10 October 2005

Training dari Trainer 'kelas bawang'

Siang ini saya kedatangan sahabat dari Solo. Sahabat yang satu ini di mata saya adalah pengusaha yang tak pernah lepas dari kaidah agama. Pengusaha Agamis, begitu barangkali lebih tepat saya sebut. Bersamanya bukan hanya bisa berdiskusi mengenai bisnis tapi juga banyak siraman agama yang saya terima.
Itu yang membuat kedatangan beliau begitu menggembirakan. Bukan main, ternyata kedatangannya kali ini juga memberi informasi baru mengenai perkembangan bisnisnya.
Sebuah perusahaan baru yang didirikan bersama dengan sahabat yang lain telah diresmikan. Sebuah perusahaan yang peduli akan peningkatan SDM dan produk dalam negeri. Diawali kepeduliannya pada perkembangan produk dalam negeri yang selalu saja kalah bersaing dengan produk impor serta SDM yang selalu jauh tertinggal, maka perusahaan ini dibangun dengan satu tekad MAJU DARI KETERTINGGALAN.
Tentu saja, ini tidak mudah dan butuh proses yang tidak sebentar. Sahabat mengakui hal itu. Namun, beliau yakin dengan konsentrasi penuh dari divisi-divisi yang dibangunnya, maka semua itu akan menjadi mungkin. Dan saya juga yakin bahwa salah satu dari sekian banyak modal untuk maju adalah optimis!
Saya tertarik atas konsep bisnis yang dibangunnya. Bahkan dengan antusias menyanggupi ungkapan sahabat yang suatu saat akan mengundang saya sebagai trainer di salah satu divisinya.
Saya memang bukan trainer yang bisa dibandingkan dengan konsultan dan penasehat bisnis yang menyandang banyak gelar 'wah' serta pemilik perusahaan 'dinosaurus' tapi sebagai trainer 'kelas bawang', saya lebih banyak mentransfer dan punya tanggungjawab untuk menularkan energi-energi positif yang selama ini begitu bermanfaat di lapangan. Training yang saya lakukan memang berasal dari pengalaman-pengalaman di lapangan. Jadi, mohon maaf jika saya tidak banyak mengutip teori-teori orang besar melainkan menurut Gede Prama merupakan teori yang berdasarkan realita di lapangan karena kenyataan itu terlalu kompleks untuk direduksi ke dalam satu atau beberapa teori saja.

(Yogyakarta, 8 Oktober 2005)

No comments: