05 August 2005

Tak Ada orang Lemah…

Tuit..tuit..tuit
Sms masuk,

“Kemarin-kemarin, dalam segala hal, dalam segala hal! saya terlalu memaksa diri, bahkan kurang menyanyangi diri, cenderung menjadi hakim yang buruk pada diri sendiri, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan mental dan psikologis. Selalu mengeluh, sering bersedih, dan sering menyalahkan diri. Saat terlalu lelah, saya mulai sadar diri. Perlahan, saya kan coba bangkit secara positif memperbaiki diri. Maaf dan terima kasih telah jadi tempat saya mengadu. Suatu hari akan saya beritahu identitas lelaki lemah ini. Wassalam”

Saya menghela nafas membaca sms panjang ini. Ya, beberapa lama ini saya memang seringkali mendapatkan sms curhat dari nomor yang tidak saya kenal dan kini dia mengaku sebagai “lelaki lemah”
Ada baiknya saya tidak membahas mengenai sms. Tapi, ijinkan saya untuk memberikan sekedar tips agar Anda tidak berpikir bahwa Anda orang yang lemah.
Selalu mengeluh, sering bersedih, dan sering menyalahkan diri
Dalam buku ke-4 saya yang segera akan diterbitkan “100 Kiat Bagaimana Agar Anda Dapat Mencintai Diri Sendiri” saya berbicara banyak mengenai persoalan orang atas konflik dalam dirinya.
Sering menyalahkan diri adalah salah satu kasus yang paling banter. Kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Selalu ditanyakan secara aktif pada diri sendiri. Ujung-ujungnya ketidakpuasan terjadi, semakin terkikisnya rasa syukur, dan akhirnya kita menjadi sering mengeluh lantas panen bersedih.
Mengutip dari ungkapan salah seorang sahabat, Bang Yance Laka, Pr di Philippines. Entah secara sadar atau tidak sadar, setiap kita pernah dalam level kesadaran tertentu terjebak ke arah pemikiran yang sama seperti kedua klient dalam dua contoh kasus yang unik dan ekstrim itu. Keduanya bergulat dengan isu sentral dan mendasar dari seorang anak manusia: menerima diri – mencintai diri apa adanya. Isu yang kedengarannya sederhana dan gampang diatasi namun ternyata banyak anak manusia jaman ini menjadi korban konsep mencintai diri yang keliru.
Tak sedikit orang terperangkap dalam dinamika mencintai diri salah, dengan pemahaman yang keliru. Ujung ujungnya membenci diri sendiri. Ada orang memiskinkan arti mencintai diri hanya sebatas punya wajah cantik dan ganteng. Kalo ia tak cantik atau ganteng maka ia pun seakan tak ada apa apanya lagi. Orang menghabiskan banyak uang dan waktu untuk menjadi cantik dan menarik. Berbagai salon kecantikkan dan rumah sakitpun berlomba menawarkan berbagai produk yang mungkin untuk merombak wajah dan tubuh manusia menjadi lebih putih, lebih halus, lebih bersinar, lebih ini dan lebih itu sesuai kehendak konsumer. Sesudah mendapatkan semuanya itu orang masih tidak puas dengan dirinya juga. Mengapa? alasannya sederhana dan jelas: upayanya cuma sebatas memoles tampang lahiraih. Ada orang lain malah hanyut dalam tindakan tindakan yang lebih ekstrim dan merusak diri, melarikan diri ke minuman keras dan obat obat terlarang hanya karena tidak percaya diri dan tak sanggup mengatasi rasa rendah dirinya secara positif dan membangun atau ia tak sanggup berhadapan dengan realita keterbatasan dirinya sendiri. Orang tidak siap menerima dan mencintai diri apa adanya!
Tak jauh dari ungkapan penerimaan diri atas bentuk fisik yang ia terima sejak lahir, Ia juga terjerembab pada konflik masalah ekstern yang hadir bertubi-tubi. Ketidaksiapan mental membuat Ia semakin menciut. Anda semakin terbebani dengan konsep ‘tidak menerima diri’
Sesungguhnya semua bentuk persoalan diberikan Tuhan disesuaikan dengan kapasitas orang yang menerimanya. Saya yakin tidak ada orang lemah di dunia ini, yang ada hanyalah perbedaan dalam mengatasi suatu persoalan. Lalu, cara penyelesaian persoalan hidup akan dimulai saat Anda mulai berpikir dan bertindak positip atas hidup Anda. Selamat Mencoba!

No comments: