23 October 2005

Tersenyumlah cantik!

BERSYUKUR itu patokannya

Titik kepuasan manusia itu tak pernah berbatas dan rasa syukur menjadi benteng agar kita tidak terjebak pada kerakusan.
Pernah merasa tak puas? Tak puas pada bentuk fisik, kondisi keluarga, uang, atau malah tak puas pada keseluruhan hidup yang kita miliki. Ketika rasa tak puas itu menyerang, apa yang kamu rasakan? Tersiksa kan? Ya, seringkali rasa tak puas pada diri lambat laun akan menggerogoti kebahagiaan bahkan lebih ekstrimnya akan membangkitkan berbagai penyakit hati seperti depresi atau stress.
Padahal manusia memang tidak akan merasa puas. Titik kepuasan manusia memang tak pernah berbatas. Ibaratnya ketika haus kita meminum air laut, bukannya dahaga tersembuhkan justru kita semakin haus.
Patokan hidup bahagia hanya satu yaitu SYUKUR. Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan akan membuat hidup kita lebih barokah. Syukur di sini bukan berarti kita tidak melakukan berbagai tindakan untuk membuat hidup kita menjadi 'lebih' namun rasa syukur adalah untuk menghalangi diri kita menjadi orang yang tidak realistis dalam mencapai keinginan.
Allah sudah menciptakan dirimu dalam satu paket utuh kelebihan dan kekurangan. Jadi jika begitu adanya, untuk apa kita harus meniru-niru orang lain? Kenapa kita tidak menjadi dirimu yang unik itu?
Lihatlah dengan bijak siapa dirimu. Biarpun kulitmu hitam tapi ketika tersenyum kamu begitu manis. Biarpun kamu tidak pintar matematika tapi kamu pandai mengarang. Biarpun kamu tidak punya kendaraan pribadi tapi kamu masih diberi kaki. Biarpun kamu tidak jadi juara pertama tapi prestasimu terus menunjukkan perubahan lebih baik.
"(lagi) yang mensyukuri Nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus." (QS An-Nahl ; 112)
“Dan kami akan membalas orang-orang yang bersyukur.” QS Ali-Imran : 145)

BE YOUR SELF aja lage!

Ketika kita sudah mengenali diri kita maka apa yang kita lihat,dengar, cium, baui, dan rasakan hanyalah sebagai pelengkap diri bukan sebagai sesuatu yang dicemburui
Tidak semua orang mau menerima kekurangan dirinya. Lebih banyak yang menyesali kekurangan dengan menutupinya secara berlebihan. Upaya itu biasanya dengan berlindung di bawah bayangan orang yang diidolakan atau mungkin juga berusaha menduplikasi orang lain secara terang-terangan bahkan secara sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain dan berakhir dengan perasan rendah diri. Berpaling adalah hal yang paling wajar kamu lakukan, karena kita merasa kurang cakap pada beberapa aspek kehidupan. Bagaimanapun kita mengagumi seseorang, tak akan dan tak dapat kita menjadi orang itu. Semakin kita mencoba menyamakan pola seseorang, semakin kacau dan bingung jadinya. Setidaknya, kita akan kehilangan kepercayaan diri karena cenderung merendahkan diri sendiri dan merugikan orang lain.
Salah satu cara yang paling ampuh untuk menghindari terlalu banyak ketidakcocokan dalam hidup adalah dengan mengenal diri kita sendiri apa adanya. Hal ini akan mendorong untuk melangkah sehingga kita tidak dapat memandang diri sendiri lebih rendah dari orang lain. Selain itu, kita harus mengatasi kecenderungan bergantung pada orang lain dengan memulai membuat daftar perubahan yang ingin kita raih dalam hidup dengan menyandarkan sepenuhnya pada bahu sendiri.
Bila kita jujur pada diri sendiri, kita bakal terkejut dengan betapa berartinya diri ini. Tentu saja kita tidak akan lagi larut dalam rasa iba diri, karena menyadari tanggungjawab ke arah kemajuan. Sejak itulah maka kita akan bangga menjadi diri kita sendiri. Pesona kita hanya akan terpancar ketika hati kita sudah bahagia dengan diri kita. Bukankah kita tak kalah menarik dengan orang lain?
Banyak sekali potensi diri yang bisa kita garap untuk semakin melengkapi kesempurnaan hidup kita. Kita harus menganggap bahwa diri kita menarik karena dengan modal itu orang lain akan menganggap kita menarik.
Berbanggalah dengan apa yang kita miliki. Kebanggan bisa dari apa saja : mungkin prestasi yang oke, banyak sahabat yang menyanyangi, keluarga yang harmonis, atau adik kecil yang manis. Apapun banggalah dengan diri kita dan always be your self! Tak perlu menjadi orang lain hanya untuk mencari simpati.
Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya
"Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, dan demi Bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS At-Tin ; 1 – 4)

Jangan IRI HATI dong!

Salah satu cara paling baik untuk mengungkapkan rasa iri bukan dengan menjatuhkan orang tersebut melainkan mengucapkan selamat dan meminta resep-resep langkah agar kita mampu meraih apa yang dia raih.
Iri merupakan salah satu 'penyakit' manusia. Kita sering merasa tidak puas melihat diri sendiri. Sering merasa diri lebih buruh, lebih bodoh, lebih menderita, dan lebih..dibandingkan orang lain.
Banyak sekali hal yang bisa membuat kita iri dan tanpa disadari rasa iri membuat kita selalu berpikiran negatif atas orang tersebut. Bahkan, kadangkala setelah iri kita akan menjadi mempertanyakan diri sendiri kenapa kita tidak dilahirkan seperti orang yang membuat kita iri. Pendapat terhadap diri sendiri yang rendahlah yang membuat kita merasa iri. Itu sebabnya kita harus membangkitkan pendapat rendah tersebut dengan mengubah cara berpikir negative menjadi cara berpikir positif.
Iri memang tidak selalu berefek negative. Rasa iri digolongkan sehat ketika hal itu dapat memotivasi diri untuk mencapai sesuatu yang membuat kita iri. Ketika merasa diri kalah dibandingkan orang lain, lantas berusaha meningkatkan diri agar tidak kalah atau paling tidak sejajar dengan orang lain atau kalau mungkin bisa lebih hebat. Namun iri menjadi tidak sehat ketika kita malah menjadi menghalalkan segala cara untuk meraih keinginan itu. Iri menjadi negative ketika kita bukannya terpacu untuk maju, melainkan terlibat persaingan yang tidak sehat. Misalnya dengan melakukan tindakan kriminal seperti merusak atau bahkan mencuri!
Berhati-hatilah konflik iri jika dibiarkan berkepanjangan akan membuat kesehatan mental kita terganggu. Gimana enggak keki ketika orang yang membuat kita iri seperti tidak merasa terganggu, sedang kita merasa terus tergerogoti oleh rasa iri. Bukankah itu bukan sesuatu yang menyenangkan? Lagipula rasa iri hanya akan menghabiskan energi dan capek sendiri.
Maka dari itulah kita harus pandai memanfaatkan rasa iri sebagai lecutan agar kita dapat meraih apa yang kita inginkan bukan berpikir menjatuhkan orang yang membuat kita iri. Buatlah target dan rencana jangka pendek maupun jangka panjang agar langkah kita semakin tertata untuk baik.
William James menyatakan, "Bandingkan pada apa yang sebenarnya kita maka kita hanya separuhnya. Kita masih memanfaatkan sebagian kecil dari kekuatan mental dan fisik kita. Individu manusia tinggal jauh di dalam batasannya, dia memiliki kekuatan yang berlainan dan acapkali gagal memanfaatkannya." So, ngapain juga kita ngiri sama orang lain?
"Jauhilah rasa dengki, sebab ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Daud)

Kenapa sih harus BENCI?

Hanya keikhlasan yang akhirnya akan menggantikan kebencian di dalam diri. Sebab keikhlasan adalah berarti menerima kenyataan paling pahit yang diberikan orang lain pada kita dan dengan keihklasanlah kita memahami cobaan sebagai salah satu wujud cinta Allah
Jika kita berbeda, tak apa asal jangan saling membenci. Begitu bunyi salah satu bait manis dari puisi karangan Neno Warisman.
Tapi memang, kemarahan dan kebencian merupakan sesuatu yang menyeramkan karena hasil darinya adalah ketakutan, konflik, dan kehidupan tak tenang. Kemudian akan berujung pada keinginan-keinginan negatif dengan tujuan menghancurkan orang yang kita benci.
Rasa benci memerlukan penyembuhan. Benci penuh dengan hawa menyakitkan, oleh karena itu sangat berbahaya jika dibiarkan. Tak ada kebaikan yang diturunkan kebencian pada seseorang dan biasanya kebencian lebih menyakitkan orang yang membenci daripada orang yang dibenci. Kebencian memperburuk keadaan.
Kebencian merusak. Orang hanya akan mendapatkan kebahagiaan saat dia berhasil melepaskan emosi negative dan menemukan kebahagiaan ada di sana sepanjang masa.
Kebencian mengikis keinginan kita untuk mengharapkan hal yang baik bagi orang lain, kebencian menghilangkan dorongan cinta untuk mengharapkan keberhasilan orang yang kita benci bahkan benci secara agresif mendorong untuk menghancurkan orang tersebut.
Itulah sebab kita harus menghilangkan rasa benci yang merongrong diri, menggantinya dengan keikhlasan kepada Allah. Sebab dengan keikhlasanlah kita akan merasakan kedamaian yang abadi pada diri.
“Barangsiapa pernah mendzalimi saudaranya dalam hal harta dan kehormatan hendaklah meminta keridhoannya. Sebelum dinar dan dirham tidak lagi bermanfaat selain kebaikan dan keburukan.” (HR. Bukhari)

Ayo BELAJAR mengenai apa saja!

Proses penyempurnaan diri itu harus dilakukan secara terus menerus dengan kegiatan belajar. Tidak ada yang namanya berhenti belajar karena melalui tindakan mengingat, mendengar informasi, mencium keadaan, membaui perasaan, mengingat kejadian-kejadian dan melalui pengalaman setiap hari akan membangun dan terus membangun proses penyempurnaan diri
Satu satu ayo kita belajar
Dua dua ayo kita belajar
Tiga tiga ayo kita belajar
Satu dua tiga kita belajar apa saja
Sadar akan segala keterbatasan sebagai manusia, sudah selayaknya kita mencekoki diri ini dengan kegiatan belajar. Sebab belajar merupakan salah satu sarana untuk menyempurnakan setiap langkah kita.
Belajar yang dimaksudkan bukan melulu duduk manis di depan guru. Tapi seluruh kegiatan dijadikan sarana belajar. Banyak hal yang bisa kita jadikan ajang pembelajaran, begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang Allah berikan pada kita untuk dipelajari dan dikhayati.
Belajar sabar menghadapi persoalan, belajar untuk tidak menghakimi kesalahan, belajar pada setiap kegagalan, belajar pada kesuksesan orang lain, belajar tersenyum pada rasa sakit, belajar berkompromi pada kebencian, dan belajarlah pada semua yang tidak mengenakkan sehingga berbuah sesuatu yang menyenangkan.
Luasnya ilmu Allah tidak terhingga
"Katakanlah, "kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhan-ku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhan-ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS Maryah ; 109)

GAGAl Siapa Takut?

Manusia yang paling gagal adalah ketika mereka tidak mau berdiri kembali setelah terjatuh
Seringkali kita mengutuk kegagalan lantas berhenti melangkah mencapai tujuan awal. Eit, hati-hati untuk memutuskan berhenti karena gagalmu sebenarnya adalah broker kesuksesanmu.
Hal pertama yang harus kita lakukan ketika kita gagal adalah kita tidak membiarkan penyesalan menjadi racun, biarkan hatimu berpikir sejernih mungkin untuk menganalisa kenapa kegagalan itu terjadi.
Sesungguhnya Allah tidak hanya menguji manusia dengan kegagalan. Bahkan kesuksesanpun adalah ujian. Itu sebab jika keduanya adalah ujian maka kita harus dapat menyerap energi-energi positif yang ditawarkan kedua hal tersebut.
Tidak perlu khawatir dengan kalah-menang, suka-duka, senyum-tangis, dan sukses-gagal karena dari sana kita dapat belajar banyak dalam menyempurnakan langkah. Kita tetap harus maju ketika gagal menerpa. Jadi, gagal siapa takut?
"Sesungguhnya beserta (sehabis) kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia) maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah kepada Tuhanmu berharaplah" (QS Al-Insyiroh ; 6 – 8)

TERSENYUMLAH cantik!

Kecantikan yang paling abadi bukanlah kecantikan fisik yang kita bawa sejak lahir, bukan pula berasal dari make up yang membingkai wajah kita, namun senyuman yang membias dari bibir kita
Murah senyum dan selalu ceria setiap saat akan 'menularkan' rasa bahagia kepada orang-orang di sekita kita. Selain itu ternyata tersenyum menjadi obat mujarab meredakan emosi dan membuat kita selalu berpikiran positif. Jadi biarpun kita lagi marah, kita nggak perlu menampakkan wajah kusut dan berlipat-lipat.
Senyuman dari sahabat membuat kelelahan kita memudar, merasa diakui keberadaan, membuat kita berharga, menghilangkan beban seketika. Senyuman membuat dunia ini menjadi indah dan membuat kita menjadi cantik.
Sebuah pribahasa terkenal yang berbunyi, "Tertawalah maka dunia akan ikut tertawa bersamamu. Menangislah maka hanya kau sendirilah yang menangis."
Senyuman memang merupakan ungkapan alamiah dan tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang biasa tersenyum. Namun, jika kita memutuskan secara sadar untuk tersenyum, apabila tepat, kita sebenarnya akan menyadari bahwa senyuman dapat pula dikontrol secara tak sadar. Oleh karena itulah, niatkanlah untuk tersenyum, maka kita akan menyadari keadaan perasaan atau suasana hati kita cenderung mengikuti dan berusaha sejalan dengan niat kita. Mood akan menjadi baik.
Tersenyumlah walau hati kita terluka karena tersenyum dapat mempertahankan sikap luar optimistic, membantu untuk tetap tabah dan menyelami apa yang tersirat.
Senyum kita akan membuat orang lain bahagia. Pada gilirannya senyum kita akan membuat kita sendiri bahagia. Nah, tersenyumlah cantik!
"Senyumanmu di saat bertemu kawanmu, terhitung sedekah." (Rosul)

TERBAIK atau LEBIH BAIK sih?

Kita tidak perlu terbebani untuk menjadi yang terbaik
tapi aturlah siasat untuk selalu menjadi lebih baik setiap detiknya
Ada perbedaan antara keinginan menjadi yang terbaik dengan menjadi lebih baik. Keinginan menjadi terbaik terkadang menyisakan kekecewaan ketika akhirnya kita tidak dapat menjadi apa yang kita inginkan, tapi menjadi lebih baik menyisakan makna dalam proses penyempurnaan langkah yang dilakukan setiap waktu.
Salah satu yang membedakan antara keduanya adalah penerimaan kritik yang diberikan. Terkadang keinginan menjadi yang terbaik mengabaikan kritik konstruktif yang diberikan orang lain, sedangkan keinginan menjadi lebih baik selalu welcome dengan berbagai kritik yang hadir.
Saat ini, belajar seumur hidup merupakan keharusan, dan kritik dapat menjadi senjata ampuh untuk kita tumbuh dan berkembang. Kita harus bisa belajar menerima dan menyambut kritik sebagai sarana untuk menjadi lebih baik.
Semakin kita menerima kritik, semakin mudah kita memanfaatkannya untuk membangun keunggulan kita.
"Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik, dan berkahilah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong." (QS Al-Isro ; 80)
“Ya Allah, manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku, dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku.” (HR. Nasai)

Insya Allah, ini merupakan beberapa point dari naskah saya yang akan segera terbit.

(Yogyakarta, 23 Oktober 2005)

No comments: