17 February 2014

BELAJAR ALA PEREMPUAN

 
Selalu menarik kalau berbicara masalah perempuan. Itu sebabnya saya yang perempuan sangat tertarik mengulas tentang perempuan karena sayapun bisa belajar dari perempuan lainnya.
Saya belajar tentang banyak hal kaitannya dengan interaksi dengan para perempuan. Tidak melulu tentang bisnis tapi juga mengenai keikhlasan dan etika pergaulan. Saya mengenal banyak perempuan hebat dalam banyak hal dan saya belajar darisana.
 
Saya mengenal keihklasan uni Rachmi seorang perempuan penderita lupus yang terus berjuang atas hidupnya dengan ikhlas, “saya ikhlas menerima semua teh, kalau tidak ikhlas sekarang kapan lagi?” Dan setiap bertemu dengannya hati saya selalu bergetar, “belum tentu saya bisa seikhlas dan setegar uni jika menerima cobaan seberat uni.” 
 
Perjuangan perempuan tangguh saya pelajari dari mertua saya, bagaimana mendidik ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang, “alasan mama tidak menikah lagi meski ditinggalkan suami pada usia yang masih muda karena anak. Anak jauh lebuh berharga. Mama membesarkan ketiga anak mama dengan keringat yang hampir habis, dengan darah yang stoknya hampir menipis. Mama ikhlas untuk anak dan kini anak-anaklah yang menjadi tempat mama di masa tua.”
 
Keikhlasan dua perempuan itu membuat saya bekajar untuk ikhlas dan terus ikhlas. Keihklasan yang berbuah sukses pun terjadi pada Fifie Rahardja. Pengusaha perhiasan ini tidak dilahirkan dalam keluarga sukses, hanya dari keluarga petani tetapi, “saya tidak menghujat kemiskinan, justru kemiskinan membuat saya berpikir untuk naik tangga selanjutnya. Saya berpikir untuk terus menggali potensi diri untuk masa depan lebih baik. Ketika saya menikah, saya menyakinkan diri saya agar saya menjadi istri yang memberikan berkat bagi keluarga saya dan keluarga suami, bukan membuat susah.” Akhirnya, Fifie memang menjadi seseorang yang patut dibanggakan.
Selain ketiga perempuan itu saya lambat laun belajar tentang politik pada Rita Sukendar salah satu perempuan lembut yang amat kuat menghadapi gejolak di dunia politik. Menurutnya perempuan harus melek politik dan jangan takut untuk terjun ke dunia politik. 
 
Belajar di dunia organisasi saya dapatkan dari Dina Sudjana. Perempuan yang saya kagumi ini merupakan aktivis perempuan dalam hal makanan halal. 5 tahun tinggal Jepang membuat beliau semakin kuat menyakini peran perempuan dalam berbagai sisi tanpa menghilangkan tugasnya sebagai ibu. Keinginan terbesarnya adalah membangun universitas perempuan di Indonesia, “perempuan haru berkembang dengan kekuatan akarnya dari rumah.”
 
Dua perempuan yang saya bekajar banyak tentang membangun keluarga yang luar biasa saya dapatkan dari Candra Nila dan Abyz Wigati. Saya beberapa kali mengamati bagaimana tutur, sikap, dan cerita baik secara lisan, tulisan, serta tertangkap mata saya bahwa mereka adalah sosok perempuan, ibu, dan istri yang seharusnya kita belajar bagaimana menempatkan suami dan anak-anak dengan sebaik-baiknya.
 
Presda sari menarik bagi saya. Ibu dua anak ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan memiliki mimpi besar untuk mewujudkan bisnisnya lebih baik. Saya belajar darinya tentang kegigihannya belajar tentang apa saja termasuk bagaimana memelajari sosial media padahal sebelumnya menjadi perempuan yang sama sekali tidak tahu akan hal ini, “saya belajar dari google.” Luar biasa!
 
Ada banyak perempuan yang membuat saya kagum. Kekaguman yang tidak pernah habis-habisnya. Pergaulan dengan perempuan membuat saya bangga menjadi perempuan. Terlepas dari kebanggaan saya pada perempuan, ada satu sisi yang juga saya mencoba mematahkannya  di kalangan para perempuan yaitu sisi sensitif perempuan yang kerapkali merasa harus bersaing dengan perempuan lainnya. Persaingan yang kerapkali berujung pada permusuhan, antipati, dan iri hati. Jika tiga hal ini sudah menguasai perempuan maka menurut saya mereka akan berhenti belajar dari kehebatan perempuan lainnya.

#perempuan hebat yang saya kenal
#Abyz Wigati

No comments: