11 October 2005

Menurunkan Standar Hidup

Biasanya yang paling sering saya dengar dari kawan-kawan sejawat adalah menaikkan standar hidup. Tapi, teman saya malah menyarankan untuk menurunkan standar hidup. Nah lho? Artinya apa? Apakah ini berarti kita harus bergerak mundur dari apa yang sudah kita raih?
Standar hidup di sini adalah patokan ideal yang kita inginkan. Menurunkan standar hidup katanya berarti menurunkan tingkatan stress yang melanda. Mungkin saya juga baru tahu ketika seorang sahabat mengatakan 'keinginan adalah sumber penyiksaan'. Apa iya?
Setelah dirunut-runut dari berbagai pengalaman di sekitar lingkungan. Banyak keinginan yang tidak tercapai menghasilkan begitu banyak kekecewaan. Jadi apakah sebaiknya kita menekan sebagian besar keinginan untuk menghindari sebagian besar kekecewaan? Uuups, rada-rada kurang setuju sebenarnya dengan pemahaman itu. Karena keinginan yang gagal bukan cuman milik saya, Anda, atau kita semua. Kegagalan adalah bagian dari proses hidup bukan?
Mungkin saja, menurunkan standar hidup itu berarti patokan idealnya diturunkan menjadi lebih realistis dengan mengukur kemampuan kita untuk pencapaiannya. Mungkin saja…
Tapi, berbicara masalah keinginan, pasti deh nggak jauh-jauh sama gemerlapnya duniawi seperti harta, tahta, dan kuasa. Itu barangkali yang memicu penyiksaan karena ketika ketiganya tidak didapat diraih kita merasa tak berharga. Apakah keinginan untuk meraih bahagia di akherat kelak sudah menjadi tujuan hidup kita juga? Jujur sejujur-jujurnya ternyata keinginan duniawi mungkin memang hanya akan menimbulkan ketidakpuasan di sana sini sehingga target tentu saja selalu bertambah dan terus bertambah. Jika statis kecewa, apalagi jika mundur. Jadi tak ada yang dinamakan menurunkan standar hidup. Tapi, ketika keinginan duniawi itu dibarengi dengan keinginan yang bersifat rohani semakin banyak direguk semakin nikmat hati kita, dan semakin meluapnya asupan rohani dalam aliran darah kita, sepertinya standar hidup itu bukan menurun atau naik namun selalu menjadi tempat kita mengucap banyak syukur. Barangkali…ini menurut orang awam seperti saya.

(Yogyakarta, 10 Oktober 2005)

No comments: