11 October 2005

Pertama, belajar. Kedua, belajar. Ketiga, belajar

Satu satu aku ingin belajar
Dua dua aku ingin belajar
Tiga tiga aku ingin belajar
Satu dua tiga aku ingin jadi pintar
Begitulah kira-kira sebuah nyanyian semasa kecil yang saya daur ulang sebagai nyanyian di masa besar…hehehe…
Seorang sahabat yang menjadi pengkritisi tulisan saya di web ini mengawali suratnya dengan mengemukakan komentarnya mengenai semangat saya untuk terus belajar. Bahkan dengan kepahaman dan pengalaman yang luar biasa dalam dunia bisnis, tak tanggung-tanggung saya juga jadi belajar darinya. Ya-ya-ya belajar memang bisa dimana saja dan dari siapa saja.
Berbeda dengan saya yang mungkin masih bisa disamakan dengan bayi berusia bulanan, sahabat saya ini sudah menjelma menjadi orang dewasa yang kaya akan asam, manis, pahit kehidupan bisnis. Jadi, dengan mudahnya sahabat bisa memberi arahan yang kira-kira sesuai bagi bayi seperti saya. Jadi, jika sahabat membaca tulisan ini, tidak tanggung-tanggung ini memang saya persembahkan untuk menghargainya terlepas apapun yang beliau inginkan selama berinteraksi dengan bayi seperti saya.
Saya tidak ingin rendah diri atau pun takabur ketika berhadapan dengan siapa pun. Bagi saya hidup ini tetap merupakan proses. Semakin panjang proses yang dialami, semakin tahulah kita tentang hidup. Itu pun jika kita banyak-banyak belajar dari rangkaian cerita suka duka yang datang silih berganti.
Demikian juga dengan bisnis. Semakin banyak kita mengalami kemenangan dan kegagalan semakin banyak cakrawala terbentuk di kepala. Entah apakah cakrawala itu di dapatkan otodidak atau akhirnya harus berguru pada orang-orang yang telah sukses terlebih dahulu.
Proses, itu yang paling saya anggap penting. Saya tidak ingin berkhayal bahwa sesuatu akan saya dapatkan dengan sekali suit, saya butuh banyak waktu untuk belajar dalam dunia nyata ini. Dunia yang menjanjikan begitu banyak surga sekaligus neraka tetap secara realistis harus saya jalani dengan penuh lapang dada dan besar hati.
Beruntung juga, banyak sahabat yang bisa saya ajak bertukar pikiran sehingga saya nyaris tak pernah merasa sendirian dalam mengarungi lautan dengan perahu alakadarnya. Lho, perahu ini tetaplah sebuah perahu yang membantu saya agar tak tenggelam, kalau tak naas di makan ikan hiu..hehehe…Sahabat-sahabat yang telah lama bergelut di bisnis saya ibaratkan kapal besar yang siap sedia memberikan alternatif sekoci jika saya mulai terengah-engah mengendarai perahu. Tapi eit, sekoci itu bukan untuk memindahkan saya dari perahu, tapi mereka memberikan minum dan makan bahkan buah-buahan untuk meredakan lelah saya sampai akhirnya saya mencapai pantai dengan selamat. Bukankah di kapal besar sudah tersedia minum, makan, dan buah-buahan? Dalam arti kata pengalaman mereka sudah lebih menakjubkan untuk dipelajari.
Yup, secara sadar saya adalah perahu yang harus banyak belajar pada kapal besar. Karena itulah, sangat cocok kira-kira nyanyian saya ini.
Satu satu aku ingin belajar
Dua dua aku ingin belajar
Tiga tiga aku ingin belajar
Satu dua tiga aku ingin jadi pintar

(Yogyakarta, 10 oktober 2005)

No comments: