19 June 2016

Lebaran, Benarkah Artinya Kita Kembali Dilahirkan?



Bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, Idul Fitri dapat diartikan sebagai hari kemenangan.  Idulfitri adalah manifestasi kebahagiaan setelah memenangi ibadah puasa yang telah dijalankan sebulan penuh.  Lebaran, benarkah artinya kita kembali dilahirkan?
Berpuasa memberi pelajaran untuk menahan prasangka dan merefleksikannya kembali.  Puncaknya adalah transformasi pada saat lebaran nanti, kita menjadi fitrah kembali, menjadi putih, seolah-olah terlahir kembali. Hanya saja terkadang puncak transformasi saat lebaran tidak terus membawa perubahan positif dalam kehidupan kita sampai setahun ke depan.  Selesai lebaran ada banyak godaan yang membuat langkah kita menjadi kembali mundur.
Bagaimana agar puncak transformasi pada saat lebaran nanti bisa menciptakan perubahan positif pada diri kita untuk seterusnya?
Kuncinya adalah selalu bersyukur.
Jika kita lebih memberi perhatian pada kegagalan dan kekurangan kita, tak akan ada cukup energi positif untuk mengarahkan kita pada perubahan positif.
Ya, perubahan positif itu butuh energi positif.  Energi positif ini berasal dari emosi positif kita.  Bukan sembarang emosi, melainkan emosi yang pernah kita rasakan dan membekas.
Semakin banyak kita menemukan emosi positif, maka semakin besar energi untuk melakukan perubahan positif.
Tanyakan pada diri Anda sendiri, apa kejadian yang Anda syukuri dalam setahun ini?
Jika Anda tidak hidup pada kenyataan yang Anda inginkan, maka, mulailah menata pikiran Anda untuk menikmati hidup seburuk apapun yang Anda miliki sambil terus bermimpi tentang masa depan Anda.  Maka kenyataan Anda selanjutnya pasti akan luar biasa.
Salah satu hal yang membuat saya bangkit dari keterpurukan adalah rasa syukur.  Saya pahami, siapapun orangnya, darimanapun asalnya,sekaya apapun dia, seberuntung apapun orang itu tetap akan merasa menjadi orang ‘terpuruk’ jika dihatinya tidak ada rasa syukur. 
Setelah memenuhi diri dengan rasa syukur saya mulai menata mimpi masa depan saya.  Ada 101 keinginan dalam hidup yang saya tulis dalam buku harian, yang pada saat menulisnya saya sempat berpikir, memang saya bisa meraihnya?  Tapi pertanyaan itu saya  tendang dengan kata-kata ajaib, “YA SAYA PASTI BISA!”  Masa depan saya berawal dari sana! 101 keinginan itu memandu saya melangkah dengan pasti dari satu langkah ke langkah lainnya.  Tahun demi tahun saya lalui dengan menata mimpi, menata langkah dan menata masa depan.  Tanpa saya sadari ketika saya membuka kembali catatan itu, saya mulai mencapainya.
Saya selalu punya keyakinan, dengan limpahan rasa syukur yang dimiliki dalam hidup akan membuka peluang baik pada masa depan.
Rasa syukur membuat mental kita bergerak ke arah yang positif.  Jika secara materi Anda tidak kaya, tapi kekayaan hati Anda membuat Anda merasa lebih nyaman, jika secara IQ Anda bukanlah orang yang pintar tapi kestabilan syukur membuat EQ Anda memenuhi seluruh jiwa.  Dengan kata lain rasa syukur mampu memancarkan energi-energi positif dalam pikiran sehingga dapat menarik kelebihan-kelebihan dalam diri dan mengabaikan kekurangan-kekurangan dalam hidup Anda.
Rasa syukur menjadi salah satu bukti dan bentuk terima kasih kepada Allah SWT karena sudah memberikan keluarga, keadaan, nafas, fisik, pikiran dan segala sesuatu yang ada dalam hidup Anda tanpa keluh kesah.  Dan inilah umat yang Allah cintai.  Hidup tanpa keluh kesah namun dengan reaksi positif menanggapi segala persoalan dalan hidupnya.
Hiduplah dengan berlimpah syukur.  Sesungguhnya, lebaran itu sendiri merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.  Mari kita jadikan transformasi pada saat lebaran nanti untuk menciptakan perubahan positif pada diri kita masing-masing.

No comments: