07 December 2007

BEING BOOKTREPRENEUR!

Tentu telinga Anda tidak asing lagi dengan istilah ENTREPRENEUR yang saat ini sedang banyak dibahas dan jadi topik di mana-mana. Kata “Entrepreneur” sebenarnya berasal dari bahasa perancis yang diambil sebagai kata serapan kedalam bahasa Inggris. Kata ini pada bahasa Indonesia adalah wirausaha. Wirausaha sendiri menurut kamus bahasa Indonesia merupakan wiraswasta yang artinya adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. Dalam arti lain menurut hemat saya wiraswasta atau wirausaha adalah seseorang yang mengatur dan mengendalikan sebuah bisnis yang dibangun dirinya sendiri. Lantas, menurut Anda apa arti dari Booktrepreneur? Well, kata itu baru saja saya dapatkan dari email sahabat dua hari yang lalu, Jujur saja, saya baru tahu kata unik itu, entah saya kurang bergaul atau istilah itu sengaja dibuat untuk menggabungkan antara sense of writing dan sense of business. Saya sendiri mengira-ngira arti sebenarnya dari Booktrepreneur ini, barangkali jika tidak keberatan saya mengartikannya sebagai berikut Booktrepreneur merupakan orang yang secara mandiri membuat bisnis yang produknya adalah buku karyanya sendiri, dalam arti lain seorang penulis buku yang sekaligus mempromosikan dan memasarkan karyanya.
Kenyataannya sekarang adalah tidak banyak penulis yang mampu menangkap peluang-peluang emas di sekitarnya, tentu modal menjadi Booktrepreneur sangat berpengaruh, jika penulis hanya memiliki sense of writing tapi tidak memiliki sense of business maka yang terjadi adalah penulis akan tertinggal dan tergilas oleh hiruk pikuk di dunia perbukuan yang semakin menggeliat hebat. Pertumbuhan penerbitan bahkan tidak ditunjang oleh pertumbuhan penulis yang ‘qualified’ padahal pertumbuhan penulis pun sesungguhnya cukup menggembirakan pada saat ini, terbukti dengan semakin menjamurnya komunitas baca tulis, ramainya milis penulisan, serta semakin banyaknya produk buku dengan beragam style penulis. Hanya saja, kerapkali ketika penulis sudah menelurkan satu buku, kebanggaan itu tidak ditopang dengan kemampuan untuk mengikuti pergerakan pasar buku, akhirnya mereka hanya menulis satu buku dan hilang tanpa nama.
Hingga saat ini bagi saya, menulis adalah satu kegiatan dari keseharian saya, menulis menjadi denyut nadi saya.walaupun dari sejumlah karya saya belum ada yang bombastis dan best seller tapi saya cukup terpuaskan dengan beragam ilmu yang saya dapatkan sepanjang kegiatan menulis yang dilakukan.
Ya, menjadi penulis yang baik tidak dapat terjadi dengan instant, kita butuh proses yang cukup panjang dan berliku. Keluar masuk penerbitan karena naskah ditolak, mengejar penulis yang diidolakan demi menimba ilmu, mengikuti beragam kegiatan penulisan yang kadang cukup melelahkan, belum lagi kalau karya kita dilecehkan karena dianggap kurang bagus. Jika penulis tidak memiliki jiwa ‘entrepreneur’ dapat dipastikan akan membuat down dan berhenti berkarya.
Jujur, saya mendukung sekali dengan adanya bahasa Booktrepreneur sebab memang menulis bukan hanya melahirkan kepuasan psikologis namun sudah tak perlu ditanyakan lagi kalau menulis sesungguhnya bisa dijadikan profesi masa depan. Ribuan kesempatan menjanjikan bagi para penulis yang mampu memadukan antara hobi menulis dan bisnis. Being Booktrepreneur!
Booktrepreneur akhirnya bukan hanya mengandalkan keahliannya dalam menulis, menurut saya, Booktrepreneur harus memadukannya dengan beberapa prinsip marketing dan promosi. Saya hanya sekedar menyumbang sedikit saran bagi mereka yang ingin menjadikan bakat menulisnya menjadi sebuah usaha yang menjanjikan

Membangun Networking
Kita banyak mendengar kisah sukses para pengusaha bukan dengan modal financial yang melimpah, banyak diantaranya justru memulai usaha dengan modal yang minim atau pas‑pasan bahkan tanpa modal sekalipun, istilah kerennya modal dengkul, tetapi semangat mereka untuk membangun bisnis dilakukan dengan ulet, kreatif, tekun, dan berupaya untuk terus meningkatkan Networking secara luas sehingga akhirnya mereka berhasil membangun usaha dengan sukses dan sangat menggembirakan.

Miliki Multitasking Skill
Dunia perbukuan begitu kompleks dan dinamis, trend buku terus berubah. Seorang Booktrepreneur harus memiliki kemampuan yang Multitasking artinya penulis yang bisa melakukan semuanya, tidak sekedar meng-konsep ide menjadi tulisan namun juga mengedit, mempromosikan dan memasarkan tulisannya.
Ada istilah yang bagus dalam hal ini “You cannot buy the skill to be great”. Anda mungkin bisa meminjam uang, mengkredit perlengkapan kantor, membangun kantor, namun keahlian Anda dalam menjalankan bisnis ini tidak bisa meminjam atau membeli dari orang lain. Itu sebabnya seorang wirausaha produk apapun, dan seorang Booktrepreneur harus memiliki keahlian dalam bidang ini. Barangkali Anda tidak perlu menjadi benar-benar ahli untuk memulai menjadi Booktrepreneur tapi Anda terus meng up grade skill Anda untuk lebih baik dan terus lebih baik

Lakukan Continues learning
Di era kebangkitan perbukuan seperti sekarang ini. Benchmark lapangan yang berkaitan dengan perkembangan jenis atau tema buku adalah hal yang mutlak selain daripada itu penulis selayaknya mengikuti aktifitas/kegiatan yang dapat terus mengembangkan keahlian dan wawasan menulisnya. Ya, Pembelajaran penulis tidak boleh berakhir. Hal ini agar seorang Booktrepreneur dapat melahirkan produk yang inovatif dan kaya akan ide segar. Bukan sekedar menulis tapi memberikan sesuatu yang berbeda pada setiap karya yang ditelurkan.

Melakukan Public Relation
Penulis selayaknya aktif mempromosikan dirinya, keseluruhan potensi yang dimiliki. Kenapa? Sebab semakin aktif promosi dilakukan akan semakin besar peluang yang akan didapatkan. Penulis yang melakukan PR atas karya yang dihasilkannya akan membantu bahkan disukai penerbit sebab dalam hal ini penerbit pun membutuhkan pola promosi yang sinergis dengan penulis untuk memasarkan buku yang diterbitkan dan sudah barang tentu penerbit akan memberikan ‘order’ penulisan yang menggembirakan bagi penulis. Melakukan PR bagi penulis sesungguhnya bukan perkara sulit banyak media yang kini dapat mendukung kegiatan tersebut misalnya dengan aktif berpromosi di milis perbukuan, membuat situs pribadi yang bisa diakses banyak pihak, serta secara aktif berkomunikasi dengan para pelaksana industri perbukuan untuk mempromosikan ide segar Anda yang Anda yakini layak untuk diterbitkan.

Riset pada dunia perbukuan
Apapun bentuk bisnis yang dilakukan, riset adalah sesuatu yang penting untuk bisa mengintip berbagai peluang dan potensi bisnis yang dilakukan. Booktrepreneur adalah bagian dari industri perbukuan. Itulah sebabnya harus pula setali tiga uang dengan penerbitan, untuk bisa melihat indikasi ke depan mengenai trend yang akan berkembang. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui seluk beluk industri perbukuan adalah adanya Perkawinan antara Editor dan Penulis. Sinergi antara Editor dan Penulis bisa melahirkan buku-buku yang menarik. Keduanya saling terkait satu sama lain, jika tak ingin disebut ‘perkawinan’ maka hubungan yang harus dikembangkan antara penulis dan editor adalah hubungan “semi pribadi”.

Mempertahankan hubungan baik
Setelah Anda mampu melakukan secara keseluruhan poin di atas maka hal terakhir yang harus dilakukan adalah mempertahankan hubungan baik. Jika Anda memliki kemampuan berbisnis yang handal, punya kemampuan membuat karya yang sempurna, punya kemampuan memasarkan produk yang jitu namun Anda tidak memiliki kemampuan membina jaringan yang kokoh maka Anda akan sulit untuk mengembangkan diri Anda.

Akhir kata bahwa menjadi menjadi seorang Booktrepreneur ternyata tak bisa dilepaskan begitu saja dari sense marketing J. Selamat mendalami kegiatan menulis dan memasarkannya.

No comments: