03 November 2017

Doktor perempuan India Pertama itu bernama Asima Chatterjee

Doktor Perempuan India Pertama itu bernama Asima Chatterjee
-
-
Google Doodle tanggal 23 September menampilkan sosok Asima Chatterjee memperingati 100 tahun kelahirannya. Dan juga untuk mengingatkan dunia pada wanita India yang telah melahirkan pemikiran luar biasa terhadap sains. Dialah perempuan India yang pertamakali meraih gelar Doctorate of Science yang fokus mempelajari kimia organik dan tanaman obat-obatan asal negaranya, India.
Kesuksesan Asima sangat dipengaruhi oleh motivasi sang ayah. Ayahnya bernama Dr. Indra Narayan Mukherjee merupakan seorang ahli botani.
Kontribusinya yang paling terkenal ialah Vinca Alkaloid. Ini merupakan senyawa yang terbuat dari tanaman bunga Vinca. Dalam penelitiannya, Asima menggunakan tanaman tapak dara untuk mengekstraksi senyawa alkaloid tersebut. Senyawa ini terbukti sangat ampuh sebagai obat kemoterapi yang membantu memperlambat atau menghentikan sel kanker agar tidak bertambah banyak. Penelitian yang dilakukannya menjadi pedoman penting bagi perkembangan obat-obatan di India, terutama mengobati penyakit epilepsi dan malaria.
Karena pengabdiannya yang sangat besar terhadap kimia organik, maka pada tanggal 19 September Google Doodle menggambarkan sosok Asima Chatterjee melalui karikatur lengkap dengan kacamata berbingkai besar yang menjadi ciri khasnya. Disertai dengan senyawa kimia bernuansa hijau yang merepresentasikan kimia organik yang ditekuni oleh Asima Chatterjee sepanjang hidupnya.
Semoga semakin banyak perempuan yang mampu berkiprah seperti Asima Chatterjee di Indonesia hendaknya. Karena memuntut ilmu adalah kewajiban semua umat manusia tanpa memandang gender.

Angkie Yudistia Si Gadis Tunarungu yang Sukses Menembus Dunia Internasional
-
-
Awalnya Angkie bukanlah anak yang menyandang keterbatasan pendeng aran atau tunarungu. Ia mengidap tunarungu sejak usia 10 tahun. Menurut diagnosa dokter, karena sejak bayi ia sering sakit-sakitan dan mengonsumsi obat antibiotik. Diduga keras antibiotik yang sering dikonsumsi itulah yang lama kelamaan membuat pendengaran gadis yang kini telah tumbuh dewasa ini menjadi menurun. Dan pada usia 10 tahun ia kehilangan pendengarannya sama sekali.
Pada masa itu, menurut cerita Angkie ia kerap menjadi korban bullying disekolahnya karena ia berbeda dari teman-temannya. Tidak hanya itu, Angkie nyaris tidak mempunyai teman bermain di sekolah.
Hal ini sering membuat Angkie menangis pulang kerumah setiap pulang sekolah. Namun apa yang dilakukan sang ibu terhadap Angkie?
Ibunyalah yang selalu menguatkan semangat gadis kecil itu, bahwa sebagai korban bullying Angkie dinasehati ibunya untuk selalu mengembangkan potensi positif dari dirinya. Sang ibu tidak putus-putusnya menyemangati sang anak untuk terus membuktikan kepada pelaku bullying, bahwa tidak selamanya orang yang memiliki  keterbatasn fisik lantas akan jatuh dan terpuruk. Justru itulah cambuk bagi Angkie untuk terus bersemangat menjalani kehidupan masa depannya.  
Disamping itu, ayahnya terus berusaha mencari metode pengobatan yang bisa mengembalikan pendengaran Ankie seperti sediakala. Namun hasilnya nihil. Akhirnya pada usia 16 tahun, ayahnya mendapatkan alat alat bantu pendengaran untuk Angkie, walaupun bagi Angkie hanya terdengar samar.
Singkat cerita, perjuangan Angkie menembus dunia Internasional dengan mengikuti berbagai even-even yang berskala Internasional yang berkaitan dengan kaum difable. Kini ia sudah mampu menikmati hasil perjuangannya sebagai korban bullying yang tumbuh sebagai sosok motivator yang sering diundang ke  berbagai instansi dan perguruan tinggi manca negara, misalnya ke Perancis, Bangkok dan negara lainnya.
Terakhir, Angkie menyatakan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling baik. Hanya saja kadang manusia seperti dirinya memiliki sedikit keterbatasan. Namun itulah motivasinya supaya mampu sejajar dengan manusia yang normal.


No comments: