19 June 2011

Resensi LUCKY BACKPACKER

Judul Buku : Lucky Backpaker
Penulis Astri Novia
Cetakan : Cetakan I, Januari 2011
Penerbit : Imania, Depok
Ukuran/Hal : 13 x 20,5 cm/320 hal
Harga : Rp.

Resensi:

Saat membuka plastik pengaman buku rasanya senang sekali, lembaran isi jenis kertas buram membuat berat buku ini enteng di tangan. Selain itu karena warna dasar lembaran redup matapun terasa lebih adem. Dulu beres kuliah awal tahun 2000-an impian saya satu, ingin keluar Bandung dengan melakukan perjalanan menikmati beragam kota seorang diri. Tapi impian itu tidak pernah diwujudkan karena beberapa hal. Lalu kemudian harus merasa cukup beruntung bisa merkunjung ke beberapa kota di Jawa karena terlibat pertunjukan kelompok teater. Kini melakukan perjalanan (travel) dengan modal minim menjadi tren, namanya Backpaker. Traveler mengandalkan biaya minim dan perlengkapan seperlunya namun bisa menikmati perjalanan yang maksimal. Kini beberapa pengalaman para backpaker yang dibukukan, panduan perjalanan dan peta kota menjamur dimana-mana. Cara ini menambah minat para pecinta travel sebagai gaya hidup yang menyenangkan. “Work Hard Play Hard”, begitu kata Andre Beau seorang teman yang dikunjungi dan sekaligus jadi guide dadakan Novia Savitri di Paris.

Rasanya tepat sekali memutuskan judul buku ini “Lucky Backpaker”, karena Novia sangat beruntung memiliki banyak teman di belahan Negara Eropa yang mendukung proses perjalananya lebih menarik. Ketika berencana datang ke berbagai Negara Eropa, dia sudah menghubungi teman-teman di Negara tersebut sebagai tempat berkunjung dan menginap. Alhasil melalui kehangatan teman-teman inilah Novia dapat ditemani diperkenalkan setiap sisi kota, baik makanan, tradisi, nonton festival musik, bangunan tua, sistem fasilitas publik yang nyaman dan beragam lainnya yang menarik untuk dinikmati. Persahabatan antar Negara memperluas sudut pandang hidup kita pada hidup yang beragam. Seperti saat bertemu dengan pasangan Cloe dan Gabriel dimana mereka merasa kikuk pada Novia sebagai orang timur dan muslim karena harus melihat mereka tinggal bersama. Novia mengatakan bahwa perbedaan tidak menghalangi pertemanan, kita ambil yang baiknya saja untuk bisa berjalan berdampingan. .

Isi cerita dituturkan dengan nyaman melalui bahasa dialog dan kita mampu merekam kehangatannya. Setiap paragraph dari isi buku ini banyak informasi, pencerahan dan energi yang ditawarkan. Perjalanan selalu membuka jendela dunia, pertemuan dengan beragam situasi yang baru selalu membuat kita belajar dan mempelajari banyak hal. Bahkan saya cukup sering membaca ulang ke beberapa lembar halaman ke depan agar dipastikan informasi dari cerita tidak ada yang terlewat. Kita sebagai pembaca seperti ikut terlibat dalam perjalanan tersebut. Kota-kota, jalanan, bangunan tua yang terawat, musium yang dikunjungi seolah terhampar didepan mata.

Travel tidak mungkin lepas dari menikmati ragam makanan khas di tempat yang kita kunjungi. Seperti halnya Novia saat menceritakan situasi Belgia yang dingin dan minuman dark chocolate menjadi satu kesatuan yang pas. Lidah terasa ikut merasakan ketika mereka meneguk minuman dark chocolate panas, begitu juga ketika melahap cannellones di Spanyol. Hal yang menarik dari setiap kunjungan, tuan rumah selalu menyiapkan masakan rumah sambil berbagi cerita. Dalam buku ini diselipkan juga oleh-oleh menarik bagi para pembaca yaitu resep makanan khas tiap daerah, bagi yang suka bereksperimen resep ini menarik untuk dicoba. What a wonderful days!

Buku ini wajib dibaca bagi pecinta travel, maupun orang-orang yang ingin mengetahui dunia luar karena memberikan banyak informasi yang menarik. Selain kita bisa mengetahui tempat-tempat yang berbeda dengan negeri kita, kitapun bisa belajar pola hidup disiplin mereka. Disiplin pada tempat naik turun penumpang, jam kerja bahkan disiplin pada jam makan dan banyak lagi. Seperti halnya keramahan dan kedekatan keluarga Lien di Belgia saat menerima Novita, gambaran situasi yang menarik meskipun berbeda dari semua sisi. Perbedaan memang menciptakan keindahan, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Ima. Bandung, 19 Juni 2011

No comments: