17 February 2014

PEREMPUAN, JANGAN MENUNDA MEMBERSIHKAN RUMAH

 
Saya masih tergelitik dengan ucapan salah satu alumni Sekolah Perempuan, Ida Susanti, “suami memuji saya. Belajar di Sekolah Perempuan bukan hanya jadi pandai menulis tapi juga jadi pandai membersihkan rumah.” Ujarnya dan kata-kata itu langsung membuat kami yang yang sedang berkumpul tertawa terbahak-bahak.
 
Menurut Ida yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan di bidang pendidikan dan sosial ini, aktivitas membersihkan rumah sering jadi urutan terakhir dalam kegiatan hariannya. Ida yang juga pendongeng, pengelola rumah singgah, dan trainer di bidang dongeng merasa bahwa waktunya habis di luar rumah, “sampai rumah capek banget….” Lanjutnya
 
Lantas kemudian beliau mulai berpikir saat mulai serius menulis buku, “awalnya saya hanya kaget aja, teh indari kok bisa punya rumah rapih padahal nggak ada asisten rumah tangga dan kegiatan teteh pasti jauh lebih banyak dari saya. Saya enjoy kalau masuk kelas Sekolah Perempuan, ide jadi buanyak. Nah, pas nyampe rumah, saya jadi penat mau nulis karena mungkin rumah berantakan. Dari situlah saya mulai membersihkan rumah. Habis bersih-bersih, ide langsung berloncatan keluar dan akhirnya lancaaaar nulis.”ujarnya lagi.
 
Hal inilah yang kemudian memancing sang suami untuk memuji. Siapa yang tidak bangga pada Ida Susanti, sosok ibu serba bisa ini bukan hanya aktivis sosial yang lembut tapi juga tidak pernah lelah berbagi hal baik pada sekelilingnya.
Keinginannya untuk belajarpun sangat tinggi. Di usianya yang tidak muda, Beliau tercatat sebagai salah satu mahasiswi Univesitas di Bandung, menjadi host untuk kegiatan mendongeng di televisi, serta memulai karirnya sebagai penulis buku.
Saya melihat aktivitas domestik perempuan memang tidak ada habis-habisnya, sehingga pilihan untuk kemudian beraktivitas di dunia luar rumah, misalnya bekerja atau bersosialisasi kerapkali membuat perannya bertambah berat, “pasti akan ada yang dikorbankan karena satu waktu mengerjakan banyak hal.” Ujar salah satu sahabat saya ketika kami berdiskusi tentang multiperan perempuan.
 
Bukan hanya Ida Susanti, mungkin banyak perempuan lain yang akan ngos-ngosan mengejar aktivitas satu ke aktivitas lainnya, termasuk saya. Maka, dengan multiperan inilah lagi-lagi saya menggunakan manajemen waktu. Pagi saya akan mengerjakan apa, siang apa, sore apa, dan malam apa. Ada 183 to do list yang kini harus saya kerjakan setiap hari, mulai dari mengirimkan email untuk klien, menyapa grup, menulis, membalas email, mengecek produksi naskah, hingga aktivitas menyapu, menyiram tanaman, memandikan anak, mencuci piring, menyiapkan sarapan, dan aktivitas lainnya.
 
Bersyukur menjadi perempuan, kita semua bisa menjalankan multiperan dengan baik. Kita bisa menelpon sambil memasak, menulis sambil gendong anak, membaca sambil menemani bermain, menyiram bunga sambil memandikan anak (saya kadang mandiin anak di luar rumah sambil nyiram bunga untuk seru-seruan), dan aktivitas lain yang mungkin tidak akan mampu dikerjakan laki-laki.
Selain manajemen waktu, salah satu hal yang harus dikerjakan perempuan adalah tidak menunda-nunda. Tidak menunda setrikaan menggunung, tidak menunda rumah berdebu, tidak menunda aktivitas yang akan membuat rumah menjadi terlihat tidak nyaman.
Jadi, selamat menjalankan multiperan Anda dan mari berbagi inspirasi.
 
#Siswi Sekolah Perempuan
#www.sekolahperempuan.com

No comments: