30 August 2005

Cerpen : Kutunggu Cintamu

“Apakah kamu masih ingat kepada Via?” Tanyaku saat Daniel sedang memandangi foto Via.
“Ya, dan aku masih sangat mencintainya.” Jawab Daniel. Aku kian terluka dengan jawaban Daniel.
“Tapi aku disini, bersamamu. Biarkan Via bahagia di surga. Via sudah kembali ke alam sana. Dia mencintaimu, Niel. Tapi Via akan sedih jika melihat keadaanmu sekarang ini.” Ujarku berusaha menyadarkan Daniel.
“Kenapa aku tidak mati saja. Aku ingin mati bersamanya!” teriak Daniel.
“Daniel, sadarlah. Ada aku disini.” Aku merengkuh Daniel dalam pelukan. Perlahan aku berusaha meredakan sakit hatinya. Daniel kembali terisak.
“Ada aku disini, sayang. Ini aku, Siska bukan Via. Aku mencintaimu. Hiduplah untukku sekarang dan nanti. Jangan hidup untuk masa lalu dan kenangan.” Ujarku, Daniel menatapku. Aku tersenyum.
“Aku rela mendampingimu sampai kapanpun. Aku mencintaimu, sekali lagi sangat mencintaimu.”
“Kamu tidak sakit hati karena perlakuanku, Sis”Aku menggeleng
“Untuk apa? Kamu berhak memiliki cinta. Mungkin Via memang yang paling kamu sayangi, Niel. Tapi aku juga berhak mencintaimu apa adanya bukan? Aku janji, Niel. Suatu saat nanti kamu pun akan mencintaiku sebesar kamu mencintainya.” Lalu Daniel merebahkan tubuhnya ke pelukanku.
“Maafkan aku, Sis.”
“Aku mencintaimu, Niel. Jangan lupakan itu. Dan aku akan mendampingimu selamanya.”
***
Sebenarnya aku lebih dulu kenal dengan Daniel dibandingkan Via. Sejak kami kecil, kami sering main bersama. Hal ini dikarenakan hubungan bisnis papa dengan Om Broto, papa Daniel. Mungkin karena kedekatan merekalah Om Broto ingin menjodohkan kami.
“Sayang, menurutmu Daniel itu seperti apa orangnya?” Tanya papa suatu malam, saat kami sedang bercengkrama di teras depan.
“Cakep, baik, dan lucu.”jawabku jujur. Di mataku Daniel memang laki-laki yang sangat menarik.
“Apakah kamu menyukainya?”Aku langsung melotot ke arah papa
“Papa ngomong apa sih? Masa aku suka sama Daniel. “ aku berusaha menekan kagetku. Suka sama Daniel? Impossible, biar pun Daniel itu cakep, baik, dan lucu. Daniel tetaplah seorang Daniel, laki-laki paling playboy. Kalau kami bertemu, yang dia ceritakan selalu wanita, wanita, dan wanita. Mana mungkin aku suka dia?
“Om Broto mengusulkan Daniel untuk dinikahkan denganmu, itupun jika kamu setuju.” What! Menikah dengan Daniel. Enak aza, memangnya tidak ada laki-laki lain.
“Itu konyol sekali, Pa!”
“Itu tidak konyol, coba kamu pikirkan lagi.” Tawar papa sambil membelai rambutku.
Dan sejak percakapan itu aku malah jadi memikirkan Daniel.
***
Aku dan Daniel sepakat bertemu untuk membicarakan masalah perjodohan kami.
“Gila, papa dan Om Broto kok bisa-bisanya mengatur perjodohan kita. Emangnya ini jaman Siti Nurbaya.” Komentarku sambil mengacak mie ayam.
“Ya, ini ide gila. Aku tidak mungkin menikahimu. Aku telah memiliki seorang kekasih.” Aku memandang ke Daniel. Kekasih, apa iya laki-laki penggombal seperti Daniel punya seorang kekasih.
“Aku sih tidak punya kekasih, Niel. Tapi aku gak mau menikah denganmu, Mr. Gombal.” Ejekku. Kami memang terbiasa saling mengejek. Wajah Daniel berubah layu.
“Sori, Sis. Aku sebenarnya banyak berbohong kepadamu tentang wanita-wanita itu. Sebenernya aku hanya memiliki satu orang wanita saja, namanya Via. Dia kekasihku sejak 2 tahun lalu, namun kini dia sedang berjuang melawan kanker payudaranya. Aku hanya mengusir sedih dengan kebohongan-kebohongan itu.” Aku jadi kasihan melihat Daniel. Dia sepertinya sangat kecewa, atau malah nyaris putus asa.
“Aduh, aku minta maaf, Niel.” Aku jadi ikutan terhanyut dalam sedihnya.
“Lalu dimana Via sekarang?”tanyaku ingin tahu.
“Di rumah sakit, besok dia akan dioperasi.”
“Bolehkan aku menjenguknya?” tanyaku pelan. Daniel mengangguk.
***
Gadis manis itu berbaring tak berdaya. Via, akhirnya aku berjumpa dengan Via. Gadis yang sangat Daniel cintai.
“Sayang, kenalkan ini Siska.” Daniel menyentuh tangan Via perlahan, membangunkannya dari tidur. Mata Gadis itu terbuka perlahan.
“Si..siapa..?”tanyanya, nyata benar kalau dia sangat kesakitan. Wajahnya terlihat sangat tirus, tubuhnya begitu kurus. Ah, Aku tak tahan melihat penderitaannya. Dan kulihat Daniel begitu perhatian pada Via.
“Ini teman semasa kecilku, Vi. Siska, putrinya sahabat papa, Om Santo.” Via tersenyum kepadaku
“Mm, aku ingat sekarang. Siska yang kamu bilang sangat manja itu kan.” Aku mendelik ke arah Daniel. Daniel bilang aku manja. Sialan anak itu!
“Iya, dan sampe sekarang masih manja. Hobinya nangis.” Tambah Daniel. Kami tertawa berbarengan.
Dan aku kini menyadari bahwa Via adalah wanita yang sangat baik, pantas saja Daniel begitu mencintainya.
***
Via meninggal. Operasinya gagal total. Aku dan Daniel hadir di pemakaman. Sepanjang hari Daniel menangis, pundakku basah karena airmatanya.
“Sudahlah, Niel. Relakan Via pergi. Ini mungkin yang terbaik untuknya.” Aku berusaha menenangkan Daniel.
“Ini yang terburuk bagiku. Tuhan tidak adil.” Kutuk Daniel.
“Sst, jangan bilang begitu. Justru Tuhan menyanyangi Via, sehingga Tuhan putuskan mengambilnya lebih cepat. Tuhan tak mau Via terlalu lama tersiksa.” Sejenak kutatap bola mata Daniel yang redup.
“Benarkah?” tanyanya dalam isak.
“Ada aku disini, Niel. Aku akan menyanyangimu dan akan menjagamu.” Aku memeluk Daniel. Tak ada yang tahu mengenai kisah Daniel dan Via selain aku. Dan kami tak bisa menolak perjodohan ini tanpa sebab. Karena itulah aku berusaha untuk lebih sabar menghadapi ini. Pernikahan kami kian dekat, apa mungkin kami akan menghancurkan kebahagiaan kedua orang tua kami hanya karena aku tak mau mendampingi Daniel di saat putus asa. Saat ini Om Broto hanya tahu kalau Daniel sakit, bukan karena putus asa. Dan akulah yang selalu bersamanya.
“Sis, Bantu aku…”ratap Daniel. Aku mengangguk sambil terus menghapus airmatanya yang kian deras. Ya, Niel. Aku akan selalu bersamamu karena mencintaimu dan sampai kamu belajar untuk mencintaiku.
***
Kondisi Daniel kian memburuk, bayangan Via terus menghantuinya. Papa sempat khawatir akan kondisi ini.
“Sis, Papa jadi tidak tega menikahkan kamu dengan Daniel. Papa merasa Daniel kesehatannya buruk. Dan papa takut pernikahan ini justru membuat beban untukmu.” Papa seperti merasa bersalah karena menyetujui perjodohan ini. Aku tersenyum.
“Daniel akan sehat kembali, Pa. Jangan khawatir. Kami akan menikah dan akan hidup bahagia.”
“Tapi…”
“Tidak usah terlalu dipikirkan. Sebentar lagi Daniel sembuh kok.” Aku memang sangat optimis dengan kesehatan Daniel. Daniel bukan sakit secara fisik tapi dia sakit secara hati. Dan aku yakin aku akan menyembuhkan hatinya dari rasa kehilangan. Aku akan berjuang mendapatkan cintanya.

No comments: