17 July 2005

Pikiran Rakyat, 22 Maret 2005 (suplemen Belia)

Menjadi Orang Lain?
Indari Mastuti

KAYAKNYA sih yang paling tidak diinginkan oleh orang adalah menjadi dirinya sendiri. Kenapa? Tengok deh sekeliling atau yang terdekat adalah teman-teman kita. Bagaimana mereka menginginkan sesuatu dari mereka seperti orang lain. Yang berambut keriting, ramai-ramai di rebonding. Yang berkulit agak gelap, ramai-ramai pake pemutih tapi bule-bule yang putih, ramai-ramai berjemur untuk membuat kulitnya menjadi coklat, dan banyak lagi kasus pengubahan diri menjadi seperti yang diinginkannya, tapi jelas bukan menjadi dirinya sendiri pada saat dia dilahirkan.

Bahkan terkadang kita memaksakan diri untuk menyesuaikan diri dengan pola yang tidak cocok dengan diri kita hanya untuk membuat diri kita merasa sempurna. Tidak peduli sebesar apapun kekaguman kita kepada orang lain, tentunya harus dipahami bahwa kita tidak bisa menjadi seperti orang yang kita kagumi itu. Semakin kita memaksakan diri untuk menjadi dirinya, akan semakin kecewalah hati kita. Misal, kita memotong rambut, ingin seperti Krisdayanti, dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Bukankah kita akan kecewa? Yang lebih buruk lagi adalah kamu akan kehilangan kepercayan diri karena hal itu. Rugi banget kan? Percaya deh, orang yang paling rugi adalah orang yang menginginkan dirinya menjadi orang lain. Phylllis Diller dan mendiang Jimmy Durante mungkin tidak akan menikmati sukses besar yang mereka peroleh seandainya mereka cantik dan tampan. Mereka masing-masing bisa melewatkan waktu meratapi kenyataan bahwa mereka tidak bisa lulus ujian sebagai peraga busana. Tetapi sebaliknya mereka mengubah apa yang kelihatannya merupakan kekurangan menjadi model.

Setiap orang memiliki keunikan. Siapa pun dan di mana pun dia.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal mengasah apa yang dimiliki menjadi sesuatu yang semaksimal mungkin bisa dimanfaatkan ke arah yang positif. Bukan hanya sekadar mengagumi apa yang telah orang lain dapatkan. Walaupun mungkin orang lain unggul pada suatu bidang kehidupan, dia pasti memiliki sisi kekurangan dalam bidang lainnya.
Jika merasa ada kekurangan pada suatu bidang, maka akan ada kelebihan di bidang yang lain. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang. Ralph Waldo Emerson, penulis esai dan penyair Amerika dari abad ke-19, menulis dalam esainya, "Self-Reliance", "Ada saatnya dalam pendidikan setiap orang ketika dia tiba pada keyakinan bahwa ini hati adalah kebodohan; bahwa peniruan adalah bunuh diri; bahwa dia harus mengatasi segala-galanya dalam kesenangan atau kesusahan sesuai dengan bagiannya; bahwa walaupun alam semesta penuh dengan kebaikan, tidak ada sebutir makanan yang bisa datang sendiri kepadanya selain melalui jerih payah dalam mengolah tanah yang dianugerahkan padanya. Kekuatan yang ada pada dirinya merupakan barang baru; dan tidak ada seorang pun kecuali dia sendiri yang tahu apa yang bisa dilakukannya, dan demikian pula dia tidak tahu sebelum mencobanya."

Kalau sering iri hati kepada orang lain karena bakat yang mereka miliki, mungkin kita terlalu rendah memandang diri sendiri. Pertimbangkanlah kata-kata ahli psikologi Amerika yang termashur, William James. "Dibandingkan dengan apa seharusnya diri kita, kita hanya setengah terjaga. Kita menggunakan hanya sebagian kecil dari sumber daya fisik dan mental kita. Individu manusia hidup jauh di dalam batas-batasnya. Dia mempunyai kekuatan berbagai jenis yang biasanya tidak digunakannya."

Namun, sekedar basa basi tidak bisa mengubah diri. Kekuatan kemauan saja tidak efektif secara permanen. Keyakinan yang sesungguhnya tentang diri akan menjelmakan kita menjadi yang terbaik yang diinginkan. Jika kita bisa menjadi yang terbaik dengan apa yang dianugerahkan Tuhan pada kita, mengapa kita harus menjadi orang lain?***

Penulis Novel Remaja ”Izinkan Aku Mencinta”

No comments: