21 December 2005

Berbahagialah dengan orang yang MEMUSUHImu

Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian yang begitu antusias dan tahu bagaimana membuat orang lain bersemangat. Tapi kadang mereka kewalahan ketika menemukan ada orang yang memusuhi dan ingin membuatnya jatuh. Berbagai upaya dilancarkan oleh orang untuk melindungi diri dan membuat musuh gentar. Namun ternyata, strategi yang dilancarkan si musuh ternyata dapat mengendurkan semangat dan memudarkan antusiasme.
Sebaiknya yang kita lakukan untuk tidak menghasilkan dampak negative ketika ada yang memusuhi kita adalah dengan menganggap bahwa mereka memang bukanlah MUSUH kita. Kita tidak akan lepas dari bayangan kelam mereka ketika kita terlalu terfokus memikirkan tindakan-tindakan tidak baik yang dilakukan mereka. Kita harus mempelajari untuk menghadapinya tanpa mengenal mereka dengan lebih baik.
Kita akan menemukan orang yang memusuhi kita di mana-mana karena inilah bentuk dunia yang sesungguhnya. Ada yang suka atau tidak, ada yang sayang ada yang benci, ada yang simpati ada yang empati. Kemanapun kita pergi ada dua sisi itu yang akan kita dapatkan dan kita tidak bisa hanya berteman baik dengan orang-orang yang baik di mata kita, tapi kita juga harus berteman baik dengan orang-orang yang memusuhi kita.
Kisah Ina :
Ketika Ina baru memasuki sekolah barunya, sebagai gadis yang aktif pada saat pemilihan ketua OSIS dia terpilih menjadi kandidatnya dan berhasil. Akhirnya Ina pun menjadi ketua OSIS dengan berbagai rencana di kepalanya. Ia memang mendapat tugas untuk memimpin dan mengembangkan OSIS yang dinilai banyak orang kurang nyali. Tapi dalam prosesnya Ina menemukan sebagian orang tidak berempati padanya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya berusaha dikacaukan oleh mereka, dan ina mendapatkan perlakuan sinis dari mereka bahkan banyak ungkapan-ungkapan buruk yang beredar tentangnya. Akhirnya situasi semakin memburuk ketika dia difitnah dengan sadis. Ina tidak tahan dengan situasi ini. ia pun memutuskan untuk pindah sekolah. "Tapi" katanya mengeluh, "Aku kembali menemukan orang-orang yang memusuhiku!"
Ina benar. Wajah dan nama memang berbeda tapi kemanapun kita pergi kita akan menemukannya. Karena itu tak ada gunanya kita menghabiskan energi untuk memikirkan mereka. Pikirkanlah hal-hal yang baik. Berbahagialah!
Keseimbangan antara koperasi dan kompetisi bisa kita lihat dalam karya Arno A. penzias, yang ada pada tahun 1970, dengan seorang lainnya mendapat hadiah nobel untuk fisika atas penemuannya akan apa yang kini dikenal sebagai radiasi radar hitam. Saat itu dia merupakan wakil presiden direktur yang bertanggungjawab atas penelitian di bell Labolatories. Keluarga Penzies nyaris terbunuh ketika kaum nazi mengejar orang-orang yahudi. Ketika mereka mendarat di di New York pada minggu pertama bulan januari 1940, maka bagi mereka Amerika merupakan suatu negeri yang sangat agung. Kemudian ayahnya menjadi pengurus berbagai bangunan apartemen di Bronx; memungut sampah dari saluran-saluran pembuangan dan menjaga tungku pemanas sentral dari bangunan itu.
"Saya rasa temen-teman maupun guru tak ada yang senang melihat saya semasih SMP" kata Penzias. "Saya mempunyai aksen asing. Saya tak pernah bisa menguasai hal-hal yang biasanya dikuasai anak-anak. Ketika tibanya saya berbicara bahasa Inggris yang baik, maka tak ada satupun permainan yang saya kuasai dengan baik." Semasa di bangku SMA, ia setengah mati harusmempelajari fisika. Namun demikian, ia mampu melanjtkan kuliahnya di City Collage of New York. Hal ini disebabkan karena sekolah itu bebas dari pembayaran uang sekolah. Ketika ia tamat dari sana dan hendak melanjutkan meraih sarjana, ia melamar ke MIT. Tapi MIT menolak menerimanya. Kemudian ia masuk ke Columbia University, dimana ia bisa selamat karena perjuangan yang keras. Penzias mengaku ia tamat dengan angka yang sangat pas-pasan. Ada dua hal yang saya kuasai dengan baik. Yang pertama ialah bahwa saya mengorganisasikan berbagai hal dalam terminology mekanik. Yang kedua ialah bahwa saya memiliki kemampuan untuk menahan rasa sakit. Dua hal ini inilah yang membuat saya selamat di Columbia.
Apakah Penzias bisa memenangkan hadiah Nobel kalau dahulu ia tidak belajar menahan nrasa sakit dalam lingkungan yang begitu kompetitif seperti di Columbia itu. Menurut penzias, kompetisi selalu merupakan faktor bagi orang-orang yang bermotivasi tinggi. Masalahnya hanya bagaimana menggunakannya secara seimbang. So, jadikan musuhmu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik. Berbahagialah!

No comments: