30 August 2005

Cerpen : Antara Raka, Ratu, dan Intan

Raka terlihat bingung. Nafasnya perlahan dihembuskan, panjang..Intan memandangi lelaki tampan di hadapan.
“Hari ini kamu aneh, Rak? Ada masalah apa?” Tanya Intan ingin tahu. Sepanjang hari ini Raka memang aneh. Sebentar-sebentar melamun, matanya menerawang entah kemana. Termasuk sikapnya saat ini yang seolah tidak menanggapi suasana romantis yang ada.
“Ya, aku memang bingung dan tak tahu harus berbuat apa.” Raka menjawab keingintahuan Intan dengan suara pelan.
“Intan, apa kamu mencintaiku?”Tanya Raka sambil menggenggam tangan Intan.
“Tentu saja, kenapa kamu tanyakan itu?” rasanya Intan sudah mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Raka.
“Apakah kamu akan marah jika kuberitahukan sesuatu hal?”tanyanya lagi. Apa yang harus membuat aku marah atau tidak marah sedangkan hal yang akan disampaikan saja aku tak tahu. Batin Intan. Aneh memang si Raka ini.
“Aku tidak tahu! Aku kan belum tahu apa hal itu” sedikit jutek Intan menyahut.
“Janji ya, kamu tidak akan marah?” Intan menggeleng tak setuju.
“Ratu akan datang menjengukku besok malam.” Mata Intan terbelalak. Ratu akan datang. Hati Intan terasa tersayat saat itu juga, sakit sekali. Ratu akan datang, berarti…
“Kamu tidak marah kan?”Tanya Raka berusaha mencari jawab pada mata Intan yang mulai berkaca-kaca.
“Tidak, aku tidak marah dan kalaupun aku marah, jangan hiraukan. Aku tak berhak marah pada kamu ataupun Ratu. Selamat malam.” Intan beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlari pergi. Intan tak mau Raka tahu dia menangis karena sedih. Bukankah ini sudah sesuai dengan komitmen awal mereka berhubungan, kalau Raka sudah memiliki Ratu dan Intan takkan pernah menuntut apapun dari hubungan mereka . Tapi …….
***
“Halo sayang, senang bertemu kamu kembali.” Ratu langsung memeluk Raka saat dia menjemput Ratu di stasiun kereta.
“Sendirian?” Raka terlihat gugup di hadapan wanita yang sudah dipacarinya selama 7 tahun.
“Tentu saja sendiri, kamu pikir aku pergi kemari dengan siapa, hah? Apa mungkin aku menduakan kamu. Gak mungkin lah, aku cinta banget sama kamu.” Ratu, ya inilah Ratu. Gadis berwajah sederhana namun sangat mempesona. Gaya bicaranya yang menyenangkan, pribadinya yang supel, stylenya yang santai. Inilah Ratu, yang membuat Raka tergila-gila-gila padanya. Namun terlintas di benaknya sosok Intan yang cantik rupawan, keibuan, dan penyabar. Keduanya mahluk yang begitu sempurna dan Raka bingung untuk memilih salah satunya. Tapi apa mungkin aku dapat memiliki keduanya, gumam Raka dalam hati.
“Upps, melamun ya? dari tadi aku didiemin mulu, ih sebel” Ratu mulai manja.
“Ah.. eh sorry, sayang. Aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Mikirin apa? Aku cemburu nih, jauh-jauh kemari kalau dicuekin buat apa?” loh Ratu mulai marah
“Sorry…besok kita jalan-jalan kemana?” Tanya Raka berusaha meredam gugupnya. Wajah Ratu langsung sumringah.
“Putar-putar Bandung saja lha. Aku pengen banget jalan-jalan ke tempat yang romantis dan indah, ada gak tempat begitu?”
“Ada. Kamu sudah makan belum?”
“Tadi di kereta aku sudah makan nasi goreng, susu, manisan, roti tawar…”
“Percaya deh, kamu kan paling gak tahan kalau gak makan dua menit aza..ternyata rakusnya masih tampak.” Goda Raka.
“ Iya, kok tahu. Kalau gitu ajak aku ke tempat makan yang enak dong.” Ajak Ratu sambil cengengesan.
“Katanya udah makan?”
“Pengen makan lagi.” Jawab Ratu, tawa Raka pun berderai.
“Baiklah aku akan ajak kamu ke sebuah warung surabi yang beken di Bandung”
“Surabi Imut ya? aku pengen banget kesana, teman-temanku disana selalu membicarakan warung ini kalo mereka sud berlibur di Bandung. Aku jadi penasaran. Seenak apa sih makanan itu?” Ratu terlihat begitu antusias.
“Pokoknya entar deh disana kamu tahu, enak kok. Pasti kamu suka” Raka memutar mobil ke arah Setiabudi.
“Ayo turun, kita sudah sampai.” Ratu menggandeng Raka.
Tapi siapa di sana, ada Intan sedang makan sendirian.
“Hey, kenapa kamu melihat kepada gadis cantik itu terus?” teguran Intan membuyarkan tatapan Raka pada Intan. Raka kini baru ingat kalau kedai surabi ini paling sering dikunjungi Intan jika dia sedang ingin menyepi. Lalu apa yang membuatnya nekad mengajak Ratu kemari? Ah, barangkali ini memang sudah seharusnya terjadi. Pertemuan antara mereka bertiga.
“Itu temanku” elak Raka takut-takut.
“Lalu kenapa tidak kita suruh gabung saja dia? Atau kita gabung dengannya, bukankah suasana akan menjadi seru.” Usul Ratu sambil membalikkan kepalanya ke arah Intan. Mungkin Intan merasa diperhatikan, dia lalu menoleh ke arah mereka. O God…jantung Intan berdegup kencang.
“Hai..”sapa Ratu sok kenal. Raka menghampiri Intan, Ratu menguntit dari belakang.
“Tan, kenalkan ini Ratu.” Raka memperkenalkan Ratu yang sedari tadi memasang senyum manisnya. Oh inikah Ratu yang selalu Raka banggakan. Tak ada yang istimewa pada fisik gadis itu, biasa-biasa saja, lebih cantik aku. Intan berguman dalam hati, sedikit sombong. Tapi apa yang membuat Raka begitu takut berpaling dan menyakitinya.
“Teman sekantor atau teman main nih?” Tanya Ratu ramah. Intan masih melongo dibuatnya. Sok ramah banget nih anak.
“Temen baik.”jawab Intan nyaris terdengar jutek
“Bagus dong, mm…aku Ratu, pacarnya Raka. Aku baru saja tiba dari Surabaya. Sebenarnya papa orang Bandung sih. Tapi aku karena papa dinasnya pindah-pindah aku yang dilahirkan di Sorong jadi gak punya kampung halaman. Dan baru sekali ini aku ke Bandung setelah hampir tujuh tahun aku tinggalkan. Boleh gabung gak?” ocehan Ratu bikin mumet Intan. Intan gak bisa berbuat banyak saat Ratu meminta bergabung di mejanya yang kosong. Raka hanya mampu memandang Intan sekilas.
“Sudah lama kenal Raka?” Tanya Ratu. Intan mengangguk.
“Eh hampir lupa, nama kamu siapa?” lanjutnya, busyet sudah ngoceh kemana-mana masih tanya nama.
“Intan.” Jawab Intan singkat
“Nama yang bagus. Sesuai sama orangnya yang cantik, iya gak Rak?” Ratu meminta persetujuan Raka. Iya, Intan memang cantik.
“Kalian sudah pesan makanan?”Tanya Intan mencoba membalas keramahan Ratu. Intan mulai mengakui kelebihan Ratu. Ratu sangat supel dan menyenangkan. Hati Intan yang sedari tadi terbakar cemburu lenyap perlahan.
“Tentu saja sudah, tuh pelayannya datang” tunjuk Ratu pada seorang pelayan yang menghampiri mereka dengan seabreg pesanan.
“Sorri nih, aku makannya banyak. Emangnya Raka belum cerita ya? atau malah gak pernah cerita tentang aku? Pokoknya aku paling doyan makan dan doyan ngomong hahaha…” ujar Ratu dengan riang. Intan memperhatikan Ratu dengan seksama. Pantas saja Raka tak bisa lepas dari Ratu. Ratu sangat menyenangkan.
Malam itu mereka habiskan dengan gembira. Intan lupa cemburunya karena Ratu menghadirkan suasana yang begitu cerita diselingi banyolan-banyolan segarnya. Raka pun tak gugup berada diantara mereka berdua tanpa perlu sebuah penjelasan.
***
Bel rumah Intan berdering..ring..ring..ring…
Tergopoh Intan membuka pintu ruang tamu
“Raka, ada apa kemari?..Ratu mana?..”Intan terheran-heran dengan kedatangan Raka, karena biasanya Raka akan memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Ujar Raka to the point
“Aku juga. Mm, youk masuk.”ajak Intan. Raka menurut dan mendaratkan pantatnya di sofa paling pojok.
“Siapa yang duluan ngomong?bagaimana kalau aku?” Intan mengajukan kesepakatan. Raka mengangguk setuju.
“Aku mencintaimu, Rak. Sangat mencintaimu, mungkin sebesar Ratu mencintaimu. Tapi aku tak bisa menyakiti perasaan kita semua dengan keadaan ini. Karena aku memilih berpisah denganmu.” Jelas sekali Intan memberikan ungkapan hatinya. Berpisah dengan Raka memang menyakitkan. Intan sangat mencintai Raka. Namun haruskan Intan egois mempertahankan hubungan mereka sedangkan Ratu yang sudah lebih dulu memiliki Raka dikhianati dengan keegoisannya.
“Apa maksudmu?” Tanya Raka tak percaya.
“Aku putuskan untuk berpisah denganmu.” Sebenarnya airmata Intan ingin luruh, tapi takkan dibiarkan rasa sedih membuat keputusannya berubah. Raut wajah Raka berubah kecewa.
“Semudah itukah. Padahal aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan Ratu.” Ujar Raka. Kini giliran Intan yang kaget.
“Kamu memutuskan Ratu!” Intan berteriak.
“Ya, dan kemarin siang Ratu memilih pulang tanpa pamit padaku.”
“Kenapa?” suara Intan melemah.
“Aku memilihmu.”
“Tidak, aku takkan pernah menerimamu kembali. Kembalilah pada Ratu, Rak. Aku merelakanmu. Biarlah cerita cinta kita ini menjadi lebih indah dengan rasa tulus. Ratu terlalu baik untuk kamu sakiti. Kembalilah padanya. Apakah kamu mencintaiku?” Tanya Intan. Raka mengangguk.
“Dan kamu pun mencintai Ratu?” Raka memandang Intan. Lalu kepalanya menggangguk nyaris tak terlihat
“Kamu mencintai kami berdua. Tapi ini hukum alam, Rak. Kamu harus memilih diantara kami, kamu tidak boleh serakah. Kembalilah. Dan ingatlah aku merelakanmu karena aku pun mencintaimu.” Beringsut Intan mendekati Raka. Dibelainya rambut Raka. Titik airmata Raka menghujani pundak Intan. Raka menangis. Menangislah cintaku karena esok kau tak perlu menangisiku lagi, desah Intan lirih.

No comments: