23 October 2005

Ketenangan

Sahabat saya, setelah menyelesaikan pendidikan di universitas bergengsi di luar negeri, punya pengalaman luar biasa di perusahaan-perusahaan asing, dan kini duduk pada jabatan tinggi di sebuah perusahaan besar, bergaji luar biasa, bahkan sudah ditawari menduduki jabatan puncak di perusahaan hebat, siang kemarin menelpon saya.
Apa yang beliau tuturkan cukup mengejutkan bahwa dalam waktu singkat dia akan segera keluar dari pekerjaan, kembali ke kampung halaman, menjadi petani dan penulis (saat ini dia menulis buku).
Tentu saja saya kaget bukan main dengan keinginannya itu. Bagaimana mungkin seorang 'dia' memiliki keinginan yang begitu sederhana. Saya sempat mempertanyakan keinginannya itu.
Alasan yang dikemukakan cukup membuat saya terhenyak, "Saya jenuh dengan situasi keduniaan, saya membutuhkan ketenangan hati selain mengejar materi. Dunia ini adalah proses yang takkan pernah berakhir. Ambisi bercampur dengan persaingan tak sehat terjadi di mana-mana. Petani dan penulis merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Dengan profesi itu saya akan lebih banyak memaknai hidup dengan ibadah."
Kembali ke alam! Barangkali itu yang bisa saya tarik dalam ucapannya. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk belajar mengenai apa saja termasuk pola hidup yang pernah dia jalankan akhirnya dia menemukan apa yang selama ini dicari
–ketenangan-
Apakah ketenangan hati dapat kita dapatkan ketika kita sudah menjadi orang kaya, serba kaya? Kaya pendidikan, kaya jabatan, kaya kekuasaan atau kaya materi? Ternyata jawabannya belum tentu! Tidaklah munafik saya sendiri memiliki keinginan secara duniawi yang ideal. Menjadi orang serba kaya! Tapi belajar dari banyak hal, termasuk pada sahabat ini saya mulai berpikir lagi, setelah saya menjadi orang serba kaya, saya mau apa?tidak ada lagi hal yang perlu dikejar, yang ada hanya keinginan untuk menjaga kekayaan supaya tidak jatuh ke tangan orang lain. Maka terjadilah persaingan baru yang lebih berat! Puiiih, jelas hidup akan sangat melelahkan karena setiap waktu kita berpikir dan terus berpikir bahkan lupa kalau Tuhan membutuhkan perhatian kita!
Hebat! Hebat sekali sahabat saya karena bisa memutuskan lingkaran serba kaya yang mengurungnya. Melepaskan ambisi duniawi untuk niat baru yang lebih mulia –ibadah-. Saya pernah baca tulisan Gede Prama mengenai dirinya yang melepaskan posisi puncak di sebuah perusahaan untuk meresapi apa yang sebenarnya dia harus kerjakan di dunia ini dan luar biasa, sekarang dia jauh lebih terkenal sebagai orang pemberi motivasi dan ketenangan.
Saya berterima kasih pada kedua orang hebat tersebut sebab saya mulai menyadari bahwa saya tak harus selalu berdebat dengan orang-orang pintar bagaimana untuk meraih kesuksesan di laboratorium super besar ini (dunia-red), tapi saya juga harus berdebat dengan orang-orang yang 'kaya batin' untuk mencapai ketenangan di dunia dan akherat.
Bekerja bukan untuk mendapatkan ketidaktenangan sebab bekerja adalah ibadah. Satu saat, ya satu saat nanti, saya akan menjadi pengikut dua orang hebat itu. Mengesampingkan ambisi demi sesuatu yang lebih berarti. Menjadi penulis memang pilihan yang menarik untuk ditekuni. Ya..ya..ya…satu saat ketika saya sudah menyadari bahwa hidup bukan hanya sekedar ITU! Hidup adalah kebebasan untuk mencari ketenangan.

"Freedom!! The most inspiring word of all, the thing worth fighting for till the end"

(Yogyakarta, 19 Oktober 2005)

No comments: