23 February 2017

Mengapa Dewa Eka Prayoga Memutuskan Untuk Menjadi Penulis?



Finally lengkap sudah mentor kelas BISNIS PENULISAN, bakal jadi grup vokal satu emak dan dua bapak muda.  Saya, Indari Mastuti bersama Tendi Murti dan Dewa Eka Prayoga.
Hmm…yang nggak kenal dengan Dewa Eka Prayoga?
Buat yang belum kenal, tulisan ini adalah tulisan Dewa Eka Prayoga, yang saya kutip untuk Anda semua agar kenal atau lebih mengenal sosok beliau.  Silahkan disimak.

Selain membaca, menulis adalah hobi saya.
Tapi tahukah Anda, awalnya Saya tidak tertarik sama sekali dengan dunia kepenulisan...
Buku pertama Saya dikritik habis oleh pakar-pakar kepenulisan. Memang sih, angka penjualannya cukup memuaskan, tapi kritikan mereka membuat Saya berpikir, "Sepertinya Saya tidak punya Bakat menulis"
Satu tahun berlalu, Saya benar-benar berhenti menulis. Malas, tulisannya jelek.

Namun, skenario Allah berkata lain. Ketika itu Saya mengalami kebangkrutan besar. Nggak ada yang bisa Saya lakukan selain mencurahkan isi pikiran Saya dalam sebuah buku, terbitlah "7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula", best seller dalam 1 bulan.

Saya berpikir. Dan terus berpikir.
Mungkin ini jalan hidup Saya. Karena tidak mungkin dua buku Saya tersebut menjadi Best Seller jika Allah tak mengizinkan.
Saya merenung.
Saya mencoba menggali motivasi terkuat kenapa Saya harus rajin menulis dan menuangkannya dalam bentuk buku.
Saya menemukannya.
Dan setelah Saya menemukannya, Saya tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika harus melawan sakit sekalipun.
Inilah alasan Saya:

Pertama, Bermanfaat untuk Banyak Orang.
Saya terus berpikir, "Apa yang harus Saya lakukan agar bisa terus bermanfaat bagi banyak orang sementara Saya bisa diam di rumah bersama anak dan istri tercinta?"
Saya sempat rajin mengisi seminar dimana-mana. Sebulan bisa 8-10x. Tapi Saya menyadari, akan ada akhirnya. Dimana ketika Saya sakit, maka Saya tidak bisa berbagi lagi.
Memuangkannya dalam bentuk buku adalah solusi terbaik. Lalu Saya rajin menulis buku, bahkan 2-3x dalam setahun, hanya karena ingin bermanfaat bagi banyak orang.
Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya?

Kedua, Meninggalkan Jejak di Kehidupan.
Saya takut kematian. Jujur, rasanya dosa yang diperbuat terlalu banyak ketimbang kebaikan yang dilakukan.
Saya terus merenung, "Kalau Saya mati nanti, orang2 merasa kehilangan gak ya?". Atau pertanyaan, "Kalau Saya mati nanti, hal apa yang bisa Saya tinggalkan di muka bumi?"
Saya menemukan jawabannya. Bukulah salah satunya.
Menulis buku akan menjadi jejak yang bisa kita tinggalkan di bumi. Suatu saat, Saya cucu kita ditanya, "Oh, kamu cucunya Pak Dewa ya? Beliau semasa hidupnya menginspirasi banget. Saya banyak belajar dari kisah dan pengalamannya di buku-bukunya".
Ahh... senang sekali rasanya, jika nama kita diingat walaupun kita telah tiada. Bayangkan nama itu Anda.

Ketiga, Meleverage Income dan Kebaikan.
Betul, tidak bisa dipungkiri, selain kebaikan yang ter-leverage (seperti yang Saya jelaskan di poin pertama tadi), menulis buku juga dapat meleverage income Anda.
Saya sudah merasakan. Dan terus merasakannya.
Tak terhitung sudah, income yang Saya terima dari hasil penjualan buku, mungkin 1 milyar lebih. Lupa.

Tentu agar incomenya banyak, jualannya kudu jago. Buku Anda harus best seller, bahkan Mega-Best Seller. Baru hasilnya bisa Anda nikmati dan rasakan.

Tahun ini, di tahun 2017, Saya tak hanya bersemangat untuk menelurkan buku-buku baru, tapi juga ingin membantu kawan2 untuk mampu menulis buku dan menerbitkannya. Apapun genre bukunya, tak harus bisnis, sesuai keahlian dan passion Anda.

Alhamdulillah, setelah berbincang dengan partner Saya di KMO Indonesia, Mas Tendi Murti (Penulis yang sudah melahirkan banyak buku, baik sebagai Writer maupun Ghost Writer), akhirnya kami memutuskan membuka kelas dengan topik: BERBISNIS TULISAN.

Tak hanya kami berdua, kami pun mengajak Teh Indari Mastuti (Penulis yang udah malang melintang di dunia kepenulisan dan menghasilkan banyak karya), yang siap berbagi pengalaman dan strategi memonetize tulisannya agar menjadi pundi-pundi rupiah.

Kelas pertama yang kami bertiga usung terbatas hanya untuk 250 orang dan alhamdulillah langsung terisi dalam waktu yang relative singkat.  Apakah Anda salah satu pesertanya? Jika belum, jangan sampai Anda ketinggalan untuk kelas berikutnya ya.

No comments: