19 February 2014

Dibully Nggak Selalu Berakhir TRAGIS!


 “Karena marah aku membuat diriku terus melesat menjadi yang terhebat” (Tantia Dian)

Bertemu dengan Tantia bagi saya amat berharga. Saya bisa mendengarkan secara langsung bagaimana seorang anak yang selama di sekolahnya dibully bisa menjadi sangat hebat kini.
Menurutnya, peristiwa dibully bukan hanya didapatkan saat kecil, tapi di semua tingkatan pendidikan mulai SD hingga kuliah, Tantia mendapatkan perlakuan tidak adil.
Alasan bullynya macam-macam, tapi yang jelas Tantia merasa karena dia memang berbeda, “bahkan dalam kemenangan kompetisi yang aku lakukanpun menjadi celah untuk dibully. Aku dianggap perempuan yang untuk menang kompetisi akan melakukan banyak cara. Padahal tentu saja tidak! Dalam banyak hal aku menang karena aku melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.” Ujarnya.
Ada banyak cara orang membully orang lain dan ada jutaan alasan melakukannya. Pembahasan tentang bully tidak ada habis-habisnya terutama di dunia maya, dimana semua orang bebas untuk berkata lisan melalui tulisan pada orang lain yang bahkan bertemu dengannya pun belum pernah.
Satu hal yang menarik ketika saya bertanya pada Tantia, “laki-laki atau perempuan yang lebih banyak membullymu?” Dan dia menjawab dengan tegas, “perempuan!”. Hati saya tiba-tiba merasa teriris mendengarnya. Kenapa harus perempuan? Kenapa perempuan harus menyakiti perempuan lainnya? Kenapa perempuan tidak saling melindungi, saling berbangga hati, dan saling mendukung satu sama lain?
“Menurutku perempuan memang rentan dalam kaitan persaingan. Aku menganggap itu hanyalah wajah dari sebuah ketidakmampuan untuk bersaing dengan sehat.” Ujar Tantia.
Tantia merupakan perempuan muda yang sangat berprestasi. Sejak kecil sudah memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Semasa sekolah selalu menjadi juara dan menjadi mahasiswi teladan tingkat nasional. Tantia memenangkan begitu banyak kompetisi bergengsi dan mendapatkan beasiswa dari 5 negara. Kini, dia mengemban tugas sebagai Vice President Business Development TouchPoint sebuah perusahaan yang mengembangkan teknologi yang akan digunakan di mall sebagai mesin pencari lokasi berbentuk iphone raksasa.
Tidak main-main dengan mimpi yang akan dibangunnya bersama Touchpoint, “kelak semua mall di Indonesia akan menggunakan produk kami. Fasilitas yang diberikan bukan hanya memudahkan pengunjung tapi juga memberikan benefit lebih pada tenan di mall karena produknya semakin dikenaliy yang pengunjung dan bagi mall menjadi tambahan penghasilan yang produktif dengan sistem advertising yang kami terapkan dalam touchpoint” gadis berusia 23 tahun ini selalu berbinar jika berbicara tentang masa depan bisnis yang dijalankannya kini.
“Lalu, apa mimpimu selanjutnya?” Tanya saya. Dengan penuh semangat gadis berambut pendek itu berkata, “saya akan segera jadi profesor.”
Dan saya mengguman dalam hati bahwa masa lalu yang buruk tidak menjamin masa depan sama buruknya, sebab keputusan mengubah masa depan ada di tangan kita. Ya, dibully ternyata tidak selalu berakhir tragis, justru karena bully yang diterimanya Tantia menjadi perempuan muda perkasa dan luar biasa!

No comments: