07 October 2005

Menyesuaikan dengan Pekerjaan

Siang ini saya menyengajakan diri untuk bertemu dengan sahabat saya, seorang Marketing Bank swasta sekedar untuk bershilaturahmi dan tentu saja berdiskusi banyak hal. Sahabat saya merupakan seorang marketing yang hebat dalam mempengaruhi. Saya mengenalnya ketika saya sedang menyetor uang di bank dan kemudian diprospek oleh beliau untuk menyisihkan sebagian penghasilan sebagai investasi. Hebatnya, dia berhasil mempengaruhi saya dalam tempo waktu hitungan menit. Ini berarti jeruk makan jeruk alias marketing makan marketing..hahaha…Tapi, dampak positif dari perkenalan kami adalah diskusi yang sarat akan ilmu pada setiap pertemuan kami selanjutnya.
Setelah ngobrol panjang lebar mengenai dunia Marketing. Tiba-tiba saja beliau mulai membuka diri mengenai urusan pribadinya. Weleh..weleh…kemudian saya menjadi pendengar atas permasalahannya. Maklum tak punya pengalaman di dunia pernikahan, saya hanya bisa memberikan nasehat berdasarkan sedikit teori dan beberapa perbandingan masalah yang pernah saya dengar pada kasus sahabat lainnya.
"Menyesuaikan dengan pekerjaan" begitu kira-kira yang diungkapkan oleh wanita keibuan itu. Persoalan rumah tangga ternyata berawal dari pekerjaan. Profesi sebagai seorang marketing banyak menyita waktunya di rumah. Tidak ada jadwal tetap yang bisa dipegang. Kadang dia harus mengejar konsumen di pagi sebelum waktu kerja atau malam hari sesudah kerja. Awalnya suami enjoy saja dengan pekerjaannya. Kini, profesi itu menjadi bumerang bagi rumah tangga mereka. Saya pikir tidak ada solusi bagi sahabat, karena keduanya bersikukuh bahwa apa yang dilakukannya benar. Yang ada hanya pilihan. Sahabat hanya bisa menentukan satu pilihan diantara dua pilihan sulit, keluarga atau pekerjaan.
Ketika saya bercermin pada diri saya sendiri. Profesi saya sebagai seorang marketing menuntut saya untuk siap di lempar ke sana kemari. Jadwal yang berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi lapangan memang akhirnya banyak mengorbankan urusan pribadi, salah satunya –pasangan- Tapi ketika harus memilih, akhinya saya memang harus memilih salah satu diantara dua pilihan yang sama-sama berat. Apakah pekerjaan akan menjadi pilihan atau menaikkan porsi kepentingan pribadi. Hemat saya, ketika memang Anda sudah menentukan satu pilihan, maka pilihan lainnya memang harus dikorbankan. Itulah konsekuensinya! Tapi jika mungkin Anda bisa meraup keduanya, mengapa tidak dilakukan!? Jadi, apakah yang sulit itu Anda menyesuaikan dengan pekerjaan atau pekerjaan menyesuaikan dengan Anda? Semua jawaban ada di tangan Anda!Semoga tidak alasan bagi Anda untuk berkorban banyak pada sesuatu yang kita dambakan berjalan baik.Amin.

(Yogyakarta, 6 Oktober 2005)

No comments: