saja kulitnya yang bersih. Dan jangan salah, caranya berpakaian semakin menunjukkan bahwa dia sangat cerdas dalam berpenampilan untuk menunjukkan ketampanannya.
Ardiansyah, merupakan pria yang ramah. Namun, justru keramahan itulah yang menyebabkan banyak perempuan di kantor kami berkabung. Caranya memperlakukan perempuan seringkali membuat mereka salah tafsir. Seperti juga cara dia memujiku, sambil menatap mataku tajam. Apa tidak gemetar aku? Tapi nggak ngaca deh aku kalo menganggap dia juga naksir aku. Nggak mungkin deh!
Ardiansyah, memang pria yang tampan, dan aku rasa bukan hanya ketampanannya yang membuat para perempuan jatuh cinta padanya. Dia adalah juga memang pria yang cerdas. Itu alasan pertama kenapa dia bisa melesat cepat dari seorang reporter biasa menjadi redaktur. Sebuah kombinasi yang diciptakan Tuhan dengan sempurna. Barangkali, satu-satunya perempuan yang tidak bergeming dengan perhatiannya hanyalah Ema. Dan alasan Ema masuk akal.
“Dia kurang kaya buatku.” Begitu alasannya suatu pagi. Tentu saja, Ardiansyah kurang kaya jika harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk biaya perawatan tubuh Ema, perawatan rambut indahnya, perawatan kulit mulusnya. Itu sebabnya, Ema lebih memilih menjadi kekasih pria setengah baya yang mapan, walau harus dijadikan simpanan saja. Kalau lagi mujur dia menemukan bujang tua yang mapan. Tapi, mereka yang menjadi pria-pria pengagum kecantikan Ema bukan untuk dijadikan pasangan serius buat masa depannya.
“Tunggu saja sampai aku bisa menemukan pria kaya, tampan, dan lajang. Maka, aku akan melepaskan mereka semua.” Begitu katanya lagi tanpa sedikitpun merasa bersalah. Padahal, Ema tahu kalau pria-pria yang terpikat itu sudah memberikan puluhan juta bahkan ratusan juta untuk membiayainya. Hebatnya lagi, Ema tidak pernah merasa bersalah.
Ya itulah seorang Emanuela Franzizca, dia tidak akan tertarik kepada pria tampan dengan kantong tipis. Dia hanya peduli berapa banyak uang yang bisa diberikannya.
Beruntunglah dia! Sebab memang banyak pria yang menyanjung, memuja, dan memberikan apa saja. Bandingkan dengan aku. Aku tidak punya teman pria. Aku tak pernah mengalami makan malam romatis, nonton di malam minggu, bahkan mendapat telepon untuk sekedar mendengar suara bass khas pria mengucapkan, “selamat malam, Cantik.” Yang paling sering kudapatkan adalah pertanyaan, “menurutmu artikelmu kali ini bagusnya dengan gambar yang mana?” dan itu adalah pertanyaan dari Ariel, anak design di kantor. Puiih, betapa tidak beruntungnya aku. Oh ya, ada juga sih pria yang menelpon atau mengajakku berbincang serius, tapi mereka adalah pria-pria yang hatinya patah karena Ema.
Sebab, Ema adalah sahabatku. Di kantor ini, hanya Ema sahabatku. Walau dia menjengkelkan tapi dialah yang paling peduli padaku.
“Kamu yang paling membuatku merasa nyaman.” Begitu yang sering dia ucapkan padaku ketika dia mengakhiri curhat tentang hidupnya.
Memangnya ada apa dengan hidupnya?
Ema merupakan lima bersaudara dari keluarga yang broken home. Ayahnya pria keturunan Belanda, dan ibunya wanita ayu dari Yogya. Saat dia berusia sepuluh tahun. Orang tuanya bercerai. Ini disebabkan ayahnya yang ganteng (sumpah, ayahnya memang ganteng sekali! Aku pernah dikenalkan pada saat dia mengunjungi Ema) suka berselingkuh. Ibunya akhirnya memilih bercerai dan membawa serta kelima anak-anaknya. Ayahnya sendiri langsung hengkang dari rumah, dan selang satu bulan dia mendengar ayahnya sudah menikahi perempuan selingkuhannya.
Ema kecil, bersama saudara-saudaranya harus hidup serba prihatin. Apalagi ibunya tak mau menerima uang dari ayahnya. Ibunya banting tulang menghidupi keluarganya. Kedua kakaknya yang saat itu berusia masing-masing 17 dan 15 tahun, serta adiknya berusia masing 8 dan 5 tahun harus merasakan penderitaan yang berkepanjangan. Dan rupanya, penderitaan itu tak dapat ditanggung oleh semua anggota keluarganya. Ema bersaudara yang keseluruhannya perempuan cantik-cantik akhirnya menyerah pada beban hidup. Menginjak remaja, Ema dan kedua adiknya mengikuti jejak kakak-kakaknya, menjadi perempuan yang selalu memanfaatkan kecantikan demi uang. Ya, demi uang. Semua demi uang.
Anehnya, ibunya tak pernah mempermasalahkan itu.
“Mama justru lega karena masing-masing dari kami menjadi mesin pencetak uang.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Mengerikan memang ceritanya.
“Itulah sebabnya aku tidak pernah menyesal melakukan ini. Sebab aku memang sudah terbiasa. Aku tidak peduli pada perasaan pria-pria itu. Salah mereka mencintaiku. Lagipula mereka memang bukan pria-pria baik. Kami sama-sama brengsek! Kami saling memanfaatkan. Mereka menikmati tubuhku, aku menikmati uang mereka. Sama-sama diuntungkan, bukan?” tanyanya. Bulu kudukku bergidik mendengarnya.
“Lantas, mau sampai kapan kamu begini?”
“Sampai aku benar-benar beruntung mendapatkan pria yang aku inginkan.” Tegasnya.
Dan pria yang diinginkan Ema adalah pria yang sudah aku sebutkan di atas : TAMPAN, KAYA dan LAJANG! Hebat bukan kriterianya!? Tapi, diam-diam aku juga sering membawanya dalam doa-doaku semoga Ema, sahabatku mendapatkan pria yang diinginkannya.
“Bagaimana dengan kamu?” Nah, Ema kadang menanyakan hal ini tanpa pernah melihat siapa aku. Apakah dia tidak lihat kalau aku sangat berbeda dengannya.
“Aku hanya ingin mendapatkan lelaki yang baik. Itu saja.” Tentu saja, Baik hati itu penting. Sebab pria baiklah yang akan menerima keadaanku yang jelek ini tanpa sedikitpun mengeluh. Mana mungkin aku memiliki kriteria sehebat Ema? Tahu diri lah!
“Kuharap kamu akan mendapatkannya.” Ujarnya tulus sambil memelukku.
“Terima kasih karena sudah menjadikanku menjadi sahabatmu.” Bisiknya pelan. Tentu saja, aku menjadikanmu sahabatku sebab walau kamu sering mengolok tubuhku tapi dari binar matamu kasih sayang memancar. Aku menyanyangimu apa adanya Ema.
Lalu kami selalu berpelukan selepas Ema mengeluarkan unek-uneknya.
Ema memang sahabatku, seperti juga dia menganggapku sahabatnya. Kami sependapat tentang arti sahabat. Sebab, kami adalah dua mahluk berbeda yang saling membutuhkan. Ema membutuhkan ketulusan dari orang yang dekat dengannya, bukan sekedar memanfaatkannya,sedangkan aku bisa belajar banyak padanya tentang hal-hal yang menyenangkan tentang busana, kencan, dan kegilaan.
Jujur, Emalah yang sangat berperan dalam menentukan baju apa yang akan aku pakai. Kami sering menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja. Aku mengira duit Ema memang tak pernah habis. Dia sering mengajakku berbelanja baju dan memantas-mantaskannya untukku. Jadilah aku dengan setelan-setelan yang funky dan berwarna-warna cerah. Walau mungkin tidak ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang pantas sebab mereka tetap konsen dengan lemakku. Sekali lagi lemakku! Bahkan, aku sering merasa mereka berkata, “Sungguh tak tahu diri, perempuan gemuk itu memakai baju-baju berwarna cerah. Bukankah itu semakin membuatnya bertambah bengkak?”
Well, untunglah ada Ema yang menyakinkanku bahwa aku terlihat lebih bersinar dengan pakaian pilihannya. Aku percaya Ema mengatakan hal yang sebenarnya. Dan diam-diam aku seringkali menangis dalam hati ketika dia meminta pendapatku tentang baju baru yang ingin dibelinya, “Ah betapa cantiknya Ema dengan baju apapun.” Aku tidak pernah menggelengkan kepala, semua yang dipakai Ema tampak sempurna.
Kami juga sering makan malam bersama seusai pulang kerja. Tentu saja setelah meminta izin kepada kedua kakakku dan orangtuaku. Dan mereka mengijinkanku pergi ketika mereka tahu, aku berangkat bersama Ema. Bagi mereka Ema adalah sahabat yang baik untukku. Bahkan Bang Indra dan Bang Andri sempat naksir Ema karena dianggapnya Ema adalah perempuan cantik sekaligus berhati peri. Tapi, Ema tentu saja mengabaikan mereka. Bagi Ema, kedua kakakku masih kurang kaya.
“Sebab mereka adalah kakak bagiku. Lagipula, aku tak mungkin memilih keduanya, bukan?” tolaknya halus padaku. Dia tak ingin menyakitiku dengan alasan yang aku tahu. Ema menolak dengan cukup bijaksana. Aku hanya tersenyum-senyum dan mengangguk, lalu menyampaikan alasan Ema pada kedua kakakku. Dan mereka setuju dengan itu.
“Lagipula, Ema adalah sahabat baikmu, De. Lebih baik persahabatan tak perlu dicampuradukkan dengan cinta. Bisa amburadul!” ujar bang Andri kalem. Dua minggu kemudian, bang Andri malah mengenalkan pacar barunya. Dia tidak begitu cantik, tapi terlihat begitu penyanyang.
“Sebab aku punya adik manis yang kusayangi, dan aku ingin calon istriku menyanyanginya.” Ujarnya dengan logat memanjakan. Dan memang mbak Ita, menyanyangiku.
Demikian juga Bang Indra selang berapa lama dari perkenalan calon bang Andri, mengenalkan juga pacar barunya. Perempuan keibuan itu bernama Anisa. Mengenakan jilbab dengan perawakan sedang. Lesung pipitnya membuatnya terlihat manis. Dan seperti mbak Ita, mbak Anisa juga menyanyangiku.
Apa sebenarnya yang kurang dari hidupku? keluarga menyanyangiku, bahkan mereka memasukkan anggota baru yang juga menyanyangiku. Aku juga punya Ema yang tak kalah besar menyanyangiku. Kekuranganku cuman satu. Aku ditakdirkan menjadi perempuan gendut, hitam, dan tidak menarik!Herrkkkkkkk!!!!     
Kembali lagi mengenai ceritaku dan Ema. Walau tidak selalu makan siang kami habiskan bersama. Tapi, ketika akhirnya kami memiliki waktu untuk bersama. Makan siangku akan sangat menyenangkan. Sebab, Ema selalu saja menceritakan hal-hal konyol dari pria-pria yang ingin membuatnya jatuh cinta. Lucu juga cara pria untuk menaklukan perempuan! Aku sering tertawa terbahak jika mendengar ceritanya.
Bahkan Ardiansyah terkadang melakukan tindakan konyol untuk bisa dekat dengan Ema. Salah satunya adalah dengan memberinya bunga berwarna pink dengan sebuah surat yang bergantung di tangkainya, “Maukah kamu makan siang denganku, cantik?” Well, cantik di sini tentu saja bukan namaku. Cantik di sini adalah panggilan Ardiansyah khusus kepada si cantik Ema. Dan sebab, Ema tak sanggup menolak ajakan yang romantis dan manis itu, dia akan mengajakku serta dalam acara makan siangnya. Puiih, sungguh menyesakkan dada! Bayangkan saja jika kamu melihat mata pria yang kamu kagumi menatap takjub perempuan lain. Pernahkah kamu mengalaminya? Semoga tidak! Sebab itu sangat menyakitkan!Tapi sakit itu bisa diobati karena dalam jangka waktu hampir satu jam aku pun bisa menikmati Ardiansyah. Menikmati aroma parfumnya dan sesekali menatap wajahnya.Aku bahkan tidak bisa konsentrasi lagi pada makananku, aku lebih sibuk memikirkan “Seandainya mata Ardiansyah menatap ke arahku dengan penuh cinta, tentu aku akan bahagia.” Tapi tentu saja tidak mungkin, sebab pria tampan hanya tertarik pada perempuan cantik. Dan aku adalah perempuan jelek, mungkin super jelek!
Dan Ema, yang merasa digila-gilai semua pria malah makan dengan asyik serta mengabaikan tatapan mesra Ardiansyah. Kasihan memang pria yang kukagumi itu. Dia mencintai perempuan yang salah, mungkin seperti juga aku mencintai dia. Cinta yang salah.
Ema dan aku masuk ke perusahaan ini dalam jangka waktu yang sama. Kami melalui test dan seleksi yang sama. Tapi, aku yakin bahwa Ema masuk ke sini bukan karena otaknya. Sebab jujur saja, Ema sangat merepotkan dalam urusan kepala. Dia sangat bloon dalam urusan pekerjaan. Bahkan sejak awal dia selalu saja meminta bantuanku untuk membuat daftar pertanyaan untuk seleb yang mau dia wawancarai. Ya ampun, daftar pertanyaan saja dia kebingungan. Kemudian, setelah akhirnya daftar pertanyaan itu harus dia rangkai menjadi berita, dia pun akan tetap merepotkanku. Jadi, menurutmu kenapa dia masuk ke kantor majalah ini? Ya, kurasa karena memang dia cantik!
Dan, barangkali itu sebabnya dia bisa menjadi sahabatku. Selain karena dia membutuhkan otakku, juga karena banyak pandangan sinis padanya. Banyak senior kami yang sinis padanya. Oh, tentu saja karena tiba-tiba saja Ema menjadi perbincangan semua pria ketika baru satu hari masuk kerja. Well, bayangkan saja hal itu!
Bagaimana dengan aku? Tidak ada seorang pun mempedulikan aku. Mereka terlihat terlalu sibuk, bahkan untuk mengetahui siapa namaku. Dan bayangkan, bagaimana raut wajah mereka akhirnya terpaksa harus mengetahui namaku (Ini demi membuat name tage) raut wajah mereka seolah-olah mengatakan, “Oh alangkah tidak cocoknya nama itu untuknya.’ Tentu saja dengan wajah yang memelas menatapku sambil mengira-ngira kalau orangtuaku salah memberi nama. Sampai akhirnya Dien, mengusulkan dengan seenaknya nama panggilan untukku, “Cece. Bagaimana kalau kami panggil kamu dengan sebutan Cece.” Aku sih mengangguk saja. Aku kan tidak mungkin memaksa mereka menyebutku Cantik jika mereka tidak ikhlas.
“De, kok kamu dipanggil Cece?” Tanya Bang Andri heran ketika seorang temanku memanggilku saat dia menjemputku. Dan Dede, merupakan panggilan kesayangan orang rumah untukku.
“Cece itu artinya, hemm, kalau nggak salah sih, kakak.” Lanjutnya dengan wajah berkerut
Well, masih mending bang Andri hanya mengetahui panggilan baruku Cece, tidak diembel-embeli Ndut di belakangnya. Kalau saja dia tahu, aku tidak bisa membayangkan hancurnya wajah temanku itu. Maklum, kedua kakak kembarku yang tampan itu paling nggak rela kalau Dede kesayangannya ini dihina orang. Aku masih ingat ketika aku kelas tiga SD, salah seorang anak di komplek memanggilku, “Hei, jelek!” bang Andri langsung menghajarnya hingga hidungnya patah. Jadi, jangan coba-coba memanggilku dengan sebutan –yang sebetulnya menggambarkan aku- nggak enak. Sebab, kedua kakakku akan menghajarmu.
Seharusnya aku merasa beruntung, tapi aku tetap merasa tidak beruntung dengan keadaan fisikku ini!
Aku hanya akan merasa bahagia ketika mendapati diriku secantik Ema. Okelah aku tidak perlu secantik dirinya tapi minimal aku tidak Gendut, tidak hitam, dan lebih menarik.
Bayangkan saja, aku menjadi kacingcalang di keluargaku. Aku menjadi obyek yang membuat foto keluargaku menjadi tidak indah. Aku pernah bertanya pada mama mengenai kondisiku.
“Ma, apakah aku anak pungut?” pertanyaanku hanya dijawab mama dengan tatapan penuh kasih sayang
“Tentu saja tidak, kamu lahir setelah mama kandung selama sebelas bulan.” ooow, tenyata barangkali itu jawaban yang bisa kuberikan atas kondisi fisikku. Aku terlalu lama dalam kandungan sehingga aku gemuk sejak awal, tapi apa asumsi yang pantas untuk kulit hitam dan rambut jarangku?
Ya, inilah aku, perempuan bernama Cantik yang sama sekali tidak cantik! Kasihan deh gue!!!!!


Selanjutnya???? TUNGGUIN AJA YA?

No comments: