10 October 2005

Bertanggungjawab pada Masa Depan

Kehidupan saya sejak lama memang tidak bisa mengandalkan bimbingan orang tua. Pertama, Bapak pasif membimbing keluarga karena sakit stroke sejak saya duduk di kelas dua SMP dan meninggal ketika saya keluar SMA, sedangkan mama sebagai ibu rumah tangga biasa tiba-tiba harus pontang panting membiayai ekonomi keluarga. Nyaris kami berempat (saya, dua kakak, dan adik) terlantar secara psikologis.
Beruntung sebelum peristiwa ketelantaran itu, Bapak telah menularkan banyak energi positif pada anak-anaknya untuk hidup secara mandiri dan kuat mengatasi segala persoalan. Jadi, berbagai kondisi prihatin sukses saya jalani walau dengan tertatih-tatih. Memang, pencarian jati diri kami satu sama lain berbeda. Di antara kami berempat ternyata yang paling cepat mengalami proses metamorfose adalah saya. Hingga akhirnya saya harus berperan menjadi tulang punggung keluarga. Well, semua saya jalani dengan hati ikhlas dan senang.
Satu yang saya pahami dari berbagai peristiwa pahit manis hidup adalah bahwa masa depan memang ada di tangan kita. Kita yang menentukan akan menjadi apa kelak.Tidak peduli lingkungan sekitar ingin membentuk kita seperti apa, tapi akhirnya kita juga yang menentukan dan memilih akan keluar menjadi apa.
Banyak trauma yang dihadapi oleh sahabat akibat masa lalu yang kelam. Banyak pula rasa pesimis dari sahabat ketika berada di lingkungan 'serba kekurangan' untuk bisa menjadi 'seseorang' Bahkan kakak saya sempat menyesali keadaan kami yang 'serba terhimpit' kemudian memutuskan keluar kuliah karena frustasi. Kami masing-masing memilih jalan sendiri untuk masa depan yang kami inginkan, tanpa bimbingan orang tua. Akhirnya beberapa tahun kemudian kakak pertama saya yang semula akan menggantikan posisi bapak sebagai Pengacara menjadi pemilik bengkel motor kecil-kecilan, kakak kedua saya yang super pendiam merantau ke negara orang berbekal keterampilannya menguasai enam bahasa asing dan setahun kemudian kembali ke Indonesia untuk berwiraswasta kecil-kecilan, adik bungsu saya setelah lama menggantikan posisi saya sebagai 'penanggungjawab' di rumah karena hampir tiga tahun saya tinggal di luar rumah kini lumayan sukses sebagai Marketing di sebuah perusahaan besar, dan saya sendiri kini semakin menyakini bahwa kita memang bertanggungjawab pada masa depan kita tidak peduli darimana kita berasal. Kami, keluar dari kepahitan masa lalu untuk menjelang masa depan yang kami inginkan. Jika orangtua tak punya waktu membimbing kita, maka kitalah yang harus membimbing diri kita sendiri. Masa depan bukan ditentukan oleh orang lain, tapi sekali lagi, kitalah yang menentukannya!
"Jadikanlah alasan yang menyakitkan sebagai pemicu semangat juang Anda sebelum alasan tersebut terjadi." (Willy Maringka)

(Yogyakarta, 8 Oktober 2005)

No comments: